7 Alasan Iran Tak Layak Diperjuangkan Presiden Putin, Salah Satunya Menghindari Perang Dunia III
Sabtu, 28 Juni 2025 - 15:25 WIB
loading...
A
A
A
Strategi mediasi juga menarik bagi visi Putin tentang tatanan dunia multipolar di mana Rusia berfungsi sebagai salah satu dari beberapa pusat kekuatan besar, masing-masing dengan lingkup pengaruhnya sendiri. Dalam konsepsi ini, Moskow tidak perlu mengalahkan Amerika Serikat secara militer—ia hanya perlu menunjukkan bahwa Washington tidak dapat memaksakan kehendaknya secara sepihak.
Bahwa Trump menolak tawaran mediasi Putin tidaklah sepenting fakta bahwa tawaran itu dibuat. Rusia telah memantapkan dirinya sebagai pemain dalam urusan Timur Tengah, meskipun bukan yang dominan.
Pendekatan pragmatis ini menjelaskan mengapa Rusia secara konsisten mengecewakan harapan Iran. Pada tahun 2019, Moskow menolak menjual sistem pertahanan udara S-400 ke Iran, dengan alasan kekhawatiran Israel. Ketika Teheran meminta pesawat modern, Rusia hanya memberikan janji-janji yang samar. Dan ketika keadaan semakin mendesak pada bulan Juni 2025, Moskow memilih protes diplomatik daripada dukungan militer.
Bagi Iran, kekecewaan ini mengungkapkan sifat hampa dari kemitraan yang didasarkan pada permusuhan bersama terhadap Barat. Rusia mendukung Iran sama seperti hal itu melayani kepentingan Rusia—tidak lebih, tidak kurang.
Putin mungkin menganggap dirinya sebagai pembela tatanan dunia multipolar, tetapi ia pertama-tama dan terutama adalah penjaga kepentingan negara Rusia. Dan kepentingan tersebut, pada momen sejarah ini, tidak mencakup perang nuklir atas ambisi Iran.
Bagi Iran, ini adalah pelajaran yang keras tetapi berharga tentang realitas politik internasional. Di dunia di mana bahkan sekutu pun punya harga, Teheran pada akhirnya harus mengandalkan kekuatan dan kelicikannya sendiri untuk bertahan hidup.
Bagi Rusia, krisis Iran merupakan tantangan sekaligus peluang—kesempatan untuk menunjukkan relevansi diplomatik sambil menghindari bencana militer. Apakah Moskow dapat mempertahankan keseimbangan yang rapuh ini akan menentukan tidak hanya nasib kemitraan Rusia-Iran, tetapi juga peran Rusia yang lebih luas dalam tatanan dunia yang berubah dengan cepat.
Bahwa Trump menolak tawaran mediasi Putin tidaklah sepenting fakta bahwa tawaran itu dibuat. Rusia telah memantapkan dirinya sebagai pemain dalam urusan Timur Tengah, meskipun bukan yang dominan.
6. Hubungan Iran dan Rusia Bersifat Transaksional
Di balik retorika solidaritas anti-Barat terdapat kebenaran yang lebih mendasar: hubungan Rusia dengan Iran selalu bersifat transaksional daripada ideologis. Moskow tidak ingin melihat Iran menjadi kekuatan nuklir, yang akan mengurangi pengaruh Rusia atas Teheran. Putin bahkan kurang berminat untuk melawan Amerika dan Israel untuk memajukan ambisi regional Iran.Pendekatan pragmatis ini menjelaskan mengapa Rusia secara konsisten mengecewakan harapan Iran. Pada tahun 2019, Moskow menolak menjual sistem pertahanan udara S-400 ke Iran, dengan alasan kekhawatiran Israel. Ketika Teheran meminta pesawat modern, Rusia hanya memberikan janji-janji yang samar. Dan ketika keadaan semakin mendesak pada bulan Juni 2025, Moskow memilih protes diplomatik daripada dukungan militer.
Bagi Iran, kekecewaan ini mengungkapkan sifat hampa dari kemitraan yang didasarkan pada permusuhan bersama terhadap Barat. Rusia mendukung Iran sama seperti hal itu melayani kepentingan Rusia—tidak lebih, tidak kurang.
7. Aliansi dengan Rusia Bisa Diandalkan
Pada akhirnya, respons Rusia terhadap krisis Iran mengungkap aritmatika dingin yang mengatur hubungan kekuatan besar. Ideologi kurang penting daripada geografi, retorika kurang penting daripada sumber daya, solidaritas kurang penting daripada kelangsungan hidup.Putin mungkin menganggap dirinya sebagai pembela tatanan dunia multipolar, tetapi ia pertama-tama dan terutama adalah penjaga kepentingan negara Rusia. Dan kepentingan tersebut, pada momen sejarah ini, tidak mencakup perang nuklir atas ambisi Iran.
Bagi Iran, ini adalah pelajaran yang keras tetapi berharga tentang realitas politik internasional. Di dunia di mana bahkan sekutu pun punya harga, Teheran pada akhirnya harus mengandalkan kekuatan dan kelicikannya sendiri untuk bertahan hidup.
Bagi Rusia, krisis Iran merupakan tantangan sekaligus peluang—kesempatan untuk menunjukkan relevansi diplomatik sambil menghindari bencana militer. Apakah Moskow dapat mempertahankan keseimbangan yang rapuh ini akan menentukan tidak hanya nasib kemitraan Rusia-Iran, tetapi juga peran Rusia yang lebih luas dalam tatanan dunia yang berubah dengan cepat.
(ahm)
Lihat Juga :