Siapa Seif al-Din Muslat? Warga AS yang Dipukuli Penduduk Israel hingga Tewas di Tepi Barat

Minggu, 13 Juli 2025 - 01:55 WIB
loading...
Siapa Seif al-Din Muslat?...
Seif al-Din Muslat, warga AS dibunuh penduduk Israel, saat pulang kampung ke Tepi Barat. Foto/X/@QudsNen
A A A
GAZA - Para pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki telah memukuli hingga tewas seorang warga negara Amerika Serikat berusia awal 20-an bernama Seif al-Din Muslat. Itu diungkapkan anggota keluarga korban dan kelompok-kelompok hak asasi manusia.

Para pemukim menyerang dan membunuh Seif al-Din Muslat di kota Sinjil, utara Ramallah, pada hari Jumat.

Siapa Seif al-Din Muslat? Warga AS yang Dipukuli Penduduk Israel hingga Tewas di Tepi Barat

1. Dipukuli hingga Tewas

Kerabat Muslat, yang berasal dari Tampa, Florida, juga dikutip oleh The Washington Post yang mengatakan bahwa ia dipukuli hingga tewas oleh para pemukim Israel.

"Kami mengetahui laporan kematian seorang warga negara AS di Tepi Barat," Reuters melaporkan seorang juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan. Pejabat tersebut menolak berkomentar lebih lanjut "demi menghormati privasi keluarga dan orang-orang terkasih" dari korban yang dilaporkan.

Baca Juga: Ini Penyebab Utama Kecelakaan Pesawat Air India

2. Dibunuh ketika Pulang Kampung ke Tepi Barat

Muslat telah melakukan perjalanan dari rumahnya di Florida untuk mengunjungi keluarga di Palestina, kata sepupunya, Fatmah Muhammad, dalam sebuah unggahan media sosial.

Seorang warga Palestina lainnya, yang diidentifikasi oleh Kementerian Kesehatan sebagai Mohammed Shalabi, tewas ditembak oleh para pemukim dalam serangan tersebut.

Melansir Al Jazeera, para aktivis hak asasi manusia telah mendokumentasikan beberapa kejadian di mana pemukim Israel di Tepi Barat mengobrak-abrik permukiman dan kota-kota Palestina, membakar rumah dan kendaraan dalam serangan yang terkadang digambarkan sebagai pogrom.

Militer Israel seringkali melindungi para pemukim selama amukan mereka dan telah menembak warga Palestina yang menunjukkan perlawanan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi hak asasi manusia terkemuka lainnya menganggap permukiman Israel di Tepi Barat sebagai pelanggaran hukum internasional, sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk menggusur warga Palestina.

3. Pemukim Yahudi Kerap Membunuh Warga Palestina

Meskipun beberapa negara Barat seperti Prancis dan Australia telah menjatuhkan sanksi kepada pemukim yang melakukan kekerasan, serangan telah meningkat sejak pecahnya perang Israel di Gaza pada Oktober 2023.

Ketika Presiden Donald Trump menjabat awal tahun ini, pemerintahannya mencabut sanksi terhadap pemukim yang dijatuhkan oleh pendahulunya, Joe Biden.

Pasukan Israel telah menewaskan setidaknya sembilan warga negara AS sejak 2022, termasuk reporter veteran Al Jazeera, Shireen Abu Akleh.

Namun, tidak ada insiden yang mengakibatkan tuntutan pidana.

4. AS Gagal Melindungi Warganya dari Kekerasan Penduduk Yahudi

AS memberikan miliaran dolar kepada Israel setiap tahun. Para advokat menuduh pemerintahan AS berturut-turut gagal melindungi warga negara Amerika dari kekerasan Israel di Timur Tengah.

Pada hari Jumat, Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) meminta Washington untuk memastikan akuntabilitas atas pembunuhan Musallet.

"Setiap pembunuhan warga negara Amerika lainnya tidak dihukum oleh pemerintah Amerika, itulah sebabnya pemerintah Israel terus-menerus membunuh warga Palestina Amerika dan, tentu saja, warga Palestina lainnya," kata Wakil Direktur CAIR, Edward Ahmed Mitchell, dalam sebuah pernyataan.

Ia kemudian menunjukkan bahwa Trump telah berulang kali berjanji untuk memprioritaskan kepentingan Amerika, sebagaimana dilambangkan oleh slogan kampanyenya "America First".

"Jika Presiden Trump bahkan tidak mengutamakan Amerika ketika Israel membunuh warga negara Amerika, maka ini benar-benar pemerintahan Israel First," kata Mitchell.

Institute for Middle East Understanding (IMEU) juga menyerukan tindakan dari pemerintah AS, dengan mencatat bahwa para pemukim "semakin sering menghakimi warga Palestina –dukungan penuh dari tentara dan pemerintah Israel”.

“Pemerintah AS memiliki kewajiban hukum dan moral untuk menghentikan kekerasan rasis Israel terhadap Palestina. "Sebaliknya, mereka masih mendukung dan mendanainya," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

Departemen Luar Negeri AS tidak menanggapi permintaan Al Jazeera untuk berkomentar tentang pembunuhan Musallet.

5. Warga Tepi Barat Diminta Bangkit

Kelompok Palestina Hamas mengutuk pembunuhan Muslat, menyebutnya sebagai "barbar", dan menyerukan warga Palestina di seluruh Tepi Barat untuk bangkit dan "menghadapi para pemukim dan serangan teroris mereka".

Israel mengatakan sedang "menyelidiki" apa yang terjadi di Sinjil, mengklaim bahwa kekerasan dimulai ketika warga Palestina melemparkan batu ke arah kendaraan Israel.

"Tak lama kemudian, bentrokan kekerasan terjadi di wilayah tersebut antara warga Palestina dan warga sipil Israel, yang meliputi penghancuran properti Palestina, pembakaran, konfrontasi fisik, dan pelemparan batu," kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.

Investigasi Israel seringkali tidak menghasilkan tuntutan atau pertanggungjawaban yang berarti atas pelanggaran yang dilakukan oleh petugas dan pemukim Israel.

Seiring meningkatnya kekerasan pemukim dan militer di Tepi Barat, Israel telah menewaskan sedikitnya 57.762 warga Palestina di Gaza dalam sebuah kampanye yang oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia disebut sebagai genosida.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Dubes Iran Tegas Tolak...
Dubes Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata di Gaza: Palestina Harus Dibebaskan!
AS Lancarkan Serangan...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Drone
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Tembus 1.700 Orang, 5.000 Lainnya Luka
Rekomendasi
Dampak Pembiayaan PNM...
Dampak Pembiayaan PNM Diakui, Kini Melayani 23 Juta Nasabah Perempuan Prasejahtera
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
Apartemen Disita Jelang...
Apartemen Disita Jelang Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Buka Suara
Berita Terkini
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved