China Hukum Mati 11 Anggota Keluarga Mafia Terkenal: Raup Rp23 Triliun dari Bisnis Kriminal

Kamis, 02 Oktober 2025 - 11:51 WIB
loading...
China Hukum Mati 11...
Pengadilan China jatuhkan hukuman mati kepada 11 anggota keluarga mafia terkenal. Keluarga ini telah hasilkan Rp23 triliun dari bisnis kriminal di Myanmar. Foto/CCTV
A A A
BEIJING - Pengadilan China telah menjatuhkan hukuman mati kepada 11 anggota keluarga mafia terkenal. Keluarga tersebut telah mengelola pusat-pusat bisnis penipuan di Myanmar.

Menurut laporan media pemerintah China, puluhan anggota keluarga Ming dinyatakan bersalah melakukan kegiatan kriminal, dan banyak di antaranya menerima hukuman penjara yang panjang.

Keluarga Ming bekerja untuk salah satu dari empat klan yang mengelola kota terpencil Laukkaing di Myanmar, dekat perbatasan dengan China, dan mengubahnya menjadi pusat perjudian, narkoba, dan pusat-pusat penipuan.

Myanmar akhirnya menindak tegas, menangkap banyak anggota keluarga ini pada tahun 2023 dan menyerahkan mereka kepada otoritas China.

Baca Juga: Istri Bos Mafia Tewas saat Berselingkuh, 40 Gangster Buru Anggota Nakal

Total sebanyak 39 anggota keluarga Ming dijatuhi hukuman pada hari Senin oleh pengadilan di kota Wenzhou, menurut laporan stasiun stasiun televisi pemerintah China; CCTV.

Dari 39 orang itu, 11 di antaranya dijatuhi hukuman mati, lima lainnya dijatuhi hukuman mati dengan masa percobaan dua tahun; 11 orang dipenjara seumur hidup; dan sisanya dijatuhi hukuman penjara mulai dari lima hingga 24 tahun.

Pengadilan menemukan bahwa sejak tahun 2015, keluarga Ming dan kelompok kriminal lainnya telah terlibat dalam kegiatan kriminal termasuk penipuan telekomunikasi, kasino ilegal, perdagangan narkoba, dan prostitusi.

Menurut pengadilan, aktivitas perjudian dan penipuan mereka telah menghasilkan lebih dari 10 miliar yuan (Rp23 triliun).

Sebelumnya, pihak lain memperkirakan bahwa kasino dari masing-masing keempat keluarga tersebut memproses beberapa miliar dolar setiap tahun.

Pengadilan juga memutuskan bahwa keluarga Ming dan kelompok kriminal lainnya bertanggung jawab atas kematian beberapa pekerja pusat penipuan, termasuk penembakan pekerja dalam satu insiden untuk mencegah mereka kembali ke China.

Kejatuhan Mafia China di Kota Kasino yang Tak Berhukum


Awalnya dikembangkan untuk memanfaatkan permintaan perjudian dari China, yang ilegal di China dan banyak negara tetangga lainnya, kasino-kasino Laukkaing berkembang menjadi kedok yang menguntungkan bagi pencucian uang, perdagangan manusia, dan puluhan pusat penipuan.

Kasino-kasino ini dianggap sebagai mesin dari apa yang disebut PBB sebagai "scamdemic", yang telah menyebabkan lebih dari 100.000 warga negara asing, banyak di antaranya warga China, dipancing ke pusat-pusat penipuan di mana mereka secara efektif dipenjara dan dipaksa bekerja berjam-jam, menjalankan operasi penipuan daring yang canggih yang menargetkan korban di seluruh dunia.

Keluarga Ming dulunya merupakan salah satu yang paling berkuasa di Negara Bagian Shan, Myanmar, dan mengelola pusat-pusat penipuan di Laukkaing yang menampung setidaknya 10.000 pekerja. Yang paling terkenal adalah kompleks yang dikenal sebagai Crouching Tiger Villa, tempat para pekerja secara rutin dipukuli dan disiksa.

Kemudian, dua tahun lalu, aliansi kelompok pemberontak melancarkan serangan yang mengusir militer Myanmar dari sebagian besar wilayah Negara Bagian Shan, dan menguasai Laukkaing. China, yang memiliki pengaruh signifikan atas kelompok-kelompok ini, dianggap telah memberikan lampu hijau untuk serangan tersebut.

Ming Xuechang, kepala keluarga, dilaporkan bunuh diri; anggota keluarga lainnya diserahkan kepada otoritas China. Beberapa orang telah membuat pengakuan penuh penyesalan.

Ribuan orang yang bekerja di pusat-pusat penipuan juga telah diserahkan kepada polisi China.

Mengutip laporan BBC, Kamis (2/10/2025), dengan vonis ini, China mengisyaratkan tekadnya untuk menindak tegas bisnis penipuan di perbatasannya. Tekanan dari Beijing juga memaksa Thailand untuk mengambil tindakan terhadap pusat-pusat penipuan di sepanjang perbatasannya dengan Myanmar awal tahun ini.

Meskipun demikian, bisnis tersebut telah beradaptasi, dengan sebagian besar kini beroperasi di Kamboja, meskipun masih marak di Myanmar.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Komentar Judi Online...
Komentar Judi Online Dinilai Bukan Sekadar Promosi, Pakar: Tapi Upaya Provokasi Sistematis
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Daftar Poin Perjanjian...
Daftar Poin Perjanjian yang Dituntut Iran ke AS, Penarikan Pasukan Israel hingga Selat Hormuz
Rekomendasi
Harry Kane Cetak Brace,...
Harry Kane Cetak Brace, Inggris Singkirkan DR Kongo
Nobu Bank Hadirkan Soundbox...
Nobu Bank Hadirkan Soundbox QRIS Gratis dan MDR 0% bagi Pedagang Pasar Sukawati
PN Jaktim Tutup Area...
PN Jaktim Tutup Area Parkir Jelang Sidang Perdana Dokter Tifa Besok
Berita Terkini
Siapa Vadym Yermolaiev?...
Siapa Vadym Yermolaiev? Taipan Ukraina yang Terluka dalam Ledakan di Monako
Italia Blokir Bantuan...
Italia Blokir Bantuan Militer NATO kepada Ukraina Senilai Rp1.436 Triliun, Sinyal Kemenangan bagi Rusia?
Kurangi Ketergantungan...
Kurangi Ketergantungan Eropa dari AS, Mampukah Turki Ingin Memperkuat NATO 3.0?
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Infografis
PTDI Kantongi Rp1,2...
PTDI Kantongi Rp1,2 Triliun dari Jual 11 Unit Pesawat N219
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved