Laporan Global Rights Compliance Ungkap Dugaan Kerja Paksa di Sektor Strategis China

Sabtu, 28 Juni 2025 - 12:48 WIB
loading...
A A A

Dugaan Praktik Kerja Paksa di Xinjiang


Meski demikian, investasi China di sektor tekstil Xinjiang justru melonjak. Dari 2014 hingga 2022, wilayah tersebut menerima investasi tetap senilai 285,9 miliar yuan dengan pertumbuhan tahunan mencapai 20%. Lebih dari 1.350 perusahaan dari provinsi lain masuk ke ekosistem industri Xinjiang—membenamkan praktik kerja paksa semakin dalam ke kerangka ekonomi China.

Penyalahgunaan ini meluas melampaui kapas dan pangan. Laporan Human Rights Watch Maret 2024 mengungkap rantai pasok aluminium untuk produsen otomotif global juga terkontaminasi kerja paksa.

Perusahaan seperti General Motors, Volkswagen, Tesla, Toyota, dan BYD tidak berhasil menghilangkan aluminium terkait kerja paksa dari proses produksi mereka. Human Rights Watch memperingatkan bahwa kegagalan ini berpotensi menyebabkan perusahaan-perusahaan tersebut terlibat dalam kejahatan terhadap kelompok minoritas.

Sementara itu, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2022 menyimpulkan bahwa China mungkin telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di Xinjiang, dengan estimasi lebih dari satu juta Uyghur ditahan secara sewenang-wenang atas nama kontraterorisme. China menolak temuan ini dan mengeklaim sedang menjaga stabilitas.

Para ahli menilai, meski bukti praktik kerja paksa di Xinjiang semakin banyak—mulai dari industri tekstil, mineral, hingga otomotif—China sejauh ini hampir kebal dari akuntabilitas nyata.

Sudah waktunya bagi negara-negara demokrasi dan institusi internasional untuk bergerak melampaui tindakan simbolis. Hanya upaya tegas dan dapat ditegakkan seperti pelarangan, sanksi, dan transparansi penuh dalam rantai pasok global yang dapat mengakhiri siklus eksploitasi ini.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
AS: Selat Hormuz Terbuka...
AS: Selat Hormuz Terbuka untuk Dilalui Semua Kapal Tanpa Biaya Tol
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Ben Gvir Batal ke AS, Dipersulit Dapat Visa?
Rekomendasi
Rizky Billar Laporkan...
Rizky Billar Laporkan Akun Penyebar Fitnah Selingkuh dengan Anak Ramzi
7.000 Massa Gelar Unjuk...
7.000 Massa Gelar Unjuk Rasa Dukung Pemerintahan Prabowo di Silang Monas
Richard Lee Buka Suara...
Richard Lee Buka Suara usai Jadi Tersangka, Siap Bongkar Fakta di Persidangan
Berita Terkini
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Juju Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Infografis
10 Negara dengan Jam...
10 Negara dengan Jam Kerja Terpendek di Dunia, Suriah Paling Singkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved