Tentara Israel Membantai 262 Buaya di Palestina, untuk Apa?

Selasa, 12 Agustus 2025 - 09:06 WIB
loading...
Tentara Israel Membantai...
Para tentara Israel telah membantai 262 ekor buaya di Tepi Barat, wilayah Palestina yang diduduki Zionis. Foto/Deccan Herald
A A A
TEPI BARAT - Para tentara Israel telah membunuh 262 ekor buaya yang dipelihara di sebuah peternakan di Tepi Barat, wilayah Palestina yang diduduki Zionis. Lokasi pembantaian satwa itu berada dekat permukiman ilegal Petzael.

Administrasi Sipil—unit militer Israel yang bertanggung jawab untuk mengendalikan Tepi Barat—berdalih ratusan buaya Nil itu menimbulkan risiko bagi publik karena kelalaian.

Buaya Nil telah dianggap sebagai spesies yang dilindungi sejak 2013.

Pemilik peternakan, Danny Bitan, mengatakan kepada Kan 11 bahwa militer menciptakan "semacam lembah pembantaian".

Baca Juga: 5 Wartawan Al Jazeera Tewas Dibombardir Israel di Gaza

"Mereka membantai buaya-buaya itu," katanya kepada lembaga penyiaran publik Israel tersebut.

Peternakan di Lembah Yordan didirikan pada tahun 1990-an dan ditutup untuk pengunjung selama Intifada Kedua 2000-2005.

Buaya-buaya lain ditemukan mati di tempat kejadian ketika tentara tiba untuk membunuh reptil tersebut minggu lalu.

"Keputusan ini dibuat berdasarkan pendapat mendesak dari para ahli veteriner bahwa buaya-buaya Nil di peternakan tersebut dipelihara di kompleks telantar dalam kondisi buruk yang merupakan penyiksaan hewan, dan tanpa akses yang memadai terhadap makanan, yang telah mendorong mereka ke dalam perilaku kanibalisme," kata Administrasi Sipil.

Seorang sumber keamanan Israel mengatakan kepada Ynet bahwa pemilik peternakan menolak untuk mengamankan kompleks tersebut dan oleh karena itu peternakan itu menimbulkan "risiko signifikan bagi permukiman".

Menurut Bitan, terdapat sekitar 800 buaya di peternakan tersebut.

Bitan mengatakan kepada Haaretz bahwa petugas Administrasi Sipil tiba di peternakan di Petzael, sekitar 20 km di utara Jericho, menguras air danau tempat mereka tinggal, menembak ratusan buaya, lalu memuatnya ke truk.

"Administrasi Sipil tidak membantu saya menemukan solusi," kata Bitan kepada Haaretz.

"Saya sudah memiliki perjanjian dengan sebuah perusahaan di Maroko untuk memindahkan buaya-buaya tersebut ke taman wisata di negara itu, tetapi tidak terlaksana karena perang," imbuh Bitan.

"Baru-baru ini ada negara lain yang hampir saya setujui. Namun, Administrasi Sipil memutuskan untuk masuk ke wilayah pribadi dan melakukan apa pun yang mereka inginkan," paparnya.

Peternakan tersebut merupakan objek wisata dan juga digunakan untuk produksi dan penjualan kulit buaya ke luar negeri. Menurut Channel 12, hingga awal tahun 2000-an, sekitar 3.000 buaya diimpor ke peternakan tersebut.

Seorang sumber keamanan mengatakan kepada Channel 12 bahwa hingga buaya Nil ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi, Bitan membantai buaya-buaya tersebut. Setelah undang-undang diubah, ratusan buaya tetap menjadi miliknya.

"Hingga 2013, Bitan membantai buaya-buaya itu demi uang. Begitu dia menyadari tidak bisa lagi menghasilkan uang dari mereka, dia berhenti mengurus peternakan," kata sumber tersebut.

Dalam sebuah laporan yang disiarkan di Kan 11, bangkai buaya dan selongsong peluru terlihat berserakan di sekitar peternakan.

Manajer peternakan, Bassem Salah, mengatakan kepada Kan 11 bahwa Administrasi Sipil dan Otoritas Taman dan Alam Israel masuk ke peternakan pada pagi hari dan mengambil ponselnya agar dia tidak dapat memberi tahu Bitan.

Let the Animals Live, sebuah organisasi perlindungan satwa Israel, mengecam keputusan militer untuk membunuh buaya-buaya tersebut.

"Ini adalah pembunuhan satwa yang brutal dan kejam yang melanggar semua standar moral," katanya.

"Ini adalah tindakan yang sangat melanggar kewajiban internasional Israel untuk melindungi satwa dan Undang-Undang Perlindungan Hewan. Investigasi harus segera dilakukan untuk memahami siapa yang memberi perintah dan siapa yang menyetujuinya," paparnya, yang dilansir Middle East Eye, Selasa (12/8/2025).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Ancaman Nyata Zionis...
Ancaman Nyata Zionis Bukan Iran, Industri Militer Israel Berlomba Melawan Drone Hizbullah
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
Berani Tanpa AS, Netanyahu:...
Berani Tanpa AS, Netanyahu: Kami akan Masuk ke Iran
AS Lancarkan Serangan...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Drone
Ukraina Minta ke Rusia...
Ukraina Minta ke Rusia Perang Dibatasi di 4 Wilayah Saja, Terpojok?
Rekomendasi
Merger Enam BPR Dapat...
Merger Enam BPR Dapat Restu OJK, Lintas 5 Provinsi di Sumatera
Hakim: Kerugian Negara...
Hakim: Kerugian Negara Akibat Kasus Chromebook Nadiem Rp1,5 Triliun
Jokowi Hadiri HUT Ke-80...
Jokowi Hadiri HUT Ke-80 Bhayangkara di Cikeas
Berita Terkini
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Media Asing Soroti Nasib...
Media Asing Soroti Nasib Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara: Eks Bos Gojek yang Dinyatakan Korupsi
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved