5 Alasan Pangkalan Militer Tartus di Suriah Sangat Berarti bagi Rusia

Rabu, 05 Februari 2025 - 04:45 WIB
loading...
A A A
Selama beberapa dekade berikutnya, Uni Soviet memasok Suriah dengan persenjataan yang mengesankan: lebih dari 5.000 tank, lebih dari 1.200 pesawat tempur, dan sekitar 70 kapal perang – persenjataan senilai sekitar $26 miliar.

Naiknya Hafez al Assad ke tampuk kekuasaan pada tahun 1970 membuka babak baru dalam hubungan antara kedua negara. Meskipun Assad telah memandang Uni Soviet "dengan curiga" di masa mudanya, ia segera menyadari manfaat kerja sama dengan Moskow.

Pada tahun 1971, ia memberikan akses armada Soviet ke pelabuhan Latakia dan Tartus, dan menerima lebih banyak senjata sebagai balasannya. Pada tahun 1984, jumlah penasihat Soviet dan Eropa Timur di Suriah mencapai puncaknya – 13.000 orang, lebih banyak daripada di negara Arab lainnya.

Hubungan Suriah-Soviet memperoleh signifikansi khusus setelah Mesir menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada tahun 1979 dan beralih ke kubu Barat. Suriah tetap menjadi rezim pro-Soviet terakhir di Timur Tengah.

Untuk mempertahankan pengaruh di wilayah utama ini, Kremlin perlu menjaga Assad dalam orbit pengaruhnya, meskipun Moskow menyadari kemampuannya yang terbatas untuk mencapai tujuan utama Damaskus: pengembalian Dataran Tinggi Golan.

Hubungan Moskow-Damaskus bertahan setelah runtuhnya Uni Soviet, meskipun berkurang secara signifikan.

Bashar al Assad tampak lebih condong ke Barat ketika ia menggantikan ayahnya pada tahun 2000. Ketidakhadiran Rusia di pemakaman Hafez al Assad menegaskan penyimpangan ini.

Salah satu kendala utama adalah utang senjata Suriah senilai USD13,4 miliar pada era Soviet, yang akhirnya diselesaikan pada tahun 2005 ketika Rusia setuju untuk menghapuskan sekitar 75 persen utang tersebut.

Mendinginnya hubungan juga terlihat dari fakta bahwa selama tiga setengah tahun pertama kekuasaannya, Bashar al Assad melakukan sekitar 45 perjalanan ke 25 negara. Moskow berada di urutan paling bawah dalam daftar prioritas penguasa muda itu – ia melakukan kunjungan pertamanya ke Rusia baru pada bulan Januari 2005.

Oleh karena itu, hubungan antara Moskow dan Damaskus tidak pernah menjadi aliansi sederhana dari mitra yang berpikiran sama, melainkan perkawinan yang saling menguntungkan di mana masing-masing pihak mengejar kepentingannya sendiri.

Namun, realitas geopolitik dan tekanan yang semakin besar dari AS mendorong Damaskus kembali ke pelukan Moskow, yang berpuncak pada intervensi militer Rusia dalam konflik Suriah pada tahun 2015.

Secara resmi, Moskow membenarkan intervensinya sebagai perang melawan terorisme internasional. Meningkatnya pengaruh Daesh pada tahun 2013-2014 dianggap sebagai ancaman bagi keamanan Rusia sendiri - para ekstremis dari negara-negara pasca-Soviet memainkan peran penting dalam kelompok ini. Kremlin menyatakan kekhawatiran bahwa Suriah tanpa Assad dapat menjadi tempat berlindung permanen bagi para radikal dari negara-negara tetangga.

Namun, ada motif lain di balik retorika resmi tersebut. Krisis Suriah bertepatan dengan kekecewaan Kremlin yang semakin besar terhadap hubungan dengan Barat.

Hingga tahun 2008, doktrin kebijakan luar negeri Rusia masih berbicara tentang aspirasi untuk "mengubah hubungan Rusia-Amerika menjadi kemitraan strategis". Namun serangkaian peristiwa – dari Perang Irak hingga perluasan NATO ke arah timur – mengubah posisi ini.

Pengalaman intervensi Libya terbukti sangat menyakitkan bagi Moskow. Kremlin yakin Barat telah menyalahgunakan mandat PBB untuk melindungi warga sipil sebagai sarana untuk menggulingkan rezim Gaddafi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
Kapal Fregat Rusia Lepaskan...
Kapal Fregat Rusia Lepaskan Tembakan Peringatan di Selat Inggris
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
8 Fakta Eton College,...
8 Fakta Eton College, Sekolah Elite Pilihan Pangeran George yang Biayanya Rp1,4 Miliar!
Rekomendasi
Kabar Duka, Mantan KSAL...
Kabar Duka, Mantan KSAL Laksamana TNI Purn Achmad Sutjipto Meninggal Dunia
Sandy Tumiwa Unggah...
Sandy Tumiwa Unggah Foto Bareng Tessa Kaunang, Captionnya Bikin Hebol Lagi
Periksa Sony Sonjaya,...
Periksa Sony Sonjaya, Kejagung Dalami Pengajuan Justice Collaborator
Berita Terkini
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved