Profil Benzion Mileikowsky, Ayah Benjamin Netanyahu yang Ubah Nama saat Pindah ke Palestina
Senin, 10 Februari 2025 - 13:57 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun pada dasarnya tidak terlalu politis, Benzion percaya pada Israel Raya.
Ketika Rencana Pembagian Palestina oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diterbitkan pada bulan November 1947, dia bergabung dengan orang lain yang menandatangani petisi menentang rencana tersebut yang diterbitkan di New York Times.
Pada tahun 1949, tak lama setelah deklarasi resmi pendirian Negara Israel, Benzion kembali ke Israel dan kemudian menjadi pemimpin redaksi Encyclopaedia Hebraica.
Dia kembali ke AS pada tahun 1957 untuk bekerja di departemen Bahasa Ibrani di Dropsie College di Philadelphia, kemudian pindah ke departemen Studi Ibrani di Universitas Denver, dan akhirnya dia kembali ke New York untuk menjadi profesor Studi Yahudi di Universitas Cornell.
Pada akhir musim panas tahun 1976, tak lama setelah putranya; Yoni Netanyahu terbunuh selama operasi penyelamatan sandera yang terkenal di Entebbe, Benzion dan keluarganya—termasuk putra-putranya; Benjamin Netanyahu dan Iddo Netanyahu—kembali untuk tinggal di Israel untuk selamanya.
Meskipun pencapaian profesional terbesar Benzion adalah karyanya setebal 1.400 halaman tentang Asal-usul Inkuisisi di Spanyol pada Abad Kelima Belas, dia paling dikenal di seluruh dunia sebagai ayah dari Yoni Netanyahu dan Benjamin Netanyahu.
Benzion meninggal pada pagi hari, 30 April 2012, di usia 102 tahun.
Benjamin Netanyahu, putra kedua Benzion, yang menjadi PM Israel sekarang ini, mengatakan pesan terpenting yang dipelajarinya dari ayahnya adalah, "siapa pun yang tidak mengetahui masa lalunya, tidak dapat memahami masa kininya, dan karena itu tidak dapat merencanakan masa depannya."
Ketika Rencana Pembagian Palestina oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diterbitkan pada bulan November 1947, dia bergabung dengan orang lain yang menandatangani petisi menentang rencana tersebut yang diterbitkan di New York Times.
Pada tahun 1949, tak lama setelah deklarasi resmi pendirian Negara Israel, Benzion kembali ke Israel dan kemudian menjadi pemimpin redaksi Encyclopaedia Hebraica.
Dia kembali ke AS pada tahun 1957 untuk bekerja di departemen Bahasa Ibrani di Dropsie College di Philadelphia, kemudian pindah ke departemen Studi Ibrani di Universitas Denver, dan akhirnya dia kembali ke New York untuk menjadi profesor Studi Yahudi di Universitas Cornell.
Pada akhir musim panas tahun 1976, tak lama setelah putranya; Yoni Netanyahu terbunuh selama operasi penyelamatan sandera yang terkenal di Entebbe, Benzion dan keluarganya—termasuk putra-putranya; Benjamin Netanyahu dan Iddo Netanyahu—kembali untuk tinggal di Israel untuk selamanya.
Meskipun pencapaian profesional terbesar Benzion adalah karyanya setebal 1.400 halaman tentang Asal-usul Inkuisisi di Spanyol pada Abad Kelima Belas, dia paling dikenal di seluruh dunia sebagai ayah dari Yoni Netanyahu dan Benjamin Netanyahu.
Benzion meninggal pada pagi hari, 30 April 2012, di usia 102 tahun.
Benjamin Netanyahu, putra kedua Benzion, yang menjadi PM Israel sekarang ini, mengatakan pesan terpenting yang dipelajarinya dari ayahnya adalah, "siapa pun yang tidak mengetahui masa lalunya, tidak dapat memahami masa kininya, dan karena itu tidak dapat merencanakan masa depannya."
(mas)
Lihat Juga :