3 Negara yang Teguh Tak Akui Taiwan, Salah Satunya Indonesia
Senin, 03 November 2025 - 13:55 WIB
loading...
A
A
A
1. Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Jakarta yang berfungsi seperti “kedutaan bayangan” Taiwan.
2. Indonesian Economic and Trade Office (IETO) di Taipei, yang mengurus urusan perdagangan, pendidikan, dan pekerja migran.
Secara ekonomi, hubungan kedua pihak justru berkembang pesat. Nilai perdagangan bilateral 2023 mencapai USD15,7 miliar. Taiwan juga menjadi investor terbesar ke-8 di Indonesia. Selain itu, sekitar 250.000 pekerja migran Indonesia bekerja di Taiwan.
Meski demikian, Indonesia tetap memilih jalan menjaga hubungan ekonomi dengan Taiwan tapi tetap patuh pada garis diplomatik China.
Negara kedua yang tak mengakui Taiwan adalah Kerajaan Arab Saudi.
Hubungan Riyadh dan Beijing semakin erat dalam dua dekade terakhir, terutama setelah masuknya China ke sektor energi Timur Tengah.
Arab Saudi secara resmi mengadopsi kebijakan "Satu-China" sejak 1990.
Dalam pernyataan bersama Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dan Presiden Xi Jinping tahun 2022, Riyadh menegaskan: “Kerajaan Arab Saudi mendukung penuh prinsip 'Satu-China' dan menolak segala bentuk kemerdekaan Taiwan.”
Alasan Arab Saudi tidak mengakui Taiwan jelas, yakni karena faktor ekonomi dan geopolitik.
China diketahui merupakan pembeli minyak terbesar Arab Saudi, mencapai 1,7 juta barel per hari.
2. Indonesian Economic and Trade Office (IETO) di Taipei, yang mengurus urusan perdagangan, pendidikan, dan pekerja migran.
Secara ekonomi, hubungan kedua pihak justru berkembang pesat. Nilai perdagangan bilateral 2023 mencapai USD15,7 miliar. Taiwan juga menjadi investor terbesar ke-8 di Indonesia. Selain itu, sekitar 250.000 pekerja migran Indonesia bekerja di Taiwan.
Meski demikian, Indonesia tetap memilih jalan menjaga hubungan ekonomi dengan Taiwan tapi tetap patuh pada garis diplomatik China.
2. Arab Saudi, Keteguhan Politik demi Ekonomi
Negara kedua yang tak mengakui Taiwan adalah Kerajaan Arab Saudi.
Hubungan Riyadh dan Beijing semakin erat dalam dua dekade terakhir, terutama setelah masuknya China ke sektor energi Timur Tengah.
Arab Saudi secara resmi mengadopsi kebijakan "Satu-China" sejak 1990.
Dalam pernyataan bersama Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dan Presiden Xi Jinping tahun 2022, Riyadh menegaskan: “Kerajaan Arab Saudi mendukung penuh prinsip 'Satu-China' dan menolak segala bentuk kemerdekaan Taiwan.”
Alasan Arab Saudi tidak mengakui Taiwan jelas, yakni karena faktor ekonomi dan geopolitik.
China diketahui merupakan pembeli minyak terbesar Arab Saudi, mencapai 1,7 juta barel per hari.
Lihat Juga :