Jenderal Tertinggi Iran Ancam Israel: Jika Perang Lagi, AS Tak Bisa Selamatkan Netanyahu
Selasa, 08 Juli 2025 - 09:48 WIB
loading...
A
A
A
"Kami telah menyiapkan rencana yang melumpuhkan, tetapi karena gencatan senjata, rencana itu tidak mendapat kesempatan untuk dilaksanakan. Namun, jika terjadi kesalahan lagi, rencana ini akan dilaksanakan. Bahkan Amerika Serikat mungkin tidak dapat menyelamatkan Netanyahu," imbuh Mousavi.
Perang 12 hari dimulai ketika Israel melancarkan serangannya terhadap situs militer dan nuklir Iran pada 13 Juni. Amerika Serikat bergabung dengan kampanye militer Israel pada 22 Juni, menyerang fasilitas nuklir di Isfahan, Natanz, dan Fordow. Presiden Donald Trump menamai kampanye pengeboman itu sebagai "Operasi Midnight Hammer" dan mengeklaim telah membongkar program nuklir Iran.
Meskipun gencatan senjata dengan Israel sudah berlaku, Iran telah menekankan bahwa pihaknya akan menanggapi dengan tegas jika diprovokasi lagi, dengan memperingatkan bahwa tahap akhir pembalasannya masih dalam tahap siaga.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan melakukan pertemuan dengan PM Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih. Pertemuan berisiko tinggi itu terjadi pada saat yang kritis, dengan kedua belah pihak mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam konflik yang dapat dengan cepat berkobar kembali.
Perang 12 hari dimulai ketika Israel melancarkan serangannya terhadap situs militer dan nuklir Iran pada 13 Juni. Amerika Serikat bergabung dengan kampanye militer Israel pada 22 Juni, menyerang fasilitas nuklir di Isfahan, Natanz, dan Fordow. Presiden Donald Trump menamai kampanye pengeboman itu sebagai "Operasi Midnight Hammer" dan mengeklaim telah membongkar program nuklir Iran.
Meskipun gencatan senjata dengan Israel sudah berlaku, Iran telah menekankan bahwa pihaknya akan menanggapi dengan tegas jika diprovokasi lagi, dengan memperingatkan bahwa tahap akhir pembalasannya masih dalam tahap siaga.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan melakukan pertemuan dengan PM Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih. Pertemuan berisiko tinggi itu terjadi pada saat yang kritis, dengan kedua belah pihak mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam konflik yang dapat dengan cepat berkobar kembali.
(mas)
Lihat Juga :