AS Akan Bikin Bom Nuklir Baru Bernama B61-13, Kekuatannya 24 Kali Lipat Bom Hiroshima
Jum'at, 09 Mei 2025 - 08:47 WIB
loading...
A
A
A
Awal tahun ini, Presiden AS Donald Trump menyebut senjata nuklir sebagai ancaman eksistensial terbesar bagi umat manusia. Pada bulan Maret, dia menyerukan negara-negara kekuatan nuklir untuk meninggalkan senjata nuklir mereka.
"Akan sangat bagus jika kita semua bisa denuklirisasi, karena kekuatan senjata nuklir itu gila," katanya kepada wartawan.
"Saya sangat ingin memulai pembicaraan itu," ujarnya.
Selama masa jabatan presiden pertamanya, Trump secara sepihak menarik AS dari Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF) 1987 yang bersejarah, dengan alasan ketidakpatuhan Rusia. Moskow telah mengutuk langkah AS tersebut dan membantah tidak mematuhi perjanjian.
Pada tahun 2024, setelah pendahulu Trump, Joe Biden, mengizinkan Ukraina menggunakan rudal AS dalam serangan lintas batas jarak jauh ke Rusia, Moskow merevisi doktrin nuklirnya, dan menurunkan ambang batas yang dapat diterima untuk penggunaan senjata nuklir.
Di bawah doktrin baru tersebut, setiap serangan terhadap Rusia oleh negara yang tidak bersenjata nuklir yang didukung oleh negara yang memiliki senjata nuklir akan diperlakukan sebagai serangan langsung oleh keduanya, yang memungkinkan Moskow untuk membalas dengan senjata nuklir.
"Akan sangat bagus jika kita semua bisa denuklirisasi, karena kekuatan senjata nuklir itu gila," katanya kepada wartawan.
"Saya sangat ingin memulai pembicaraan itu," ujarnya.
Selama masa jabatan presiden pertamanya, Trump secara sepihak menarik AS dari Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF) 1987 yang bersejarah, dengan alasan ketidakpatuhan Rusia. Moskow telah mengutuk langkah AS tersebut dan membantah tidak mematuhi perjanjian.
Pada tahun 2024, setelah pendahulu Trump, Joe Biden, mengizinkan Ukraina menggunakan rudal AS dalam serangan lintas batas jarak jauh ke Rusia, Moskow merevisi doktrin nuklirnya, dan menurunkan ambang batas yang dapat diterima untuk penggunaan senjata nuklir.
Di bawah doktrin baru tersebut, setiap serangan terhadap Rusia oleh negara yang tidak bersenjata nuklir yang didukung oleh negara yang memiliki senjata nuklir akan diperlakukan sebagai serangan langsung oleh keduanya, yang memungkinkan Moskow untuk membalas dengan senjata nuklir.
(mas)
Lihat Juga :