Pejabat Mesir Sebut Netanyahu Delusi, Menentangnya untuk Batalkan Kesepakatan Gas
Jum'at, 05 September 2025 - 15:32 WIB
loading...
Kepala Layanan Informasi Negara (SIS) Mesir Diaa Rashwan. Foto/youtube
A
A
A
KAIRO - Pejabat Mesir Diaa Rashwan menyebut Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu "delusi", menantangnya untuk membatalkan perjanjian gas antara Mesir dan Israel. Kabar itu dilaporkan Anadolu.
"Netanyahu tidak sanggup menanggung konsekuensi ekonomi dan politik dari pembatalan kesepakatan gas tersebut,” ungkap Diaa Rashwan, kepala Layanan Informasi Negara (SIS), dalam pernyataan yang disiarkan televisi.
"(Netanyahu) memandang Mesir sebagai hambatan bagi impiannya untuk mewujudkan Israel Raya dan bahaya baginya, duri dalam dagingnya, terutama karena Kairo adalah garis pertahanan pertama melawan penggusuran warga Palestina," tegas dia.
Komentarnya menyusul laporan media Israel yang menyatakan Netanyahu sedang mempertimbangkan untuk menangguhkan kesepakatan pasokan gas ke Mesir.
Harian Israel Hayom melaporkan pada hari Selasa bahwa, “Netanyahu menginstruksikan para pejabat untuk tidak melanjutkan kesepakatan gas besar-besaran dengan Mesir tanpa persetujuan pribadinya."
Surat kabar tersebut mengatakan, “Netanyahu sedang berdiskusi dengan Menteri Energi Israel Eli Cohen apakah akan melanjutkan perjanjian tersebut, dan bagaimana cara melakukannya, sebelum membuat keputusan akhir.”
Bulan lalu, Netanyahu telah menyatakan ia "sangat berkomitmen pada visi Israel Raya," yang, menurut klaim Israel, mencakup wilayah Palestina yang diduduki dan sebagian negara Arab, membentang dari Sungai Efrat hingga Sungai Nil.
Rashwan mengatakan, “Jika Netanyahu percaya Mesir hanya memiliki satu jalur untuk energi dan gas, ia berkhayal."
"Pemerintah Mesir memiliki alternatif dan skenario untuk apa yang mungkin terjadi, dan Netanyahu mencoba mengekspor krisis ke Mesir," papar dia.
Pada 14 Agustus, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly mengatakan perjanjian gas yang ditandatangani dengan "NewMed Energy", mitra di ladang gas Leviathan Israel, merupakan perpanjangan dari kesepakatan tahun 2019 hingga 2040.
Madbouly menekankan, “Perpanjangan perjanjian ini tidak memengaruhi sikap Mesir yang tegas dan jelas terhadap perang Gaza dan penolakannya terhadap segala upaya untuk melikuidasi perjuangan Palestina atau menggusur paksa warga Palestina dari tanah mereka."
Gas Israel diangkut ke Mesir melalui pipa bawah laut dari ladang Leviathan dan Tamar ke terminal penerima di Sinai Utara.
Kairo menggunakan sebagian pasokan ini untuk memenuhi permintaan domestik dan mengekspor kembali sebagian sebagai gas alam cair dari kilang Idku dan Damietta ke pasar Eropa dan Asia.
Baca juga: Skenario Vietnam: Jenderal Israel Sebut Rencana Netanyahu di Gaza Jebakan Maut
"Netanyahu tidak sanggup menanggung konsekuensi ekonomi dan politik dari pembatalan kesepakatan gas tersebut,” ungkap Diaa Rashwan, kepala Layanan Informasi Negara (SIS), dalam pernyataan yang disiarkan televisi.
"(Netanyahu) memandang Mesir sebagai hambatan bagi impiannya untuk mewujudkan Israel Raya dan bahaya baginya, duri dalam dagingnya, terutama karena Kairo adalah garis pertahanan pertama melawan penggusuran warga Palestina," tegas dia.
Komentarnya menyusul laporan media Israel yang menyatakan Netanyahu sedang mempertimbangkan untuk menangguhkan kesepakatan pasokan gas ke Mesir.
Harian Israel Hayom melaporkan pada hari Selasa bahwa, “Netanyahu menginstruksikan para pejabat untuk tidak melanjutkan kesepakatan gas besar-besaran dengan Mesir tanpa persetujuan pribadinya."
Surat kabar tersebut mengatakan, “Netanyahu sedang berdiskusi dengan Menteri Energi Israel Eli Cohen apakah akan melanjutkan perjanjian tersebut, dan bagaimana cara melakukannya, sebelum membuat keputusan akhir.”
Bulan lalu, Netanyahu telah menyatakan ia "sangat berkomitmen pada visi Israel Raya," yang, menurut klaim Israel, mencakup wilayah Palestina yang diduduki dan sebagian negara Arab, membentang dari Sungai Efrat hingga Sungai Nil.
Rashwan mengatakan, “Jika Netanyahu percaya Mesir hanya memiliki satu jalur untuk energi dan gas, ia berkhayal."
"Pemerintah Mesir memiliki alternatif dan skenario untuk apa yang mungkin terjadi, dan Netanyahu mencoba mengekspor krisis ke Mesir," papar dia.
Pada 14 Agustus, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly mengatakan perjanjian gas yang ditandatangani dengan "NewMed Energy", mitra di ladang gas Leviathan Israel, merupakan perpanjangan dari kesepakatan tahun 2019 hingga 2040.
Madbouly menekankan, “Perpanjangan perjanjian ini tidak memengaruhi sikap Mesir yang tegas dan jelas terhadap perang Gaza dan penolakannya terhadap segala upaya untuk melikuidasi perjuangan Palestina atau menggusur paksa warga Palestina dari tanah mereka."
Gas Israel diangkut ke Mesir melalui pipa bawah laut dari ladang Leviathan dan Tamar ke terminal penerima di Sinai Utara.
Kairo menggunakan sebagian pasokan ini untuk memenuhi permintaan domestik dan mengekspor kembali sebagian sebagai gas alam cair dari kilang Idku dan Damietta ke pasar Eropa dan Asia.
Baca juga: Skenario Vietnam: Jenderal Israel Sebut Rencana Netanyahu di Gaza Jebakan Maut
(sya)
Lihat Juga :