Trump Bilang Penghinaan Besar bagi AS Jika Dia Tak Menerima Hadiah Nobel Perdamaian
Kamis, 02 Oktober 2025 - 08:26 WIB
loading...
Presiden Donald Trump menyatakan akan jadi penghinaan besar bagi Amerika Serikat jika dia tak menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Foto/Gedung Putih
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan menjadi penghinaan bagi Amerika jika dia tidak menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Alasannya, pihaknya sudah membantu mengakhiri tujuh konflik global.
Pemimpin Amerika itu berharap pertempuran antara Israel dan Hamas di Gaza akan berakhir dengan rencana perdamaian 20 poinnya yang telah disetujui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Senin. Menurut Trump, jika perang Gaza berakhir maka itu menjadi konflik kedelepan yang dia selesaikan.
"Jika ini berhasil, kita akan memiliki delapan, delapan dalam delapan bulan. Itu cukup bagus," kata Trump dalam pidatonya di hadapan puluhan jenderal dan laksamana senior di Quantico, Virginia, Selasa lalu.
Baca Juga: Sudah Mengebom Iran, Patutkah Trump Meraih Hadiah Nobel Perdamaian?
Trump telah mengeklaim telah mengakhiri konflik antara Kamboja dan Thailand, Kosovo dan Serbia, Kongo dan Rwanda, Israel dan Iran, Mesir dan Ethiopia, Armenia dan Azerbaijan, serta antara Pakistan dan India.
"Tidak ada yang pernah melakukan itu. Apakah Anda akan mendapatkan Hadiah Nobel? Tentu saja tidak," paparnya.
"Mereka akan memberikannya kepada orang yang tidak melakukan apa pun. Mereka akan memberikannya kepada orang yang menulis buku tentang pemikiran Donald Trump dan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan perang," lanjut Trump.
"Hadiah Nobel akan diberikan kepada seorang penulis," imbuh Trump, yang dilansir The Hill, Kamis (2/10/2025).
Presiden Trump menambahkan, "Tidak, tapi mari kita lihat apa yang terjadi, tetapi itu akan menjadi penghinaan besar bagi negara kita. Saya katakan itu. Saya tidak menginginkannya. Saya ingin negara ini mendapatkannya. Dan negara ini harus mendapatkannya karena belum pernah ada yang seperti itu."
Qatar dan Mesir menyerahkan proposal perdamaian Trump kepada Hamas untuk dipertimbangkan, dan meskipun Netanyahu mengatakan dia mendukung proposal itu, dia berjanji untuk "menyelesaikan" penghancuran Hamas jika Hamas gagal menyetujui persyaratannya.
Trump akan memimpin "dewan perdamaian" internasional untuk mengatur dan membangun kembali Jalur Gaza sebagai bagian dari rencana tersebut.
Selain itu, para menteri luar negeri Pakistan, Indonesia, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Turki, Arab Saudi, dan Qatar mendukung rencana tersebut tetapi mengakui bahwa kesepakatan tersebut masih dalam proses.
Trump telah mengumpulkan dukungan global dalam upayanya meraih Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi mengakhiri perang di Gaza dan perang di Ukraina merupakan ujian diplomatik utama baginya.
Sejauh ini, dia telah mengumpulkan nominasi dari Pakistan, Kamboja, Israel, dan anggota Parlemen AS dari Partai Republik, seraya dia menggembar-gemborkan perannya dalam perundingan untuk mengakhiri berbagai konflik global.
Gedung Putih secara terbuka menyatakan bahwa sudah waktunya Trump mendapatkan hadiah tersebut, sementara mereka terus mendesaknya menjelang keputusan Komite Nobel Norwegia pada bulan Desember.
Pemimpin Amerika itu berharap pertempuran antara Israel dan Hamas di Gaza akan berakhir dengan rencana perdamaian 20 poinnya yang telah disetujui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Senin. Menurut Trump, jika perang Gaza berakhir maka itu menjadi konflik kedelepan yang dia selesaikan.
"Jika ini berhasil, kita akan memiliki delapan, delapan dalam delapan bulan. Itu cukup bagus," kata Trump dalam pidatonya di hadapan puluhan jenderal dan laksamana senior di Quantico, Virginia, Selasa lalu.
Baca Juga: Sudah Mengebom Iran, Patutkah Trump Meraih Hadiah Nobel Perdamaian?
Trump telah mengeklaim telah mengakhiri konflik antara Kamboja dan Thailand, Kosovo dan Serbia, Kongo dan Rwanda, Israel dan Iran, Mesir dan Ethiopia, Armenia dan Azerbaijan, serta antara Pakistan dan India.
"Tidak ada yang pernah melakukan itu. Apakah Anda akan mendapatkan Hadiah Nobel? Tentu saja tidak," paparnya.
"Mereka akan memberikannya kepada orang yang tidak melakukan apa pun. Mereka akan memberikannya kepada orang yang menulis buku tentang pemikiran Donald Trump dan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan perang," lanjut Trump.
"Hadiah Nobel akan diberikan kepada seorang penulis," imbuh Trump, yang dilansir The Hill, Kamis (2/10/2025).
Presiden Trump menambahkan, "Tidak, tapi mari kita lihat apa yang terjadi, tetapi itu akan menjadi penghinaan besar bagi negara kita. Saya katakan itu. Saya tidak menginginkannya. Saya ingin negara ini mendapatkannya. Dan negara ini harus mendapatkannya karena belum pernah ada yang seperti itu."
Qatar dan Mesir menyerahkan proposal perdamaian Trump kepada Hamas untuk dipertimbangkan, dan meskipun Netanyahu mengatakan dia mendukung proposal itu, dia berjanji untuk "menyelesaikan" penghancuran Hamas jika Hamas gagal menyetujui persyaratannya.
Trump akan memimpin "dewan perdamaian" internasional untuk mengatur dan membangun kembali Jalur Gaza sebagai bagian dari rencana tersebut.
Selain itu, para menteri luar negeri Pakistan, Indonesia, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Turki, Arab Saudi, dan Qatar mendukung rencana tersebut tetapi mengakui bahwa kesepakatan tersebut masih dalam proses.
Trump telah mengumpulkan dukungan global dalam upayanya meraih Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi mengakhiri perang di Gaza dan perang di Ukraina merupakan ujian diplomatik utama baginya.
Sejauh ini, dia telah mengumpulkan nominasi dari Pakistan, Kamboja, Israel, dan anggota Parlemen AS dari Partai Republik, seraya dia menggembar-gemborkan perannya dalam perundingan untuk mengakhiri berbagai konflik global.
Gedung Putih secara terbuka menyatakan bahwa sudah waktunya Trump mendapatkan hadiah tersebut, sementara mereka terus mendesaknya menjelang keputusan Komite Nobel Norwegia pada bulan Desember.
(mas)
Lihat Juga :