3 Sosok Arsitek Masjidilharam dan Masjid Nabawi, Salah Satunya Menolak Dibayar
Jum'at, 19 September 2025 - 15:09 WIB
loading...
A
A
A
Ismail memimpin desain perluasan besar yang menambah area tawaf (mataf), shaf, dan fasilitas penunjang tanpa merusak keaslian Kakbah dan bangunan bersejarah di sekitarnya.
Sedangkan di proyek Masjid Nabawi, Ismail merancang perluasan harmonis yang mengintegrasikan kubah hijau bersejarah dengan ruang salat modern yang luas. Karya ini juga memperkenalkan sistem mekanik modern, seperti pendingin udara terintegrasi, namun tetap mempertahankan kesakralan.
Salah satu kisah paling terkenal adalah keputusannya menolak menerima bayaran dari proyek perluasan dua masjid suci.
Bagi Ismail, kehormatan bisa mengabdi untuk Baitullah dan Masjid Rasulullah lebih berharga daripada harta. Sikap ini membuatnya dikenang sebagai arsitek dengan integritas spiritual yang tinggi.
Sheikh Mohamed Kamal Ismail wafat pada 2008 di Mesir. Namanya tidak selalu populer di media, tetapi bagi kalangan arsitek dan sejarawan Islam, dia adalah figur monumental. Karyanya masih hidup dalam setiap langkah jutaan jamaah yang menunaikan ibadah haji dan umrah.
Sejak berdiri pada 1956 di Beirut, perusahaan ini berkembang menjadi salah satu konsultan arsitektur dan teknik terbesar di dunia Arab, dengan portofolio yang mencakup proyek infrastruktur, bandara, jembatan, hingga bangunan ikonik keagamaan.
Didirikan oleh empat insinyur muda Lebanon—Kamal Shair, Nazih Taleb, Suheil Sami Khalaf, dan Khalil Chartouni—Dar Al-Handasah awalnya fokus pada proyek infrastruktur di Timur Tengah yang sedang tumbuh pesat pasca-kolonial.
Reputasinya menanjak berkat kualitas desain dan kemampuan memadukan teknologi Barat dengan kebutuhan lokal. Pada 1970-an, firma ini mulai menembus pasar internasional, termasuk Afrika, Asia, dan Eropa.
Kini, Dar Al-Handasah memiliki lebih dari 45 kantor di berbagai negara, dengan markas besar di Beirut, Kairo, London, Pune, dan Amman. Mereka dikenal sebagai salah satu konsultan teknik terbesar dunia dengan puluhan ribu karyawan lintas disiplin.
Proyek perluasan Masjidilharam dan Masjid Nabawi pada era Raja Fahd (1980-an) hingga Raja Abdullah (2000-an) menandai puncak keterlibatan Dar Al-Handasah dalam proyek keagamaan. Firma ini dipercaya sebagai konsultan utama, bekerja sama dengan kontraktor besar seperti Saudi Binladin Group.
Dalam proyek Masjidilharam, Dar Al-Handasah bertugas menyusun masterplan perluasan, termasuk desain bangunan baru, area tawaf yang lebih luas, sistem pendingin udara raksasa, serta jaringan transportasi internal.
Sedangkan di proyek Masjid Nabawi, Ismail merancang perluasan harmonis yang mengintegrasikan kubah hijau bersejarah dengan ruang salat modern yang luas. Karya ini juga memperkenalkan sistem mekanik modern, seperti pendingin udara terintegrasi, namun tetap mempertahankan kesakralan.
Salah satu kisah paling terkenal adalah keputusannya menolak menerima bayaran dari proyek perluasan dua masjid suci.
Bagi Ismail, kehormatan bisa mengabdi untuk Baitullah dan Masjid Rasulullah lebih berharga daripada harta. Sikap ini membuatnya dikenang sebagai arsitek dengan integritas spiritual yang tinggi.
Sheikh Mohamed Kamal Ismail wafat pada 2008 di Mesir. Namanya tidak selalu populer di media, tetapi bagi kalangan arsitek dan sejarawan Islam, dia adalah figur monumental. Karyanya masih hidup dalam setiap langkah jutaan jamaah yang menunaikan ibadah haji dan umrah.
2. Dar Al-Handasah, Berperan dalam Kemegahan 2 Masjid Suci
Ketika umat Islam dari seluruh dunia menyaksikan kemegahan Masjidilharam di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, sedikit yang mengetahui bahwa di balik desain modern dan tata ruangnya terdapat jejak sebuah firma arsitektur asal Lebanon: Dar Al-Handasah (Shair and Partners).Sejak berdiri pada 1956 di Beirut, perusahaan ini berkembang menjadi salah satu konsultan arsitektur dan teknik terbesar di dunia Arab, dengan portofolio yang mencakup proyek infrastruktur, bandara, jembatan, hingga bangunan ikonik keagamaan.
Didirikan oleh empat insinyur muda Lebanon—Kamal Shair, Nazih Taleb, Suheil Sami Khalaf, dan Khalil Chartouni—Dar Al-Handasah awalnya fokus pada proyek infrastruktur di Timur Tengah yang sedang tumbuh pesat pasca-kolonial.
Reputasinya menanjak berkat kualitas desain dan kemampuan memadukan teknologi Barat dengan kebutuhan lokal. Pada 1970-an, firma ini mulai menembus pasar internasional, termasuk Afrika, Asia, dan Eropa.
Kini, Dar Al-Handasah memiliki lebih dari 45 kantor di berbagai negara, dengan markas besar di Beirut, Kairo, London, Pune, dan Amman. Mereka dikenal sebagai salah satu konsultan teknik terbesar dunia dengan puluhan ribu karyawan lintas disiplin.
Proyek perluasan Masjidilharam dan Masjid Nabawi pada era Raja Fahd (1980-an) hingga Raja Abdullah (2000-an) menandai puncak keterlibatan Dar Al-Handasah dalam proyek keagamaan. Firma ini dipercaya sebagai konsultan utama, bekerja sama dengan kontraktor besar seperti Saudi Binladin Group.
Dalam proyek Masjidilharam, Dar Al-Handasah bertugas menyusun masterplan perluasan, termasuk desain bangunan baru, area tawaf yang lebih luas, sistem pendingin udara raksasa, serta jaringan transportasi internal.
Lihat Juga :