Benang Merah antara Jenderal Pakistan, Osama bin Laden, dan Senjata Nuklir

Minggu, 11 Mei 2025 - 08:57 WIB
loading...
A A A
Pada awal tahun 2000-an, Mahmood mendirikan Ummah Tameer-e-Nau (UTN), yang mengeklaim sebagai LSM yang beroperasi di Afghanistan yang dikuasai Taliban.

Kegiatan UTN meliputi pembangunan sekolah dan infrastruktur di Kandahar. Intelijen Amerika Serikat (AS) dan Pakistan kemudian menemukan bahwa organisasi tersebut berfungsi sebagai kedok untuk keterlibatan yang lebih dalam dengan jaringan teror.

Menurut PBB, Mahmood dan rekannya; Chaudhri Abdul Majeed, bertemu Osama bin Laden dan Ayman al-Zawahiri pada bulan Agustus 2001, beberapa minggu sebelum serangan 11 September 2001 di AS, yang dikenal sebagai serangan 9/11.

Meskipun tidak ada bukti konklusif yang muncul yang menunjukkan bahwa teknologi senjata nuklir telah ditransfer, pertemuan tersebut memicu kekhawatiran di Washington dan menyebabkan penangkapan dan interogasi Mahmood oleh otoritas Pakistan.

"UTN memberi Osama bin Laden dan Taliban informasi tentang senjata kimia, biologi, dan nuklir. Selama kunjungan UTN ke Afghanistan, Bashir-Ud-Din bertemu dengan bin Laden dan para pemimpin al-Qaeda serta membahas senjata nuklir, kimia, dan biologi. Selama tahun 2001, Bashir-Ud-Din juga bertemu dengan Mullah Omar, yang terdaftar sebagai Mohammed Omar Ghulam Nabi. Selama pertemuan lanjutan, seorang rekan Osama bin Laden menyatakan bahwa dia memiliki bahan nuklir dan ingin tahu cara menggunakannya untuk membuat senjata. Bashir-Ud-Din memberikan informasi tentang infrastruktur yang dibutuhkan untuk program senjata nuklir dan dampak senjata nuklir," demikian bunyi pernyataan PBB.

Badan Intelijen Pakistan, ISI, akhirnya membebaskan Mahmood dengan alasan bahwa dia tidak memiliki pengetahuan teknis untuk merakit senjata nuklir secara mandiri.

Lahir di Pakistan dan menempuh pendidikan di Inggris, Mahmood dianugerahi Sitara-e-Imtiaz, penghargaan sipil tertinggi ketiga di Pakistan, oleh mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif. Ironisnya, Mahmood kemudian menjadi kritikus vokal Sharif.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
9 Negara yang Memiliki...
9 Negara yang Memiliki Anggaran Terbesar Mengembangkan Bom Nuklir
Perlombaan Senjata Nuklir...
Perlombaan Senjata Nuklir Baru Telah Tiba, AS dan China Paling Ugal-ugalan
Impor Energi dari 41...
Impor Energi dari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia: Kami Cari yang Paling Murah!
China Tangkap Warga...
China Tangkap Warga Negara AS Atas Tuduhan Spionase
Putri Thailand Bajrakitiyabha...
Putri Thailand Bajrakitiyabha Meninggal Dunia usai Koma 3 Tahun
Rekomendasi
Tegang Sejak Pagi! 32...
Tegang Sejak Pagi! 32 Tim Terbaik Liga Bintang Juara Bersaing Menuju Jakarta
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Kemenag Buka Beasiswa...
Kemenag Buka Beasiswa INSIGHT Scholarship bagi Mahasiswa Internasional yang Ingin Kuliah di PTKIN
Berita Terkini
Trump Puji Unggahan...
Trump Puji Unggahan Menlu Iran tentang Kemungkinan Kesepakatan AS-Iran Sangat Positif
Menlu Iran Ungkap MoU...
Menlu Iran Ungkap MoU dengan AS Mencakup Lebanon dan Blokade Paman Sam
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved