3 Negara yang Teguh Tak Akui Taiwan, Salah Satunya Indonesia
Senin, 03 November 2025 - 13:55 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, Beijing juga menjadi mitra utama dalam proyek diversifikasi ekonomi "Vision 2030" Arab Saudi yang dirancang Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Secara strategis, Arab Saudi juga menghindari konflik ideologis. Riyadh tak ingin hubungannya dengan Beijing terganggu hanya karena pengakuan terhadap pulau kecil yang dianggap memisahkan diri.
Bagi Arab Saudi, kepentingan energi dan investasi lebih penting daripada diplomasi simbolik.
Negara ketiga yang jelas-jelas tidak mengakui Taiwan adalah Rusia.
Sikap ini tidak hanya soal kebijakan luar negeri, tapi juga bagian dari rivalitas geopolitik global dengan Amerika Serikat.
Moskow sudah menegaskan dukungan terhadap prinsip "Satu-China" sejak era Uni Soviet.
Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan berulang kali menyebut Taiwan sebagai “bagian sah dari China”, terutama setelah krisis Ukraina mempererat aliansi Rusia–China.
Dalam pernyataan bersama Putin–Xi Jinping tahun 2023, Rusia menyatakan: “Rusia menentang segala bentuk kemerdekaan Taiwan dan campur tangan pihak asing di Laut China Selatan.”
Alasan utama Rusia tidak mengakui Taiwan bersifat strategis. Pertama, Rusia dan China kini berbagi kepentingan dalam melawan dominasi AS dan NATO. Kedua, dukungan terhadap Beijing soal Taiwan menjadi alat diplomasi timbal balik: Rusia mendapat dukungan China dalam isu Ukraina, sementara China mendapat dukungan Rusia dalam isu Taiwan.
Maka, bagi Kremlin, menolak pengakuan Taiwan berarti memperkuat blok anti-Barat.
Secara strategis, Arab Saudi juga menghindari konflik ideologis. Riyadh tak ingin hubungannya dengan Beijing terganggu hanya karena pengakuan terhadap pulau kecil yang dianggap memisahkan diri.
Bagi Arab Saudi, kepentingan energi dan investasi lebih penting daripada diplomasi simbolik.
3. Rusia, Dukungan Total untuk China di Tengah Rivalitas AS
Negara ketiga yang jelas-jelas tidak mengakui Taiwan adalah Rusia.
Sikap ini tidak hanya soal kebijakan luar negeri, tapi juga bagian dari rivalitas geopolitik global dengan Amerika Serikat.
Moskow sudah menegaskan dukungan terhadap prinsip "Satu-China" sejak era Uni Soviet.
Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan berulang kali menyebut Taiwan sebagai “bagian sah dari China”, terutama setelah krisis Ukraina mempererat aliansi Rusia–China.
Dalam pernyataan bersama Putin–Xi Jinping tahun 2023, Rusia menyatakan: “Rusia menentang segala bentuk kemerdekaan Taiwan dan campur tangan pihak asing di Laut China Selatan.”
Alasan utama Rusia tidak mengakui Taiwan bersifat strategis. Pertama, Rusia dan China kini berbagi kepentingan dalam melawan dominasi AS dan NATO. Kedua, dukungan terhadap Beijing soal Taiwan menjadi alat diplomasi timbal balik: Rusia mendapat dukungan China dalam isu Ukraina, sementara China mendapat dukungan Rusia dalam isu Taiwan.
Maka, bagi Kremlin, menolak pengakuan Taiwan berarti memperkuat blok anti-Barat.
(mas)
Lihat Juga :