Pertama Kalinya, Negara NATO Tangkap 2 Tentara Israel atas Kejahatan Perang di Gaza
Selasa, 22 Juli 2025 - 09:58 WIB
loading...
Para tentara Israel sedang beperang di Jalur Gaza, Palestina. Polisi Federal Belgia telah menangkap 2 tentara Israel atas tuduhan terlibat kejahatan perang di Gaza. Foto/IDF
A
A
A
BRUSSELS - Polisi Federal Belgia, untuk pertama kalinya, menangkap dua tentara Israel yang sedang bepergian ke negara NATO tersebut. Kedua serdadu Zionis itu ditangkap atas tuduhan melakukan kejahatan perang di Jalur Gaza sebagaimana yang diadukan dua kelompok hak asasi manusia (HAM).
Hind Rajab Foundation (HRF) dan Global Legal Action Network (GLAN), dalam pernyataan mereka, menyebutkan bahwa kedua tentara Israel tersebut ditangkap ketika menghadiri sebuah festival musik dan proses hukum mereka masih berlangsung.
"Para tersangka diidentifikasi dan ditangkap dengan unjuk kekuatan yang jelas di festival Tomorrowland di Boom," kata dua kelompok HAM tersebut pada hari Senin, yang dilansir Middle East Eye (MEE), Selasa (22/7/2025).
Baca Juga: 25 Negara Barat Tekan Israel Akhiri Perang Gaza, Zionis Masih Ngeyel
Direktur HRF Dyab Abou Jahjah mengatakan: "Dalam kerangka perjuangan panjang untuk akuntabilitas, ini merupakan tonggak penting. Ini adalah pertama kalinya sebuah negara Eropa mengakui yurisdiksi universal terhadap tentara Israel dan menindaklanjutinya dengan tegas, menangkap mereka, dan membawa mereka ke kantor polisi untuk diinterogasi," ujarnya kepada MEE.
Dearblah Minogue, pengacara senior GLAN yang menangani kasus ini bersama HRF, mengatakan penangkapan tersebut merupakan langkah terbesar untuk akuntabilitas sejak awal genosida di Gaza. "Karena penegak hukum di Eropa benar-benar mengambil tindakan dan menangkap beberapa tersangka," katanya.
"Saya pikir kita sekarang akan melihat efek domino di seluruh Eropa dan di seluruh dunia," ujarnya kepada MEE, menjelaskan bahwa tuduhan yang diajukan terhadap kedua tentara tersebut mencakup penggunaan perisai manusia dan penghancuran yang disengaja.
Bukti telah dikumpulkan dari akun media sosial masing-masing tentara Israel.
"Salah satu dari mereka mengunggah video unitnya yang meledakkan properti di Gaza dan Lebanon," kata Minogue.
"Yang lainnya berpose di samping seorang Palestina yang digunakan sebagai perisai manusia oleh unitnya," imbuh dia.
Kejaksaan Federal Belgia pada hari Senin mengatakan telah menerima dua pengaduan pada hari Jumat dan Sabtu dari HRF dan GLAN, mengenai pelanggaran serius hukum humaniter internasional yang diduga dilakukan di Jalur Gaza oleh dua anggota tentara Israel yang berada di Belgia untuk menghadiri festival Tomorrowland.
Kejaksaan menyatakan telah menetapkan bahwa mereka mungkin memiliki yurisdiksi atas kasus ini berdasarkan Pasal 14/10 baru dari Preliminary Title of the Code of Criminal Procedure, yang mulai berlaku pada 28 April 2024. Pasal tersebut memberikan yurisdiksi kepada pengadilan Belgia atas kejahatan yang dilakukan di luar Belgia berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 dan Konvensi Menentang Penyiksaan 1984.
“Mengingat kemungkinan yurisdiksi ini, Kejaksaan Federal menginstruksikan polisi untuk menemukan kedua orang yang disebutkan dalam pengaduan dan melanjutkan pemeriksaan mereka. Setelah pemeriksaan, mereka dibebaskan,” demikian pernyataan Kejaksaan, seraya menambahkan bahwa tidak ada informasi lebih lanjut yang akan diberikan pada tahap penyelidikan ini.
HRF adalah sebuah LSM yang berbasis di Brussels yang berfokus pada tindakan hukum internasional atas kejahatan perang yang dilakukan di Gaza sejak dimulainya perang pada Oktober 2023. Pendirinya, Dyab Abou Jahjah, mengatakan kepada MEE bahwa mereka memiliki lebih dari 8.000 bukti yang mendokumentasikan kejahatan perang oleh tentara Israel di Gaza.
HRF telah menindaklanjuti kasus-kasus kejahatan perang terhadap tentara dan pejabat Israel di Eropa dan Amerika Latin, tetapi ini adalah pertama kalinya upaya mereka berujung pada penangkapan.
"Hind Rajab Foundation dan GLAN menyambut terobosan ini dengan tekad dan kerendahan hati," ujar mereka dalam siaran pers.
"Kami akan terus mendukung proses hukum yang sedang berlangsung dan mendesak otoritas Belgia untuk melanjutkan penyelidikan secara penuh dan independen. Keadilan tidak boleh berhenti di sini - dan kami berkomitmen untuk menuntaskan penyelidikan ini."
Penangkapan tersebut terjadi pada hari yang sama ketika Raja Philippe dari Belgia menggambarkan situasi di Gaza sebagai "aib bagi kemanusiaan". Dalam pidatonya pada hari Minggu, dia mengatakan bahwa Belgia mendukung seruan PBB untuk “segera mengakhiri krisis yang tak tertahankan ini”.
Hind Rajab Foundation (HRF) dan Global Legal Action Network (GLAN), dalam pernyataan mereka, menyebutkan bahwa kedua tentara Israel tersebut ditangkap ketika menghadiri sebuah festival musik dan proses hukum mereka masih berlangsung.
"Para tersangka diidentifikasi dan ditangkap dengan unjuk kekuatan yang jelas di festival Tomorrowland di Boom," kata dua kelompok HAM tersebut pada hari Senin, yang dilansir Middle East Eye (MEE), Selasa (22/7/2025).
Baca Juga: 25 Negara Barat Tekan Israel Akhiri Perang Gaza, Zionis Masih Ngeyel
Direktur HRF Dyab Abou Jahjah mengatakan: "Dalam kerangka perjuangan panjang untuk akuntabilitas, ini merupakan tonggak penting. Ini adalah pertama kalinya sebuah negara Eropa mengakui yurisdiksi universal terhadap tentara Israel dan menindaklanjutinya dengan tegas, menangkap mereka, dan membawa mereka ke kantor polisi untuk diinterogasi," ujarnya kepada MEE.
Dearblah Minogue, pengacara senior GLAN yang menangani kasus ini bersama HRF, mengatakan penangkapan tersebut merupakan langkah terbesar untuk akuntabilitas sejak awal genosida di Gaza. "Karena penegak hukum di Eropa benar-benar mengambil tindakan dan menangkap beberapa tersangka," katanya.
"Saya pikir kita sekarang akan melihat efek domino di seluruh Eropa dan di seluruh dunia," ujarnya kepada MEE, menjelaskan bahwa tuduhan yang diajukan terhadap kedua tentara tersebut mencakup penggunaan perisai manusia dan penghancuran yang disengaja.
Bukti telah dikumpulkan dari akun media sosial masing-masing tentara Israel.
"Salah satu dari mereka mengunggah video unitnya yang meledakkan properti di Gaza dan Lebanon," kata Minogue.
"Yang lainnya berpose di samping seorang Palestina yang digunakan sebagai perisai manusia oleh unitnya," imbuh dia.
Kejaksaan Federal Belgia pada hari Senin mengatakan telah menerima dua pengaduan pada hari Jumat dan Sabtu dari HRF dan GLAN, mengenai pelanggaran serius hukum humaniter internasional yang diduga dilakukan di Jalur Gaza oleh dua anggota tentara Israel yang berada di Belgia untuk menghadiri festival Tomorrowland.
Kejaksaan menyatakan telah menetapkan bahwa mereka mungkin memiliki yurisdiksi atas kasus ini berdasarkan Pasal 14/10 baru dari Preliminary Title of the Code of Criminal Procedure, yang mulai berlaku pada 28 April 2024. Pasal tersebut memberikan yurisdiksi kepada pengadilan Belgia atas kejahatan yang dilakukan di luar Belgia berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 dan Konvensi Menentang Penyiksaan 1984.
“Mengingat kemungkinan yurisdiksi ini, Kejaksaan Federal menginstruksikan polisi untuk menemukan kedua orang yang disebutkan dalam pengaduan dan melanjutkan pemeriksaan mereka. Setelah pemeriksaan, mereka dibebaskan,” demikian pernyataan Kejaksaan, seraya menambahkan bahwa tidak ada informasi lebih lanjut yang akan diberikan pada tahap penyelidikan ini.
HRF adalah sebuah LSM yang berbasis di Brussels yang berfokus pada tindakan hukum internasional atas kejahatan perang yang dilakukan di Gaza sejak dimulainya perang pada Oktober 2023. Pendirinya, Dyab Abou Jahjah, mengatakan kepada MEE bahwa mereka memiliki lebih dari 8.000 bukti yang mendokumentasikan kejahatan perang oleh tentara Israel di Gaza.
HRF telah menindaklanjuti kasus-kasus kejahatan perang terhadap tentara dan pejabat Israel di Eropa dan Amerika Latin, tetapi ini adalah pertama kalinya upaya mereka berujung pada penangkapan.
"Hind Rajab Foundation dan GLAN menyambut terobosan ini dengan tekad dan kerendahan hati," ujar mereka dalam siaran pers.
"Kami akan terus mendukung proses hukum yang sedang berlangsung dan mendesak otoritas Belgia untuk melanjutkan penyelidikan secara penuh dan independen. Keadilan tidak boleh berhenti di sini - dan kami berkomitmen untuk menuntaskan penyelidikan ini."
Penangkapan tersebut terjadi pada hari yang sama ketika Raja Philippe dari Belgia menggambarkan situasi di Gaza sebagai "aib bagi kemanusiaan". Dalam pidatonya pada hari Minggu, dia mengatakan bahwa Belgia mendukung seruan PBB untuk “segera mengakhiri krisis yang tak tertahankan ini”.
(mas)
Lihat Juga :