China Perluas Eksplorasi Tambang Dalam Bumi, Dunia Soroti Dampak Ekologisnya
Senin, 06 Oktober 2025 - 12:41 WIB
loading...
A
A
A
Namun semakin dalam eksplorasi dilakukan, risikonya kian besar. Sistem ini menenggelamkan sinyal elektromagnetik alami, mengganggu ekosistem bawah tanah, dan berpotensi mengacaukan formasi geologi.
Dampaknya tidak hanya berupa gangguan elektromagnetik. Operasi pertambangan yang mengikuti penemuan ini sering menggunakan teknik invasif seperti in-situ leaching, yang menyuntikkan bahan kimia ke dalam bumi untuk mengekstraksi mineral.
Di Provinsi Jiangxi bagian selatan, metode ini telah menyebabkan kerusakan ekologi, tingkat pemulihan rendah, dan bencana geologi sekunder.
Skala kehancuran sulit diukur, tetapi tanda-tandanya jelas terlihat. Limbah beracun, produk sampingan radioaktif, dan pencemaran air tanah kini menjadi hal lazim dalam penambangan unsur tanah jarang. Meski pemerintah mengeklaim adanya “pembangunan hijau", kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berlawanan.
Baca Juga: Kebocoran 100.000 Dokumen Ungkap Ekspor Sistem Sensor Internet China
Di pusat “perang mineral” ini berdiri Partai Komunis China (CCP), yang mengoordinasikan upaya nasional besar-besaran untuk menguasai rantai pasok global. Melalui lembaga-lembaga yang didukung negara seperti China Geological Survey dan pusat riset CRIMM, CCP mengerahkan sumber daya, talenta, dan teknologi untuk mengamankan mineral strategis dengan segala cara.
Pendekatan partai ini bersifat sangat utilitarian. Isu lingkungan dianggap hanya menjadi prioritas kedua setelah ambisi geopolitik. Persetujuan Environmental Impact Statement pertama China untuk penambangan laut dalam oleh International Seabed Authority menegaskan hal tersebut. Meski dokumen itu memenuhi standar internasional, langkah ini juga menunjukkan niat China untuk memperluas jangkauan hingga dasar laut—sebuah ekosistem rapuh lain yang kini terancam.
Dampaknya tidak hanya berupa gangguan elektromagnetik. Operasi pertambangan yang mengikuti penemuan ini sering menggunakan teknik invasif seperti in-situ leaching, yang menyuntikkan bahan kimia ke dalam bumi untuk mengekstraksi mineral.
Di Provinsi Jiangxi bagian selatan, metode ini telah menyebabkan kerusakan ekologi, tingkat pemulihan rendah, dan bencana geologi sekunder.
Prioritas Kedua
Skala kehancuran sulit diukur, tetapi tanda-tandanya jelas terlihat. Limbah beracun, produk sampingan radioaktif, dan pencemaran air tanah kini menjadi hal lazim dalam penambangan unsur tanah jarang. Meski pemerintah mengeklaim adanya “pembangunan hijau", kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berlawanan.
Baca Juga: Kebocoran 100.000 Dokumen Ungkap Ekspor Sistem Sensor Internet China
Di pusat “perang mineral” ini berdiri Partai Komunis China (CCP), yang mengoordinasikan upaya nasional besar-besaran untuk menguasai rantai pasok global. Melalui lembaga-lembaga yang didukung negara seperti China Geological Survey dan pusat riset CRIMM, CCP mengerahkan sumber daya, talenta, dan teknologi untuk mengamankan mineral strategis dengan segala cara.
Pendekatan partai ini bersifat sangat utilitarian. Isu lingkungan dianggap hanya menjadi prioritas kedua setelah ambisi geopolitik. Persetujuan Environmental Impact Statement pertama China untuk penambangan laut dalam oleh International Seabed Authority menegaskan hal tersebut. Meski dokumen itu memenuhi standar internasional, langkah ini juga menunjukkan niat China untuk memperluas jangkauan hingga dasar laut—sebuah ekosistem rapuh lain yang kini terancam.
Lihat Juga :