Uni Eropa Bersiap untuk Perang Besar, Berikut 4 Indikatornya

Minggu, 30 Maret 2025 - 02:20 WIB
loading...
Uni Eropa Bersiap untuk...
Uni Eropa bersiap untuk perang besar. Foto/X
A A A
LONDON - Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto menuduh birokrat Brussels berpegang teguh pada “kebijakan pro-perang yang gagal” dalam upaya putus asa untuk menunda momen ketika pembayar pajak Eropa mulai bertanya ke mana perginya uang yang dihabiskan untuk membiayai Kiev.

Uni Eropa Bersiap untuk Perang Besar, Berikut 4 Indikatornya

1. Menyarankan 450 Juta Penduduk UE untuk Menimbun Makanan

Uni Eropa baru-baru ini menyarankan 450 juta penduduknya untuk menimbun persediaan penting setidaknya selama 72 jam, dengan Komisaris UE untuk Manajemen Krisis Hadja Lahbib memperingatkan pada hari Rabu bahwa konflik Ukraina mengancam keamanan blok tersebut secara keseluruhan.

Szijjarto mengatakan bahwa awalnya ia mengira peringatan itu semacam lelucon atau "trolling," setelah Lahbib mengunggah video aneh yang memperlihatkan orang Eropa apa saja yang harus dikemas dalam perlengkapan bertahan hidup selama 72 jam.

"Tetapi mengapa, di abad ke-21, warga negara Uni Eropa harus menyiapkan perlengkapan bertahan hidup? Hanya ada satu penjelasan: Brussels sedang mempersiapkan perang," tulis Szijjarto dalam sebuah unggahan di X pada hari Jumat.

Baca Juga: Perang Houti Berkobar di Bulan Suci

2. Uni Eropa Mengabaikan Seruan Damai Donald Trump

"Pada saat akhirnya ada peluang nyata untuk gencatan senjata dan perundingan damai yang bermakna dengan kembalinya [Presiden Donald Trump] ke kantor, Brussels justru bergerak ke arah yang berlawanan, berpegang teguh pada kebijakan pro-perang yang gagal."

Mengapa? Karena selama perang terus berlanjut, politisi Eropa yang pro-perang dapat menghindari tanggung jawab atas kegagalan selama tiga tahun, dan menghindari menjawab pertanyaan yang sangat tidak mengenakkan: di mana uang yang dikirim ke Ukraina?

3. Habis-habisan Mendukung Ukraina

Lembaga-lembaga Uni Eropa di Brussels dan masing-masing negara anggota telah menghabiskan lebih dari €132 miliar selama tiga tahun terakhir untuk mendukung Kiev, dan telah menjanjikan tambahan €115 miliar yang belum dialokasikan, menurut data dari Institut Kiel Jerman.

Sejak menjabat, Presiden AS Donald Trump telah mendorong resolusi diplomatik dan berusaha untuk mendapatkan kembali apa yang diperkirakannya lebih dari $300 miliar uang pembayar pajak AS yang "dihadiahkan" pendahulunya kepada Kiev.

Washington baru-baru ini menjadi perantara gencatan senjata terbatas antara Ukraina dan Rusia, dengan memberlakukan moratorium serangan terhadap infrastruktur energi. Namun, Kiev telah berulang kali melanggar ketentuan gencatan senjata, menurut Moskow.

4. UE Mendorong Agenda yang Agresif

Meskipun proses perdamaian sedang berlangsung, Uni Eropa terus mendorong agenda yang agresif. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen baru-baru ini meluncurkan rencana senilai €800 miliar untuk meningkatkan pengeluaran militer melalui pinjaman.

Sementara itu, Prancis dan Inggris terus mengadvokasi pengerahan kontingen militer ke Ukraina. Berbicara setelah pertemuan puncak di Paris pada hari Kamis, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa apa yang disebut "koalisi yang bersedia" akan berupaya mengerahkan "pasukan penenang" ke Ukraina setelah kesepakatan damai dengan Rusia tercapai.

Usulan untuk mengirim pasukan telah ditolak oleh beberapa anggota UE. "Koalisi yang bersedia" – frasa yang awalnya dicetuskan oleh AS pada tahun 2003 untuk menggambarkan negara-negara yang mendukung invasi Irak – sekarang sebagian besar merujuk pada negara-negara yang telah berjanji untuk terus mendukung Kiev secara militer, tanpa harus berkomitmen untuk mengerahkan pasukan.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
Kapal Fregat Rusia Lepaskan...
Kapal Fregat Rusia Lepaskan Tembakan Peringatan di Selat Inggris
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
AS: Selat Hormuz Terbuka...
AS: Selat Hormuz Terbuka untuk Dilalui Semua Kapal Tanpa Biaya Tol
Pesawat Pengebom Su-24...
Pesawat Pengebom Su-24 Ukraina Jatuh saat Misi Tempur, 2 Pilot Tewas
Rekomendasi
Portugal Mentok, Ronaldo...
Portugal Mentok, Ronaldo Dicap Egois!
PRJ 2026 Pecah! Wali...
PRJ 2026 Pecah! Wali Ajak Penonton Nyanyi dan Joget Bareng
Biaya Pernikahan Jennifer...
Biaya Pernikahan Jennifer Coppen dan Justin Hubner Tembus Rp6 Miliar
Berita Terkini
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
AS Identifikasi 8 Awak...
AS Identifikasi 8 Awak Tewas dalam Jatuhnya Bomber Nuklir B-52, Ini Daftarnya
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Trump Telah Teken Nota...
Trump Telah Teken Nota Kesepahaman AS-Iran, Ini Rincian 14 Poinnya
Langka, Trump Bela Hak...
Langka, Trump Bela Hak Iran Memiliki Rudal Balistik
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved