Perusahaan Tentara Bayaran AS Mulai Merekrut untuk Israel di LinkedIn
Rabu, 21 Mei 2025 - 07:18 WIB
loading...
A
A
A
Yayasan tersebut sebagian besar akan menggantikan peran PBB dalam mendistribusikan bantuan Gaza. Dikatakan yayasan tersebut berencana untuk aktif pada akhir Mei.
Halaman lamaran pekerjaan SRS mengungkap bagaimana Israel dan AS dengan cepat bergerak menuju privatisasi dan militerisasi distribusi bantuan di Gaza.
Posisi lain yang sedang direkrut SRS adalah teknisi sistem citra, yang dapat menganalisis video gerak penuh.
Israel mengatakan berencana membuat "pusat" untuk mendistribusikan bantuan.
Di masa lalu, mereka telah menggunakan pos pemeriksaan untuk memisahkan pria dan wanita Palestina.
Awal bulan ini, kabinet Israel menyetujui rencana yang akan mengharuskan teknologi pengenalan wajah untuk diterapkan kepada warga Palestina sebelum mereka menerima bantuan apa pun. Mereka tengah mencari pendanaan asing untuk rencana tersebut.
Operasi tersebut dikecam kelompok-kelompok bantuan lintas partai, dan PBB mengatakan tidak akan mengambil bagian dalam pekerjaan yayasan tersebut.
Israel mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka akan mengizinkan sejumlah bantuan kemanusiaan masuk ke daerah kantong tersebut.
PBB mengatakan pada hari Selasa bahwa Israel telah mengizinkan empat truk berisi makanan bayi masuk ke daerah kantong tersebut, dan beberapa lusin truk lainnya berisi tepung, obat-obatan, dan persediaan nutrisi. Namun, PBB belum dapat mendistribusikan persediaan tersebut.
"Pihak berwenang Israel mengharuskan kami menurunkan persediaan di sisi Palestina dari penyeberangan Kerem Shalom dan memuatnya kembali secara terpisah setelah mereka mengamankan akses tim kami dari dalam Jalur Gaza," ujar juru bicara PBB Stephane Dujarric.
"Hari ini, salah satu tim kami menunggu beberapa jam hingga lampu hijau Israel untuk mengakses area Kerem Shalom dan mengambil persediaan nutrisi. Sayangnya, mereka tidak dapat membawa persediaan tersebut ke gudang kami," ujar dia.
Pakar kemanusiaan mengatakan Gaza berada di ambang kelaparan massal. Kepala kemanusiaan PBB Tom Fletcher mengatakan pada hari Selasa bahwa 14.000 bayi bisa meninggal dalam 48 jam ke depan jika bantuan tidak sampai tepat waktu.
Baca juga: Maroko Jadi Tuan Rumah Unit Militer Israel yang Bunuh 15 Petugas Medis di Gaza
Halaman lamaran pekerjaan SRS mengungkap bagaimana Israel dan AS dengan cepat bergerak menuju privatisasi dan militerisasi distribusi bantuan di Gaza.
Posisi lain yang sedang direkrut SRS adalah teknisi sistem citra, yang dapat menganalisis video gerak penuh.
Israel mengatakan berencana membuat "pusat" untuk mendistribusikan bantuan.
Di masa lalu, mereka telah menggunakan pos pemeriksaan untuk memisahkan pria dan wanita Palestina.
Awal bulan ini, kabinet Israel menyetujui rencana yang akan mengharuskan teknologi pengenalan wajah untuk diterapkan kepada warga Palestina sebelum mereka menerima bantuan apa pun. Mereka tengah mencari pendanaan asing untuk rencana tersebut.
Operasi tersebut dikecam kelompok-kelompok bantuan lintas partai, dan PBB mengatakan tidak akan mengambil bagian dalam pekerjaan yayasan tersebut.
Israel mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka akan mengizinkan sejumlah bantuan kemanusiaan masuk ke daerah kantong tersebut.
PBB mengatakan pada hari Selasa bahwa Israel telah mengizinkan empat truk berisi makanan bayi masuk ke daerah kantong tersebut, dan beberapa lusin truk lainnya berisi tepung, obat-obatan, dan persediaan nutrisi. Namun, PBB belum dapat mendistribusikan persediaan tersebut.
"Pihak berwenang Israel mengharuskan kami menurunkan persediaan di sisi Palestina dari penyeberangan Kerem Shalom dan memuatnya kembali secara terpisah setelah mereka mengamankan akses tim kami dari dalam Jalur Gaza," ujar juru bicara PBB Stephane Dujarric.
"Hari ini, salah satu tim kami menunggu beberapa jam hingga lampu hijau Israel untuk mengakses area Kerem Shalom dan mengambil persediaan nutrisi. Sayangnya, mereka tidak dapat membawa persediaan tersebut ke gudang kami," ujar dia.
Pakar kemanusiaan mengatakan Gaza berada di ambang kelaparan massal. Kepala kemanusiaan PBB Tom Fletcher mengatakan pada hari Selasa bahwa 14.000 bayi bisa meninggal dalam 48 jam ke depan jika bantuan tidak sampai tepat waktu.
Baca juga: Maroko Jadi Tuan Rumah Unit Militer Israel yang Bunuh 15 Petugas Medis di Gaza
(sya)
Lihat Juga :