Ini Senjata Terobosan AS Jika Perang dengan China di Laut China Selatan

Jum'at, 11 September 2020 - 09:14 WIB
loading...
A A A
Memasukkan teknologi drone baru ke dalam masalah pertempuran akan menjadi perubahan besar bagi layanan Angkatan Laut Amerika, yang berencana untuk menginvestasikan miliaran dolar dalam sistem tak berawak baru.

Angkatan Laut menginginkan dana USD2 miliar untuk membangun 10 kapal permukaan tak berawak yang besar selama lima tahun ke depan. Namun, Kongres telah mempertanyakannya dan bahkan telah memblokir Angkatan Laut untuk membeli kapal-kapal besar tak berawak. (Baca: Media China Sentil Indonesia karena Menentang Klaim China di Laut China Selatan )

“Saya ingin bisa menempatkan kapal permukaan tak berawak di dalam area yang ditolak musuh. Jika saya kehilangannya, saya kehilangan kapal yang jauh lebih murah dan saya tidak kehilangan nyawa orang Amerika, tetapi saya masih menciptakan masalah—apakah saya menyuruh mereka menembaknya dan saya mencari tahu di mana mereka....atau saya membuat mereka menyia-nyiakan senjata di atasnya atau saya mendapatkan beberapa tembakan sebelum saya kehilangannya," papar
Gaucher.

Angkatan Laut Amerika perlahan-lahan mengerahkan sistem tak berawak dan secara bertahap menguji kemampuannya. Layanan itu sebelumnya telah melakukan pengujian sistem tak berawak. Seperti tahun lalu, mereka mengirim kapal self-driving sepanjang 132 kaki, Sea Hunter, dari San Diego ke Hawaii dan kembali lagi. (Baca: Pentagon: China Lirik Indonesia Jadi Pangkalan Militernya )

Sea Hunter menjadi kapal pertama yang berhasil menavigasi secara otonom dari San Diego ke Pearl Harbor, Hawaii, dan kembali tanpa satu pun awak kapal. "Program Sea Hunter memimpin dunia dalam desain dan produksi kapal angkatan laut tak berawak dan sepenuhnya otonom," kata Gerry Fasano, presiden Leidos Defense Group, seperti dilansir Military.com.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Indonesia Perkuat Kerja...
Indonesia Perkuat Kerja Sama Sosial Ekonomi Perbatasan dengan Malaysia
Gugur dalam Serangan...
Gugur dalam Serangan AS-Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Dimakamkan 9 Juli
Rekomendasi
Jerman vs Curacao: Sang...
Jerman vs Curacao: Sang Debutan Jadi Ujian Perdana Die Mannschaft
Berawal dari HP Kentang,...
Berawal dari HP Kentang, Adang Haedaroh Sukses Jadi Kreator Gaming dengan 61 Ribu Followers
Bintang Ghana Thomas...
Bintang Ghana Thomas Partey Dilarang Masuk Kanada Buntut Kasus Pelecehan Seksual
Berita Terkini
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved