China Bangun Armada di Tengah Laut, Nelayan atau Mata-Mata?

Sabtu, 02 Agustus 2025 - 09:51 WIB
loading...
A A A
Di Laut China Selatan, taktik ini dikenal sebagai strategi kubis: mengepung wilayah sengketa dengan lapisan kapal milisi, penjaga pantai, dan nelayan. Di Samudra Hindia, polanya lebih tersamar, tapi dampaknya tak kalah besar.


Bukan Sekadar Isu Keamanan, Tapi Juga Ekonomi


Selain ancaman intelijen, dampak ekonomi terhadap nelayan lokal juga besar. Nelayan India dan Sri Lanka melaporkan penurunan drastis hasil tangkapan karena kapal China memakai jaring halus, cahaya industri, dan sonar untuk menangkap ikan dalam skala besar dalam hitungan jam.

Di Baluchistan, nelayan mengaku diintimidasi dan dirusak perahunya oleh kapal China yang beroperasi dekat Pelabuhan Gwadar, sering dikawal Angkatan Laut Pakistan. Pasar ikan Pakistan dibanjiri hasil tangkapan murah dari kapal China, menghancurkan industri perikanan tradisional lokal. Fenomena serupa terjadi dari Indonesia hingga Afrika Selatan.

Hukum Laut Tak Mampu Mengejar Taktik Hibrida


Sayangnya, hukum laut internasional belum mampu mengatasi taktik ini. Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) hampir tak memberi solusi atas aktivitas intelijen terselubung dalam wujud “sipil". Negara seperti India dan Indonesia kerap menahan kapal-kapal tersebut, tapi akhirnya dilepas karena tekanan diplomatik.

Sementara itu, China memanfaatkan pengaruhnya di badan-badan internasional seperti International Maritime Organization (IMO) dan Food and Agriculture Organization (FAO) untuk melemahkan penegakan aturan. Amerika Serikat dan Jepang telah mengkritik keras PAFMM, namun negara-negara Eropa sebagian besar memilih diam.

Eropa Tak Boleh Diam


Diamnya Eropa justru menjadi bentuk sabotase terhadap kepentingannya sendiri. Sebagai blok dagang besar yang bergantung pada stabilitas Indo-Pasifik, Uni Eropa perlu mengambil langkah konkret:

•Tingkatkan pengawasan—kerja sama dengan India dan Australia dalam penggabungan data satelit dan AIS.
•Perbaiki celah hukum—dorong transparansi VMS dan AIS, serta sanksi tegas atas pelanggaran IUU.
•Dukung ekonomi pesisir—manfaatkan European Maritime Fisheries Fund (EMFF) untuk membantu daerah yang terdampak overfishing.
•Ungkap armada tersembunyi—gunakan forum seperti G7 dan Indo-Pacific Ministerial Forum untuk menyuarakan secara terbuka taktik maritim ganda Beijing.
•Perkuat patroli laut—tingkatkan kehadiran angkatan laut Eropa di titik-titik strategis seperti Teluk Aden dan Selat Mozambik.

Strategi maritim China telah melampaui kapal perusak dan kapal selam. Bagi Eropa, ancaman nyata berikutnya mungkin tidak datang dari rudal, tetapi dari jaring ikan yang senyap tapi strategis.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
Kirim Video ke Agen...
Kirim Video ke Agen Intelijen Iran, Tentara Israel Ini Dipenjara selama 5 Tahun
Perang Iran Terus Berkobar,...
Perang Iran Terus Berkobar, China Tuding AS Bawa Timur Tengah ke Jurang Maut
Operasi Siber China...
Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
Jepang Bentuk Badan...
Jepang Bentuk Badan Intelijen Baru untuk Pertama Kalinya sejak Perang Dunia II, Ini 5 Alasannya
Siapa Zhang Zhidong?...
Siapa Zhang Zhidong? Warga China yang Dituduh sebagai Raja Fentanyl Meksiko
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Dituduh Spionase Iran,...
Dituduh Spionase Iran, 3 Orang Dijatuhi Hukuman Penjara Seumur Hidup di Bahrain
Langka! Matahari Tepat...
Langka! Matahari Tepat di Atas Ka'bah Hari Ini
Rekomendasi
KPK Tak Bisa Ambil Alih...
KPK Tak Bisa Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah seperti Pungut Barang di Jalan
Pangeran William Kecewa...
Pangeran William Kecewa Inggris Tersingkir dari Piala Dunia
Keonho CORTIS Alami...
Keonho CORTIS Alami Patah Tulang Jelang Tur Solo Perdana
Berita Terkini
Pria Ini Ditusuk 15...
Pria Ini Ditusuk 15 Kali di Mal AS Hanya karena Beragama Islam
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
Perang Iran Meluas,...
Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
Profil Sheikh Hamad...
Profil Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Sosok di Balik Lompatan Qatar dari Negara Gurun Menjadi Raksasa Kaya Dunia
Kronologi Venezuela...
Kronologi Venezuela Simpan 31 Ton Emas di Bank of England tapi Tak Bisa Diambil
AS Perluas Serangan...
AS Perluas Serangan terhadap Iran, Pengeboman 90 Menit Sebabkan Ledakan di Mana-mana
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved