Momen Bersejarah, Presiden Brasil Cium Kepala Presiden Kolombia setelah Sebut Israel Nazi Baru di PBB
Jum'at, 26 September 2025 - 17:54 WIB
loading...
Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, mencium kepala Presiden Kolombia, Gustavo Petro. Foto/roya news
A
A
A
NEW YORK - Momen bersejarah dan belum pernah terjadi sebelumnya terjadi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, mencium kepala Presiden Kolombia, Gustavo Petro, setelah pidatonya di Majelis Umum.
Dalam pidatonya, Presiden Kolombia, Petro, menyampaikan pernyataan tegas terkait konflik di Gaza, menyebut 'Israel' sebagai "Nazi" dan menyerukan pembentukan pasukan militer internasional yang terdiri dari negara-negara Asia untuk membebaskan Palestina.
Ia juga memerintahkan agar tidak ada kapal yang membawa senjata ke 'Israel' diizinkan lewat.
Sikap Lula secara luas dipandang sebagai perwujudan solidaritas dan dukungan yang luar biasa terhadap pernyataan pemimpin Kolombia tersebut, yang menarik perhatian signifikan dari media internasional dan delegasi di PBB.
Pernyataan Presiden Petro, yang merupakan bagian dari pembelaannya yang terus terang dan berkelanjutan terhadap Palestina, telah menuai kecaman tajam dari Amerika Serikat dan kelompok-kelompok advokasi Yahudi.
Dalam pidatonya, Presiden Petro berulang kali mengecam tindakan 'Israel' sebagai "genosida" dan membangkitkan citra Holocaust, dengan menyatakan "tampaknya (menteri propaganda Nazi Joseph) Goebbels adalah orang yang mengarahkan komunikasi dunia" terkait konflik tersebut.
Ia menegaskan tindakan paling anti-Semit saat ini adalah "mengulangi holocaust Hitler terhadap kemanusiaan dan khususnya terhadap rakyat Palestina," perbandingan yang telah ia gunakan berkali-kali sejak konflik dimulai pada Oktober 2023.
Retorika kuat Presiden Petro didukung perubahan kebijakan resmi yang secara langsung memengaruhi hubungan diplomatik, yakni penghentian eskpor senjata oleh Israel.
Pada Oktober 2023, 'Israel' mengumumkan penghentian ekspor keamanan ke Kolombia setelah Petro awalnya membandingkan menteri pertahanan 'Israel' dengan Nazi.
Pada bulan Februari, Kolombia melangkah lebih jauh dengan menangguhkan pembelian senjata 'Israel', langkah signifikan mengingat 'Israel' secara historis merupakan salah satu pemasok utama peralatan militer Kolombia.
Memutus hubungan diplomatik. Pada bulan Mei 2024, Presiden Petro mengumumkan rencana memutuskan hubungan diplomatik dengan 'Israel', dengan menyatakan ia akan melakukannya "karena (Israel) memiliki pemerintahan, karena memiliki presiden yang melakukan genosida."
Kolombia adalah salah satu dari sedikit negara Amerika Latin yang telah mengambil langkah definitif tersebut.
Tindakan di pengadilan internasional. Kolombia telah secara resmi meminta untuk bergabung dalam kasus di Mahkamah Internasional (ICJ) yang menuduh 'Israel' melakukan genosida, dan Kolombia berpihak pada Afrika Selatan.
Baca juga: Trump Tawarkan 21 Poin untuk Akhiri Genosida Secara Permanen, Cabut Rencana Gaza Riviera
Dalam pidatonya, Presiden Kolombia, Petro, menyampaikan pernyataan tegas terkait konflik di Gaza, menyebut 'Israel' sebagai "Nazi" dan menyerukan pembentukan pasukan militer internasional yang terdiri dari negara-negara Asia untuk membebaskan Palestina.
Ia juga memerintahkan agar tidak ada kapal yang membawa senjata ke 'Israel' diizinkan lewat.
Sikap Lula secara luas dipandang sebagai perwujudan solidaritas dan dukungan yang luar biasa terhadap pernyataan pemimpin Kolombia tersebut, yang menarik perhatian signifikan dari media internasional dan delegasi di PBB.
Pernyataan Presiden Petro, yang merupakan bagian dari pembelaannya yang terus terang dan berkelanjutan terhadap Palestina, telah menuai kecaman tajam dari Amerika Serikat dan kelompok-kelompok advokasi Yahudi.
Dalam pidatonya, Presiden Petro berulang kali mengecam tindakan 'Israel' sebagai "genosida" dan membangkitkan citra Holocaust, dengan menyatakan "tampaknya (menteri propaganda Nazi Joseph) Goebbels adalah orang yang mengarahkan komunikasi dunia" terkait konflik tersebut.
Ia menegaskan tindakan paling anti-Semit saat ini adalah "mengulangi holocaust Hitler terhadap kemanusiaan dan khususnya terhadap rakyat Palestina," perbandingan yang telah ia gunakan berkali-kali sejak konflik dimulai pada Oktober 2023.
Kebijakan dan Dampak Diplomatik
Retorika kuat Presiden Petro didukung perubahan kebijakan resmi yang secara langsung memengaruhi hubungan diplomatik, yakni penghentian eskpor senjata oleh Israel.
Pada Oktober 2023, 'Israel' mengumumkan penghentian ekspor keamanan ke Kolombia setelah Petro awalnya membandingkan menteri pertahanan 'Israel' dengan Nazi.
Pada bulan Februari, Kolombia melangkah lebih jauh dengan menangguhkan pembelian senjata 'Israel', langkah signifikan mengingat 'Israel' secara historis merupakan salah satu pemasok utama peralatan militer Kolombia.
Memutus hubungan diplomatik. Pada bulan Mei 2024, Presiden Petro mengumumkan rencana memutuskan hubungan diplomatik dengan 'Israel', dengan menyatakan ia akan melakukannya "karena (Israel) memiliki pemerintahan, karena memiliki presiden yang melakukan genosida."
Kolombia adalah salah satu dari sedikit negara Amerika Latin yang telah mengambil langkah definitif tersebut.
Tindakan di pengadilan internasional. Kolombia telah secara resmi meminta untuk bergabung dalam kasus di Mahkamah Internasional (ICJ) yang menuduh 'Israel' melakukan genosida, dan Kolombia berpihak pada Afrika Selatan.
Baca juga: Trump Tawarkan 21 Poin untuk Akhiri Genosida Secara Permanen, Cabut Rencana Gaza Riviera
(sya)
Lihat Juga :