Mampukah NATO Bertahan Tanpa Kehadiran AS? Ya, Eropa Akan Bergantung pada Turki

Minggu, 09 Maret 2025 - 00:10 WIB
loading...
Mampukah NATO Bertahan...
NATO akan mampu bertahan tanpa kehadiran AS. Foto/Xinhua/Cristian Cristel
A A A
WASHINGTON - Eropa tengah menghadapi kenyataan baru yang mengerikan di mana Amerika Serikat sebagai tulang punggung NATO – aliansi yang telah menjamin keamanan benua itu selama hampir 80 tahun – tidak lagi menjadi hal yang pasti.

Kebencian terbuka Presiden Donald Trump terhadap Volodymyr Zelensky dari Ukraina, kesediaannya untuk merangkul Vladimir Putin dari Rusia, dan komentar-komentar baru-baru ini yang menimbulkan keraguan apakah ia akan membela sekutu-sekutu NATO "jika mereka tidak membayar" telah memaksa para pemimpin Eropa untuk mulai memikirkan hal yang sebelumnya tidak terpikirkan - apakah AS merupakan mitra keamanan yang dapat diandalkan di saat benua itu diguncang oleh perang terbesarnya sejak tahun 1940-an?

Namun, NATO tanpa AS sama sekali tidak akan berdaya, dengan lebih dari satu juta tentara dan persenjataan modern yang dimilikinya dari 31 negara lain dalam aliansi tersebut. NATO juga memiliki kekayaan dan pengetahuan teknologi untuk mempertahankan dirinya sendiri tanpa AS, kata para analis.

AS dan Jerman merupakan kontributor terbesar untuk anggaran militer, anggaran sipil, dan program investasi keamanan NATO, masing-masing hampir 16%, diikuti oleh Inggris sebesar 11% dan Prancis sebesar 10%, menurut lembar fakta NATO. Para analis mengatakan bahwa tidak perlu banyak upaya bagi Eropa untuk mengganti hilangnya kontribusi Washington.

Mampukah NATO Bertahan Tanpa Kehadiran AS? Ya, Eropa Akan Bergantung pada Turki

1. AS Sudah Jadi Urat Nadi bagi NATO

"Jika negara-negara Eropa bersatu dan membeli peralatan yang tepat, Eropa “dapat menjadi pencegah konvensional dan … nuklir yang serius” bagi Rusia," kata Ben Schreer, direktur eksekutif Eropa dari Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS), dalam panggilan Zoom dengan CNN dan jurnalis lainnya pada akhir Februari.

“Eropa sendiri (masih) memiliki kapasitas untuk mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mempertahankan diri, hanya masalah apakah (negara itu) bersedia,” kata Schreer.

Dan itulah pertanyaan kuncinya. Selama lebih dari 75 tahun dan pemerintahan 14 presiden AS yang berbeda, termasuk pemerintahan Trump yang pertama, AS telah menjadi urat nadi yang menjaga aliansi tersebut tetap utuh.

Selama Perang Dingin, pasukan AS di benua itu hadir sebagai pencegah ambisi Soviet untuk memperluas aliansi Pakta Warsawa dan akhirnya mengakhirinya ketika Tembok Berlin runtuh pada tahun 1989. Kampanye NATO di Balkan pada tahun 1990-an dilakukan dengan pasukan dan kekuatan udara AS. Dan, hingga pemerintahan Trump kedua menjabat pada tanggal 20 Januari, Washington mempelopori bantuan untuk Ukraina.

Baca Juga: NATO Terancam Bubar, Eropa Bangun Koalisi Baru

2. Eropa Sudah Jadi Pesaing

Solidaritas trans-Atlantik selama puluhan tahun itu mungkin telah berakhir dalam beberapa hari terakhir, kata para analis.

Pertengkaran Trump di Ruang Oval dengan Zelensky - yang kemudian menghentikan bantuan AS ke Kyiv - "terasa seperti keretakan yang lebih dalam, tidak hanya dengan Ukraina, tetapi juga dengan strategi 'dunia bebas' AS dari Truman hingga Reagan," kata Dan Fried, seorang peneliti senior di Atlantic Council dan mantan asisten menteri luar negeri AS untuk Eropa, di situs web dewan tersebut.

John Lough, seorang mantan pejabat NATO yang sekarang menjadi peneliti asosiasi di lembaga pemikir Chatham House di London, melihat perpecahan yang lebih dalam dalam aliansi tersebut.

"Amerika Serikat merasa bahwa Eropa lebih sebagai pesaing, saingan, daripada sekutu," kata Lough kepada CNN, seraya menambahkan bahwa karena itu komitmen Washington untuk membela sekutu NATO agak diragukan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
Jenderal Tertinggi Ukraina...
Jenderal Tertinggi Ukraina Sebut Rusia Tidak Berhak untuk Eksis, Moskow Marah
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Jet Tempur AS Bombardir...
Jet Tempur AS Bombardir Pulau Qeshm dan Kota Ahvav Iran, 4 Orang Tewas
Trump Murka Houthi Serang...
Trump Murka Houthi Serang 2 Kapal Tanker Saudi, Ancam Gempur Iran Habis-habisan
Rekomendasi
Kritisi Rapat Pleno...
Kritisi Rapat Pleno IX AMPI, Wasekjen Leriadi: Produknya Cacat Hukum
Panda Bond Indonesia...
Panda Bond Indonesia Raih Rating AAA, Purbaya: Ada yang Bilang Saya Bohong
Serial My Chef In Crime...
Serial My Chef In Crime Segera Tayang di VISION+, Gabungkan Misteri Kriminal dengan Dunia Kuliner
Berita Terkini
Serangan Ekstremis Yahudi...
Serangan Ekstremis Yahudi Meningkat di Tepi Barat, Fatah Salahkan Pemerintah Israel
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
Wali Kota Sadiq Khan...
Wali Kota Sadiq Khan Sebut Netanyahu Pelaku Genosida dan Tidak Diterima di London
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Infografis
Krisis Kepercayaan pada...
Krisis Kepercayaan pada F-35 Dorong Eropa Kembangkan Jet Tempur Gen 6
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved