Jerman Siap Kirim Rudal Canggih Taurus ke Ukraina untuk Melawan Rusia
Selasa, 15 April 2025 - 08:30 WIB
loading...
A
A
A
Namun, Merz menekankan bahwa pengiriman rudal jarak jauh hanya akan dilakukan setelah konsultasi dengan sekutu Jerman di Eropa.
"Itu harus dikoordinasikan. Dan jika disetujui, maka Jerman harus berpartisipasi," kata Merz, pemimpin Uni Demokratik Kristen (CDU), seperti dikutip euronews, Selasa (15/4/2025).
Merz mencatat bahwa sekutu Jerman seperti Inggris dan Prancis telah memasok rudal jelajah kepada Ukraina.
Namun, sistem Taurus menawarkan jangkauan yang lebih jauh daripada rudal jelajah Scalp Prancis atau rudal Storm Shadow Inggris. Sistem ini juga memiliki presisi yang diperlukan untuk menghancurkan target kritis seperti pilar jembatan secara efektif.
Merz menyebutkan bahwa sistem Taurus dapat digunakan untuk menargetkan Jembatan Kerch, jalur darat terpenting antara Rusia dan semenanjung Crimea yang dikuasai Rusia.
"Itu akan menjadi salah satu cara untuk akhirnya menempatkan negara ini secara strategis—untuk tetap berpegang pada ketentuan—di atas situasi," jelas Merz, seraya menambahkan bahwa dia tidak yakin bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin akan bereaksi positif terhadap tawaran perdamaian.
"Itu harus dikoordinasikan. Dan jika disetujui, maka Jerman harus berpartisipasi," kata Merz, pemimpin Uni Demokratik Kristen (CDU), seperti dikutip euronews, Selasa (15/4/2025).
Merz mencatat bahwa sekutu Jerman seperti Inggris dan Prancis telah memasok rudal jelajah kepada Ukraina.
Namun, sistem Taurus menawarkan jangkauan yang lebih jauh daripada rudal jelajah Scalp Prancis atau rudal Storm Shadow Inggris. Sistem ini juga memiliki presisi yang diperlukan untuk menghancurkan target kritis seperti pilar jembatan secara efektif.
Merz menyebutkan bahwa sistem Taurus dapat digunakan untuk menargetkan Jembatan Kerch, jalur darat terpenting antara Rusia dan semenanjung Crimea yang dikuasai Rusia.
"Itu akan menjadi salah satu cara untuk akhirnya menempatkan negara ini secara strategis—untuk tetap berpegang pada ketentuan—di atas situasi," jelas Merz, seraya menambahkan bahwa dia tidak yakin bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin akan bereaksi positif terhadap tawaran perdamaian.
Lihat Juga :