Pakar: Ketika Rakyat Indonesia Bangkit Melawan DPR, Dunia Patut Memperhatikan
Minggu, 31 Agustus 2025 - 09:53 WIB
loading...
A
A
A
Bagi Indonesia, imbuh Phar Kim Beng, anggota ASEAN terbesar dan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, krisis ini tidak dapat dianggap remeh sebagai keresahan sementara. Krisis ini menyentuh inti tata kelola, legitimasi, dan keadilan generasi.
Menurutnya, dunia mengabaikan Indonesia akan sangat berbahaya. Dengan lebih dari 275 juta penduduk, stabilitas atau ketidakstabilannya bergema di seluruh ASEAN, Indo-Pasifik, dan ekonomi global. Indonesia menjadi jangkar rantai pasokan, jalur perdagangan maritim, dan negosiasi iklim. Jika kontrak sosialnya mulai terurai, gelombang kejut tidak akan bertahan di dalam wilayahnya.
Lebih lanjut, perlawanan rakyat di Indonesia beresonansi dengan pola yang lebih luas: kaum muda di berbagai belahan dunia merasa terasing dari elite politik, terkungkung dari masa depan ekonomi, dan semakin tidak sabar dengan janji-janji reformasi yang simbolis.
Phar Kim Beng berpendapat, perlawanan rakyat Indonesia di Jakarta dan Bandung bukan hanya pemberontakan di negara ini saja—mereka adalah bagian dari ruang gema ketidakpuasan global.
Anggota Parlemen Indonesia mungkin mengira kenaikan gaji adalah penyesuaian administratif. Sebaliknya, mereka telah menyalakan api yang berisiko menghanguskan institusi yang mereka layani.
Menurutnya, jika demokrasi ingin bertahan di Indonesia, para pemimpinnya harus bertindak dengan kerendahan hati: membatalkan kenaikan gaji, mengurangi pajak yang memberatkan, dan membuka saluran bagi suara kaum muda untuk membentuk kembali masa depan bangsa.
Ketika rakyat Indonesia bangkit dalam pemberontakan, dunia tidak boleh berpaling. Ini bukan hanya perhitungan mereka—ini adalah peringatan bagi semua masyarakat di mana para elite melupakan beban yang ditanggung oleh kaum muda.
Mengapa Dunia Patut Memperhatikan?
Menurutnya, dunia mengabaikan Indonesia akan sangat berbahaya. Dengan lebih dari 275 juta penduduk, stabilitas atau ketidakstabilannya bergema di seluruh ASEAN, Indo-Pasifik, dan ekonomi global. Indonesia menjadi jangkar rantai pasokan, jalur perdagangan maritim, dan negosiasi iklim. Jika kontrak sosialnya mulai terurai, gelombang kejut tidak akan bertahan di dalam wilayahnya.
Lebih lanjut, perlawanan rakyat di Indonesia beresonansi dengan pola yang lebih luas: kaum muda di berbagai belahan dunia merasa terasing dari elite politik, terkungkung dari masa depan ekonomi, dan semakin tidak sabar dengan janji-janji reformasi yang simbolis.
Phar Kim Beng berpendapat, perlawanan rakyat Indonesia di Jakarta dan Bandung bukan hanya pemberontakan di negara ini saja—mereka adalah bagian dari ruang gema ketidakpuasan global.
Anggota Parlemen Indonesia mungkin mengira kenaikan gaji adalah penyesuaian administratif. Sebaliknya, mereka telah menyalakan api yang berisiko menghanguskan institusi yang mereka layani.
Menurutnya, jika demokrasi ingin bertahan di Indonesia, para pemimpinnya harus bertindak dengan kerendahan hati: membatalkan kenaikan gaji, mengurangi pajak yang memberatkan, dan membuka saluran bagi suara kaum muda untuk membentuk kembali masa depan bangsa.
Ketika rakyat Indonesia bangkit dalam pemberontakan, dunia tidak boleh berpaling. Ini bukan hanya perhitungan mereka—ini adalah peringatan bagi semua masyarakat di mana para elite melupakan beban yang ditanggung oleh kaum muda.
(mas)
Lihat Juga :