Studi: Konten Propaganda Dominasi Media China di Era Xi Jinping

Rabu, 23 Juli 2025 - 15:10 WIB
loading...
Studi: Konten Propaganda...
Studi para pakar mengungkap konten propaganda mendominasi media China di era Presiden Xi Jinping. Foto/via Kyodo
A A A
JAKARTA - Berbeda dengan banyak negara lain di mana media berfungsi sebagai suara kritis terhadap pemerintah, jurnalisme di China sepenuhnya bertugas menyebarkan propaganda resmi. Ini merupakan temuan dalam studi berjudul “The Decade-Long Growth of Government-Authored News Media in China under Xi Jinping” karya Hannah Waight, Yin Yuan, Margaret E. Roberts, dan Brandon M. Stewart.

Mengutip dari Bitter Winter, Rabu (23/7/2025), studi tersebut dimuat dalam jurnal Proceedings of the U.S. National Academy of Sciences dan dibahas dalam seri “China Briefs” dari Stanford Center on China’s Economy and Institutions.

Studi Hannah dan para koleganya mengupas pertumbuhan sistematis konten yang diproduksi pemerintah—disebut sebagai “propaganda naskah”—di surat kabar China selama periode 2012–2022, masa naiknya Xi Jinping ke tampuk kekuasaan.

Baca Juga: Jet Tempur yang Jatuh di Sekolah dan Tewaskan 20 Orang Merupakan Buatan China

Menggunakan data lebih dari 11 juta artikel dari 700 surat kabar milik partai dan komersial, para penulis menunjukkan bagaimana Partai Komunis China (PKC) semakin menyisipkan narasi resmi ke dalam lanskap media nasional. Hasilnya membantah anggapan naif soal pluralisme media di China, serta memperkenalkan metode baru untuk mendeteksi propaganda terselubung di negara otoriter.

Apa yang dimaksud “propaganda naskah” adalah artikel dari lembaga pemerintah pusat—umumnya Departemen Publisitas PKC (alias Departemen Propaganda) atau kantor berita resmi seperti Xinhua, yang didistribusikan ke berbagai surat kabar tanpa banyak perubahan. Berbeda dengan sindikasi di negara-negara Barat, artikel-artikel ini wajib dimuat dan sering kali muncul bersamaan di banyak media.

Untuk mengidentifikasi konten semacam ini, para peneliti mengembangkan metode komputasi baru yang mendeteksi kemiripan artikel yang terbit di banyak media pada hari yang sama. Metode ini divalidasi dengan lebih dari 1.000 dokumen propaganda bocor yang diperoleh dari “China Digital Times", yang membuktikan bahwa artikel-artikel tersebut memang diwajibkan oleh negara.

Di China, propaganda naskah muncul hampir setiap hari di media. Selama periode 2012–2022, surat kabar partai memuat setidaknya satu artikel propaganda naskah di 90 persen hari dalam setahun. Dalam momen-momen sensitif seperti peringatan, transisi kekuasaan, atau krisis, porsi artikel semacam ini bisa mencapai 30% dari total konten halaman depan.

Pengetatan Kontrol Media


Penggunaan konten naskah ini meningkat tajam. Pada 2012, hanya sekitar 5–7% artikel halaman depan di surat kabar partai yang berasal dari naskah resmi. Namun, pada 2022, angkanya naik hingga sekitar 20%. Ini mencerminkan tren sentralisasi media dan penyempitan ruang ideologis di bawah Xi Jinping.

Dulu, beberapa media masih mencoba mengubah judul atau menambahkan konteks lokal. Namun menjelang akhir dekade, sebagian besar artikel dipublikasikan tanpa diedit sedikit pun, mencerminkan hilangnya kemandirian redaksi dan meningkatnya keseragaman pesan negara.

Penelitian ini juga membantah anggapan bahwa propaganda hanya ada di media milik partai. Faktanya, media komersial—terutama yang punya pembaca besar—juga rutin memuat artikel pemerintah, sering kali tanpa label atau penjelasan yang memadai.

Isi propaganda pun tidak melulu ideologis. Selain topik nasionalisme, pencapaian partai, dan Pemikiran Xi Jinping, konten propaganda juga mencakup isu kesehatan masyarakat, bencana alam, kriminalitas, hingga gaya hidup. Dengan cara ini, negara dapat membentuk narasi publik di banyak aspek kehidupan sehari-hari.

Para penulis menyoroti bagaimana pemerintah memanfaatkan propaganda naskah saat pandemi Covid-19. Saat wabah muncul, pemerintah menunda publikasi informasi penting sambil membanjiri media dengan narasi resmi yang menekankan otoritas negara dan mengurangi ketidakpastian. Pendekatan ini membatasi jurnalisme independen dan membentuk persepsi publik soal krisis.

Penelitian ini menjadi bukti kuat bahwa kontrol media di China semakin ketat di era Xi. Kemunculan propaganda naskah menandai pergeseran ke arah pengelolaan ideologi yang sangat terpusat, dengan tujuan agar PKC bisa “berbicara dengan satu suara” di semua saluran informasi.

Propaganda Domestik


Volume propaganda yang terus meningkat, ditambah hilangnya fleksibilitas redaksi, menunjukkan makin menyempitnya ruang bagi jurnalisme independen. Bahkan media komersial yang dulu dianggap lebih bebas kini ikut menjadi corong pemerintah.

Dengan memperluas definisi propaganda hingga mencakup isu non-ideologis, pemerintah China menggunakan media untuk mengontrol arus informasi dan membungkam pandangan yang berbeda. Artikel tentang bencana, kesehatan, dan kriminalitas pun dipakai untuk mengarahkan persepsi masyarakat dan mencegah interpretasi alternatif.

Memahami cara kerja propaganda domestik China kini menjadi hal krusial, apalagi negara tersebut sedang gencar mengekspor model medianya ke dunia melalui inisiatif seperti Jalur Sutra Digital. Penelitian ini menunjukkan bagaimana rezim otoriter bisa menciptakan ilusi keberagaman media sambil tetap mengendalikan isi di balik layar.

Dengan menyisipkan propaganda naskah ke media partai maupun komersial, pemerintah China menciptakan lanskap media yang tampak beragam di permukaan, tetapi sebenarnya sangat terkontrol di dalam.

Ketika China semakin mempromosikan model pemerintahannya ke dunia, memahami sistem medianya bukan lagi sekadar tugas akademik, tapi kebutuhan geopolitik yang mendesak.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Diduga Berupaya...
China Diduga Berupaya Perluas Ekspansi Senjata ke Timur Tengah via Pakistan
Diplomat AS Ingin Ubah...
Diplomat AS Ingin Ubah Taiwan Jadi Sarang Lebah Drone
Tiru Adegan TV, Istri...
Tiru Adegan TV, Istri Isap Racun dari Tangan Suami yang Digigit Kobra, Malah Ikut Keracunan
Tuntut Kemerdekaan dari...
Tuntut Kemerdekaan dari China, Pria Tibet Tewas Bakar Diri di Luar Markas PBB
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Krisis Keuangan, PBB...
Krisis Keuangan, PBB Terancam Bangkrut
Dramatis, Korban Gempa...
Dramatis, Korban Gempa Venezuela Dievakuasi Hidup-hidup Setelah 8 Hari Tertimbun
Parah! Penjaga Daycare...
Parah! Penjaga Daycare Ini Masukkan Anak yang Rewel ke Dalam Mesin Cuci
Rekomendasi
Konten Natural Bersama...
Konten Natural Bersama Kekasih Bikin Mohammad Irfan Makin Dikenal Warganet
KPK: Kenaikan Gaji Kepala...
KPK: Kenaikan Gaji Kepala Daerah Tak Menjamin Bakal Bebas Korupsi
Kemlu: Dubes RI untuk...
Kemlu: Dubes RI untuk Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Berita Terkini
Deretan Delegasi Asing...
Deretan Delegasi Asing yang Hadiri Pemakaman Khamenei, Salah Satunya Musuh Bebuyutan Iran
Jenderal Paling Ditakuti...
Jenderal Paling Ditakuti Israel dan AS Ini Muncul dari Persembunyian saat Pemakaman Khamenei
Nada Kemenangan Rusia...
Nada Kemenangan Rusia Berubah Drastis ketika Ukraina Terapkan Taktik Asimetris
Gelombang Panas Ganggu...
Gelombang Panas Ganggu Perayaan Kemerdekaan AS ke-250
10 Juta Rakyat Iran...
10 Juta Rakyat Iran Hadiri Pemakaman Khamenei, Bendera Merah Dikibarkan
Houthi Ancam Saudi,...
Houthi Ancam Saudi, Riyadh Janji Beri Respons Keras!
Infografis
Sejumlah Pabrik di China...
Sejumlah Pabrik di China Mulai Stop Produksi Akibat Tarif AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved