Siapa Giacomo Lopresti? Mantan Anggota Parlemen Inggris yang Pergi ke Ukraina untuk Berperang Melawan Rusia

Senin, 03 Februari 2025 - 16:24 WIB
loading...
Siapa Giacomo Lopresti?...
Mantan anggota parlemen Inggris Giacomo Lopresti memilih berperang dengan Rusia. Foro/X/@GudadzeLevan
A A A
MOSKOW - Giacomo ‘Jack’ Lopresti, seorang mantan anggota parlemen Inggris berusia 55 tahun telah bergabung dengan militer Ukraina setelah kehilangan kursi parlemennya selama pemilihan tahun lalu.

Melansir The Independent, Giacomo ‘Jack’ Lopresti, mantan anggota parlemen Konservatif yang mewakili daerah pemilihan Filton dan Bradley Stoke di Gloucestershire, sekarang bermarkas di Kiev.

Ukraina telah merekrut pejuang asing sejak meningkatnya konflik dengan Rusia pada tahun 2022. Angkatan bersenjatanya bergulat dengan desersi dan kerugian di medan perang.

Dengan pengalaman sebelumnya sebagai kopral di Cadangan Angkatan Darat Inggris, Lopresti "menggunakan keterampilannya" untuk berkontribusi pada upaya perang Ukraina melawan Rusia.

Ia melakukan perjalanan ke negara itu pada bulan November, beberapa bulan setelah kekalahan telak Partai Konservatif dalam pemilihan umum bulan Juni lalu, dan sejak itu bergabung dengan Legiun Internasional Kiev, unit militer yang didedikasikan untuk para pejuang asing.

Baca Juga: Jumlah Prajurit Makin Menipis, Ukraina Terpaksa Kirim ODGJ ke Medan Perang

Tugasnya saat ini dilaporkan meliputi hubungan luar negeri dan diplomasi, pengadaan senjata, dan bekerja dengan para veteran dan lembaga amal yang beroperasi di Ukraina. Lopresti mengharapkan promosi ke posisi perwira setelah Kiev mengizinkan warga negara asing untuk naik pangkat melampaui pangkat bintara.

Berbicara kepada The Independent, Lopresti menyatakan optimisme tentang prospek Ukraina, dengan mengklaim bahwa moral pasukan tetap tinggi. Hal ini sangat kontras dengan laporan media bahwa militer Ukraina dilemahkan oleh tingkat desersi yang mengejutkan dan kelelahan akibat pertempuran.

Banyak warga negara Ukraina yang menjadi sasaran wajib militer paksa memendam ketakutan akan kematian yang hampir pasti di garis depan, kata The Guardian minggu lalu.

Kiev bergulat dengan krisis pendanaan setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan peninjauan sebagian besar program bantuan asing untuk kemungkinan pemborosan dan korupsi. Sementara bantuan militer untuk Ukraina dilaporkan tidak terpengaruh, presiden AS telah mendesak anggota NATO Eropa untuk menanggung sebagian besar beban.

Pemimpin Ukraina Vladimir Zelensky mengklaim pada akhir pekan bahwa ia tidak tahu ke mana sebagian besar bantuan militer AS senilai USD200 miliar telah digunakan. "Pada kenyataannya, kami menerima sekitar USD76 miliar. Itu bantuan yang signifikan, tetapi bukan USD200 miliar," katanya kepada Associated Press.

Rusia menganggap warga negara asing yang bertempur untuk Kiev sebagai tentara bayaran, menjadikan mereka target yang sah di medan perang dan dapat dituntut. Media Barat sering menggambarkan rekan senegaranya yang tewas dalam konflik Ukraina sebagai relawan yang tidak mementingkan diri sendiri.

Awal bulan ini, Jake Waddington, 34, mantan anggota Royal Anglian Regiment, dilaporkan tewas selama misi pengintaian untuk Kiev. Waddington pergi ke Ukraina setelah kondisi medisnya melarangnya bertugas di militer Inggris.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Paris Melarang Warganya...
Paris Melarang Warganya Minum Alkohol di Tempat Umum Mulai Hari Ini
Rekomendasi
3 Karyawan Percetakan...
3 Karyawan Percetakan Disekap, 2 Pelaku Ditangkap
Ekspor Batu Bara Dibuka...
Ekspor Batu Bara Dibuka Lagi, Pasokan 141 Juta Metrik Ton Diamankan demi Cegah Pemadaman Listrik
Iran Tak Punya Keberuntungan,...
Iran Tak Punya Keberuntungan, Apa yang Terjadi dengan Sepak Bola Teheran?
Berita Terkini
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
3 Alasan Denmark Larang...
3 Alasan Denmark Larang Mengumandangkan Azan, Tidak Ingin Seperti Islamabad
Infografis
3 Alasan Ukraina Selalu...
3 Alasan Ukraina Selalu Didukung Barat dalam Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved