Sekitar 200 Tentara AS Gabung Pasukan Multinasional Gaza untuk Pantau Gencatan Senjata

Minggu, 12 Oktober 2025 - 11:02 WIB
loading...
Sekitar 200 Tentara...
Warga kembali ke rumah setelah gencatan senjata di Jalur Gaza. Foto/QNN
A A A
GAZA - Sekitar 200 tentara Amerika Serikat (AS) akan bergabung dengan pasukan multinasional yang akan memantau dan membantu pelaksanaan gencatan senjata di Jalur Gaza yang terkepung. Langkah itu diumumkan pejabat AS seiring penerapan kesepakatan yang didorong Presiden AS Donald Trump.

Salah satu pejabat, yang memberikan penjelasan kepada wartawan dengan syarat anonim, menyatakan, "Tidak ada pasukan AS yang akan memasuki Gaza," lapor kantor berita Anadolu.

Lokasi pasti penempatan mereka diperkirakan dibahas pada hari Jumat, demikian menurut laporan tersebut.

Pejabat tersebut mengatakan mereka akan ditugaskan untuk membangun "pusat kendali bersama" terlebih dahulu sebelum bekerja untuk berintegrasi dengan pasukan dari negara lain "untuk meredakan konflik dengan IDF (tentara Israel), dan kemudian membangun struktur pasukan yang tepat yang mampu menangani misi-misi yang telah ditetapkan."

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Bradley Cooper akan "mengawasi, mengamati, memastikan tidak ada pelanggaran, penyerbuan. Semua orang mengkhawatirkan pihak lawan," ungkap pejabat lainnya.

"Sebagian besar dari ini akan menjadi pengawasan," tambahnya.

Keterlibatan Mesir, Qatar, dan Turki


Para pejabat lebih lanjut menyatakan pasukan tersebut akan membentuk inti dari satu gugus tugas, yang diperkirakan akan mencakup perwakilan militer dari Mesir, Qatar, Turki, dan kemungkinan Uni Emirat Arab, menurut laporan di media AS.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan pasukan AS akan berjumlah hingga 200 tentara "yang sudah ditempatkan di CENTCOM."

“Mereka akan ditugaskan untuk memantau perjanjian damai di Israel, dan mereka akan bekerja sama dengan pasukan internasional lainnya di lapangan," ujarnya di X.

Pasukan Stabilisasi


Salah satu pejabat mengatakan AS sedang bekerja sama dengan "beberapa pemerintah" terkait pembentukan apa yang disebut "Pasukan Stabilisasi Internasional," yang akan memanfaatkan pekerjaan yang dilakukan oleh gugus tugas gabungan tersebut dalam persiapan untuk menggantikan pasukan Israel di Gaza di sepanjang apa yang disebut "garis kuning."

Istilah ini telah digunakan untuk merujuk pada wilayah yang diperkirakan akan ditarik pasukan Israel pada awalnya berdasarkan rencana Presiden Donald Trump, demikian menurut laporan Anadolu.

"Kemudian akan ada diskusi, dan kemudian kita akan melihat apakah memang ada jalur yang tepat untuk, saya pikir kita menggunakan penonaktifan instalasi militer di Gaza dan persenjataan berat untuk mewujudkannya," ujar salah satu pejabat.

"Jadi itulah yang sedang kami kerjakan saat ini, tetapi saya pikir akan ada lebih banyak lagi yang muncul seiring waktu. Saya pikir saat ini, kami hanya fokus untuk memastikan setiap celah dalam perjanjian tersebut ditambal," tambah pejabat itu.

Fase Pertama Gencatan Senjata


Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa Israel dan Hamas menyetujui fase pertama dari rencana 20 poin yang ia susun pada 29 September untuk membawa gencatan senjata ke Gaza, membebaskan semua tawanan Israel yang ditahan di sana dengan imbalan sekitar 2.000 tahanan Palestina, dan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari seluruh Jalur Gaza.

Tahap kedua dari rencana tersebut menyerukan pembentukan mekanisme pemerintahan baru di Gaza tanpa partisipasi Hamas, pembentukan pasukan keamanan yang terdiri dari warga Palestina dan pasukan dari negara-negara Arab dan Islam, serta pelucutan senjata Hamas.

Rencana tersebut juga menetapkan pendanaan dari negara-negara Arab dan Islam untuk pemerintahan baru dan rekonstruksi Jalur Gaza, dengan partisipasi terbatas dari Otoritas Palestina.

Negara-negara Arab dan Muslim sebagian besar menyambut baik rencana tersebut, tetapi beberapa pejabat juga mengatakan banyak detail di dalamnya perlu didiskusikan dan dinegosiasikan agar dapat diimplementasikan sepenuhnya.

Penarikan Pasukan


Utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengumumkan pada hari Jumat bahwa pasukan pendudukan Israel telah menyelesaikan penarikan pasukan dari Gaza ke garis kuning, sebagaimana tercantum dalam perjanjian gencatan senjata.

“CENTCOM telah mengonfirmasi Pasukan Pertahanan Israel telah menyelesaikan penarikan pasukan tahap pertama ke garis kuning pada pukul 12 siang waktu setempat,” ujarnya di X.

“Periode 72 jam untuk membebaskan para sandera telah dimulai.”

Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan pada hari Jumat bahwa 17 warga Palestina tewas dan 71 lainnya luka-luka akibat agresi Israel di wilayah tersebut dalam 24 jam terakhir.

Kementerian tersebut menyatakan, "Sejumlah korban masih tertimbun reruntuhan dan berada di jalan-jalan, karena ambulans dan kru pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka."

Total korban tewas telah meningkat menjadi 67.211 dengan 169.961 korban luka-luka sejak 7 Oktober 2023.

Baca juga: Pertempuran Sengit Pecah antara Pakistan dan Afghanistan
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
Terungkap! Pesawat Hantam...
Terungkap! Pesawat Hantam Gedung di China Sebelumnya Nyaris Tabrak Pesawat Airbus A330
Rekomendasi
Prabowo: Kita Butuh...
Prabowo: Kita Butuh Kritik untuk Perbaiki Diri
Gerindra: Komunikasi...
Gerindra: Komunikasi Prabowo dengan Jokowi Baik-Baik Aja
Sah, 4 Marketplace Ini...
Sah, 4 Marketplace Ini Resmi Pungut Pajak PPh 22
Berita Terkini
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Rakyat UEA Menikmati Jaringan Kereta Api
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Iran Bersiap Berperang...
Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Infografis
Keinginan Ukraina untuk...
Keinginan Ukraina untuk Memiliki Senjata Nuklir Ditolak AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved