Laporan Global Rights Compliance Ungkap Dugaan Kerja Paksa di Sektor Strategis China

Sabtu, 28 Juni 2025 - 12:48 WIB
loading...
A A A
Ironisnya, pemerintah China terus mempromosikan narasi palsu tentang Xinjiang. China Cotton Association baru-baru ini melaporkan kenaikan 3,3% dalam luas tanam kapas untuk 2025, mengeklaim wilayah tersebut memiliki lebih dari 3.700 perusahaan tekstil. Namun, para pendukung hak asasi menolak angka tersebut sebagai propaganda, menunjuk bahwa kerja paksa masih menjadi inti output industri Xinjiang.

Rantai Pasok Pangan Global


Melansir laporan Pulitzer Centre, pekerja Uyghur masih dipaksa memetik kapas dengan kondisi yang memprihatinkan. Video-video yang beredar menunjukkan anak-anak berusia tujuh tahun bekerja di lapangan—melanggar hukum internasional tentang pekerja anak. China membantah semua tuduhan sebagai “kebohongan kejam” dan menyatakan bahwa semua kelompok etnis “menikmati kehidupan bahagia.”

Sayangnya, penyalahgunaan tenaga kerja tidak hanya terjadi di industri tekstil. Pekerja dari Xinjiang dipindahkan paksa ke pabrik-pabrik di seluruh China—termasuk di Hubei—melalui program negara yang dinilai memaksa. Perusahaan seperti CP Group (Charoen Pokphand) dan Dachan Foods disebut menggunakan pekerja pindahan ini dalam produksi daging untuk merek global seperti KFC dan McDonald’s China. Video pekerja memperlihatkan isolasi, kerinduan rumah, dan dehumanisasi, dengan beberapa menyebut kondisi mereka sebagai perbudakan modern.

Rantai pasok pangan global juga mulai tersusupi. Bureau of Investigative Journalism melaporkan kapas Xinjiang mulai diolah menjadi pakan ternak. Biji kapas—produk sampingan kaya protein—digunakan untuk memberi makan unggas, sapi, dan babi secara massal—membuat jalur kerja paksa di industri pangan semakin sulit dideteksi. Beberapa produsen bekerja sama dengan milisi paramiliter Xinjiang, dan hewan-hewan tersebut diproses di fasilitas yang dijalankan pekerja minoritas etnis secara paksa.

Banyak perusahaan besar berdalih tidak menggunakan bahan baku tersebut, namun hanya sedikit yang transparan dalam menelusuri rantai pasok makanan atau memastikan standar hak asasi manusia terpenuhi.

Menanggapi kemarahan global, Amerika Serikat melarang impor barang dari Xinjiang melalui Uyghur Forced Labour Prevention Act (UFLPA) sejak 2021. Sejak itu, lebih dari USD3,6 miliar produk ditahan. Peraturan kuat ini tidak hanya menargetkan produk jadi dari Xinjiang, tetapi juga bahan mentah atau komponen yang bersumber dari wilayah tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran Terus Berkobar,...
Perang Iran Terus Berkobar, China Tuding AS Bawa Timur Tengah ke Jurang Maut
Operasi Siber China...
Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
Jepang Bentuk Badan...
Jepang Bentuk Badan Intelijen Baru untuk Pertama Kalinya sejak Perang Dunia II, Ini 5 Alasannya
Siapa Zhang Zhidong?...
Siapa Zhang Zhidong? Warga China yang Dituduh sebagai Raja Fentanyl Meksiko
Persaingan Memanas,...
Persaingan Memanas, China Membangun Replika Kapal Perang AS untuk Latihan Tembak Rudal
Ditutup-tutupi selama...
Ditutup-tutupi selama 1 Bulan, 2 Pilot China Tewas saat Latihan Perang
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Maskapai Eropa Diminta...
Maskapai Eropa Diminta Tak Melintasi Langit Teluk, Ancaman Rudal dan Drone Mengintai
Hubungan yang Unik,...
Hubungan yang Unik, Menlu Iran Kunjungi Qatar Setelah Militernya Serang Doha
Rekomendasi
Argentina Terancam Sanksi...
Argentina Terancam Sanksi FIFA Buntut Selebrasi Pemain di Spanduk Politik
Cyber Breaker Season...
Cyber Breaker Season 3 Jembatani Kebutuhan SDM Digital Pemerintah dan Sektor Bisnis
Dokter Tifa Optimistis...
Dokter Tifa Optimistis Eksepsinya Dikabulkan Hakim
Berita Terkini
Profil Sheikh Hamad...
Profil Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Sosok di Balik Lompatan Qatar dari Negara Gurun Menjadi Raksasa Kaya Dunia
Kronologi Venezuela...
Kronologi Venezuela Simpan 31 Ton Emas di Bank of England tapi Tak Bisa Diambil
AS Perluas Serangan...
AS Perluas Serangan terhadap Iran, Pengeboman 90 Menit Sebabkan Ledakan di Mana-mana
2 Jenderal Militer Ditangkap...
2 Jenderal Militer Ditangkap karena Korupsi Proyek Senilai Rp1,2 Triliun
Zelensky Pecat Menhan...
Zelensky Pecat Menhan Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia, Menhan ke-4 yang Didepak
Meski Sedang Perang,...
Meski Sedang Perang, Trump Puji Iran karena Bebaskan Warga AS dari Penjara
Infografis
Tegaskan Status Negara...
Tegaskan Status Negara Berdaulat, Taiwan Lawan China di PBB
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved