Warga Israel Ejek Rencana Trump Bersihkan Warga Palestina dari Gaza
loading...
A
A
A
Saat ini, ada 5,8 juta pengungsi Palestina terdaftar yang tinggal di puluhan kamp di Tepi Barat yang diduduki, Jalur Gaza, Yordania, Suriah, dan Lebanon.
Sekitar 80% penduduk Gaza adalah pengungsi atau keturunan pengungsi yang mengungsi sejak Nakba tahun 1948, ketika Israel merebut 78% wilayah Palestina yang bersejarah.
Di AS, bahkan beberapa anggota Partai Republik yang setia kepada Trump kesulitan memahami pernyataan presiden.
"Saya benar-benar tidak tahu," ujar Senator Lindsey Graham kepada CNN ketika ditanya apa yang dimaksud presiden dengan pernyataan "pembersihan".
"Gagasan semua orang Palestina akan pergi dan pergi ke tempat lain, saya tidak "melihat hal itu terlalu praktis," ungkap Graham.
Dia menambahkan Trump harus terus berbicara dengan para pemimpin regional, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan pejabat Emirat.
Pemerintah Jerman juga menolak gagasan pemindahan massal warga Palestina pada hari Senin, dengan juru bicara kementerian luar negeri mengatakan kepada wartawan di Berlin bahwa negara itu memiliki pandangan yang sama dengan "Uni Eropa, mitra Arab kami, Perserikatan Bangsa-Bangsa... bahwa penduduk Palestina tidak boleh diusir dari Gaza dan Gaza tidak boleh diduduki secara permanen atau dijajah kembali oleh Israel."
Sebelumnya pada hari Senin, puluhan ribu warga Palestina mengalir ke Gaza utara, daerah kantong yang paling hancur, dengan kerumunan besar yang dengan menantang menyatakan mereka tidak akan diusir dari tanah mereka.
Sami Saleh, yang telah mengungsi beberapa kali, mengatakan kepada MEE bahwa meskipun menghadapi periode pemindahan yang "sangat sulit" selama setahun terakhir, dia senang bisa kembali ke rumah.
"Saya tidak akan menyembunyikan perasaan ini, dan saya tidak melebih-lebihkan ketika saya mengatakan ini: Saya ingin terbang ke utara... perasaan ini sudah ada sejak awal. Terlepas dari semua rasa sakit dan kesulitan, saya harus kembali ke utara apa pun yang terjadi, bahkan jika saya harus berjalan ke sana tanpa alas kaki," ungkap dia.
Sekitar 80% penduduk Gaza adalah pengungsi atau keturunan pengungsi yang mengungsi sejak Nakba tahun 1948, ketika Israel merebut 78% wilayah Palestina yang bersejarah.
Di AS, bahkan beberapa anggota Partai Republik yang setia kepada Trump kesulitan memahami pernyataan presiden.
"Saya benar-benar tidak tahu," ujar Senator Lindsey Graham kepada CNN ketika ditanya apa yang dimaksud presiden dengan pernyataan "pembersihan".
"Gagasan semua orang Palestina akan pergi dan pergi ke tempat lain, saya tidak "melihat hal itu terlalu praktis," ungkap Graham.
Dia menambahkan Trump harus terus berbicara dengan para pemimpin regional, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan pejabat Emirat.
Pemerintah Jerman juga menolak gagasan pemindahan massal warga Palestina pada hari Senin, dengan juru bicara kementerian luar negeri mengatakan kepada wartawan di Berlin bahwa negara itu memiliki pandangan yang sama dengan "Uni Eropa, mitra Arab kami, Perserikatan Bangsa-Bangsa... bahwa penduduk Palestina tidak boleh diusir dari Gaza dan Gaza tidak boleh diduduki secara permanen atau dijajah kembali oleh Israel."
Sebelumnya pada hari Senin, puluhan ribu warga Palestina mengalir ke Gaza utara, daerah kantong yang paling hancur, dengan kerumunan besar yang dengan menantang menyatakan mereka tidak akan diusir dari tanah mereka.
Sami Saleh, yang telah mengungsi beberapa kali, mengatakan kepada MEE bahwa meskipun menghadapi periode pemindahan yang "sangat sulit" selama setahun terakhir, dia senang bisa kembali ke rumah.
"Saya tidak akan menyembunyikan perasaan ini, dan saya tidak melebih-lebihkan ketika saya mengatakan ini: Saya ingin terbang ke utara... perasaan ini sudah ada sejak awal. Terlepas dari semua rasa sakit dan kesulitan, saya harus kembali ke utara apa pun yang terjadi, bahkan jika saya harus berjalan ke sana tanpa alas kaki," ungkap dia.
Lihat Juga :