Jerman Tiba-tiba Ancam China, Ada Apa?

Selasa, 19 November 2024 - 09:01 WIB
loading...
Jerman Tiba-tiba Ancam...
Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock ancam China dengan sanksi atas dugaan Beijing memberikan dukungan militer kepada Rusia dalam perangnya di Ukraina. Foto/Liesa Johannssen-Koppitz/Bloomberg
A A A
BRUSSELS - Pemerintah Jerman tiba-tiba mengancam China dengan sanksi selama pertemuan blok Uni Eropa di Brussels.

Ancaman ini ternyata dipicu oleh oleh laporan intelijen bahwa Beijing memberikan dukungan militer kepada Moskow di tengah perang Rusia-Ukraina.

Menjelang pertemuan blok Uni Eropa pada hari Senin, seorang pejabat senior Uni Eropa mengindikasikan bahwa laporan dari sumber intelijen menunjukkan adanya pabrik di China yang memproduksi pesawat nirawak yang dikirim ke Rusia.

Sumber yang tidak disebutkan namanya itu menggambarkan tuduhan tersebut meyakinkan dan kredibel tetapi mengakui tidak ada bukti yang jelas tentang kerja sama militer langsung antara China dan Rusia.

Baca Juga: Rusia Janji Beri Respons Nyata Jika Diserang Rudal Canggih ATACMS AS

Ancaman Jerman disampaikan Menteri Luar Negeri Annalena Baerbock. Dia mengatakan blok Uni Eropa akan mengambil tindakan jika kerja sama China dan Rusia terkonfirmasi.

“Kami memberlakukan sanksi lebih lanjut terhadap Iran dan juga memperjelas hal ini terkait bantuan pesawat nirawak China, karena hal ini juga harus dan akan memiliki konsekuensi,” kata Baerbock, tanpa memberikan perincian lebih lanjut, seperti dikutip Russia Today, Selasa (19/11/2024).

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani juga mempertimbangkan masalah tersebut, memperingatkan Beijing agar tidak membuat “kesalahan besar” dan menekankan pentingnya mengirim pesan ke China untuk mencegah eskalasi.

China telah menolak tuduhan tersebut sebagai “spekulasi dan fitnah yang tidak berdasar", bersikeras bahwa mereka menangani ekspor produk militer dengan bijaksana dan bertanggung jawab.

“Kami tidak pernah menyediakan senjata mematikan kepada pihak mana pun dalam konflik, dan secara ketat mengontrol ekspor pesawat nirawak militer dan penggunaan ganda sesuai dengan hukum dan peraturan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian.

Di tengah tuduhan Barat memasok Rusia dengan barang-barang yang dapat digunakan untuk produksi senjata, China memberlakukan larangan pada bulan Juli atas ekspor semua pesawat nirawak sipil yang berpotensi digunakan untuk keperluan militer.

“Saya ingin menegaskan kembali bahwa terkait krisis Ukraina, China menegakkan posisi yang objektif dan adil serta secara aktif mempromosikan perundingan damai, yang sangat kontras dengan negara-negara tertentu yang menerapkan standar ganda dan terus menambah bahan bakar ke dalam api krisis Ukraina,” imbuh Lin Jian.

Bulan lalu, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada dua perusahaan China yang memproduksi mesin dan suku cadang pesawat nirawak, dengan klaim bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mengirimkan produk mereka ke Rusia, yang memungkinkan militernya menyerang Ukraina dengan kendaraan udara nirawak jarak jauh.

Pada bulan September, AS mengumumkan sanksi baru terhadap Iran sebagai tanggapan atas dugaan pasokan rudal balistik dan UAV oleh Teheran ke Moskow.

AS juga menuduh Korea Utara memasok peluru artileri dan baru-baru ini mengirim pasukan untuk membantu Rusia.

Militer Ukraina hampir sepenuhnya bergantung pada bantuan asing, sementara pemerintah Kyiv bergantung pada pendanaan internasional untuk menjaga agar lembaga tetap beroperasi dan karyawan tetap terbayar.

Sejak Februari 2022, AS telah mengalokasikan USD182,99 miliar untuk Ukraina, menurut data Pentagon, yang mana USD86,7 miliar telah dicairkan.

Negara-negara Eropa, termasuk Inggris, telah menyumbang sekitar USD127 miliar ke Ukraina selama periode yang sama, menurut data dari Institut Kiel Jerman untuk Ekonomi Dunia.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Menteri Israel Serukan...
Menteri Israel Serukan Penculikan dan Penyanderaan Wanita dan Pemuda Lebanon untuk Tekan Hizbullah
Tegas! Erdogan: Israel...
Tegas! Erdogan: Israel Ancaman bagi Turki dan Dunia
Rekomendasi
Tegang Sejak Pagi! 32...
Tegang Sejak Pagi! 32 Tim Terbaik Liga Bintang Juara Bersaing Menuju Jakarta
Perkuat Penetrasi Pasar,...
Perkuat Penetrasi Pasar, EVO Group Perbarui Kemasan Life Cat dan Ori Cat
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Berita Terkini
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Infografis
Wasit Jerman Daniel...
Wasit Jerman Daniel Siebert Pimpin Final Liga Champions PSG vs Arsenal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved