Peramal Super: Perang Dunia III Segera Pecah di Ukraina, AS Runtuh Tahun 2032
Kamis, 24 Oktober 2024 - 13:18 WIB
loading...
Peramal super asal Amerika Serikat, Martin Arthur Armstrong, memprediksi Perang Dunia III segera pecah di Ukraina yang sebabkan Amerika runtuh pada tahun 2030. Foto/The War Zone
A
A
A
WASHINGTON - Martin Arthur Armstrong, peramal ekonomi kontroversial yang dijuluki "peramal super" telah meramalkan bahwa Perang Dunia III akan segera dimulai di Ukraina, yang akan menyebabkan runtuhnya Amerika Serikat (AS) pada tahun 2032.
Armstrong telah membuat klaim yang mencolok menggunakan komputer bertenaga artificial intelligence (AI) bernama "Socrates" yang diprogramnya untuk memantau umpan berita dunia dan mencari peristiwa berita fundamental yang berkorelasi di balik tren global.
Armstrong, yang menggunakan Socrates untuk memprediksi jatuhnya harga real estate Jepang tahun 1989 dan krisis keuangan Rusia tahun 1998, kini yakin konflik yang terjadi di Ukraina akan meluas menjadi konflik internasional yang lebih luas, berdasarkan analisis data terbaru.
Baca Juga: 10 Negara Diprediksi Terseret Perang Dunia III, Salah Satunya Tetangga Indonesia
"Saya rasa itu satu-satunya sistem artificial intelligence yang nyata di dunia," kata pemodel ekonomi otodidak yang terkenal tersebut kepada DailyMail.
Armstrong menciptakan program AI karena keinginannya untuk menulis perangkat lunak yang dapat mengotomatiskan perdagangan dana lindung nilai pada tahun 1970-an dan 1980-an.
Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai menyadari bahwa kodenya juga dapat mengantisipasi konflik global.
"Orang-orang selalu tahu kapan perang akan pecah," katanya, seperti yang dia gambarkan dari data "daun teh" yang disaring Socrates secara digital.
"Maka tidak akan ada yang menghentikan Perang Dunia III," paparnya.
Jadi, lanjut Armstrong, selalu ada pergerakan modal yang menandakan sebelum konflik dimulai atau meluas, seperti yang mungkin terjadi pada perang di Ukraina.
Dia kemudian menjelaskan bahwa pada bulan Juni 1998, komputer memproyeksikan bahwa Rusia akan runtuh. Itu berubah menjadi krisis manajemen modal jangka panjang.
"Ini semua tentang aliran modal," ujarnya.
Musim panas ini, Armstrong melihat bukti yang meresahkan di luar model keuangan Socrates-nya, ketika sekutu Rusia; Korea Utara, menjanjikan pasukan mereka sendiri untuk dikerahan ke wilayah Donetsk di Ukraina, yang disebut-sebut untuk membantu Rusia dalam upaya rekonstruksi dengan nilai USD115 juta per tahun.
"Ini membuka pintu bagi Barat untuk mengirim pasukan ke Ukraina dengan premis yang sama," tulis Armstrong pada bulan Juni.
"Semua bidak catur sudah sejajar dan siap."
Namun, penemu Socrates tersebut tidak selalu begitu fokus pada perang.
Lahir di New Jersey, Armstrong didorong oleh ayahnya yang seorang pengacara untuk terlibat dengan komputer pada tahun 1960-an—hobi yang memicu ketertarikannya pada pasar di tengah Keruntuhan 1966.
Dia menjadi sangat terobsesi dengan siklus naik turun, menyadari bahwa jenis osilasi yang sama berulang di berbagai pasar.
Jadi, Armstrong membangun model global pada pertengahan 1970-an dan mulai menerbitkan hasilnya pada tahun 1972, menyebut simulasinya sebagai "Model Kepercayaan Ekonomi".
Armstrong telah membuat klaim yang mencolok menggunakan komputer bertenaga artificial intelligence (AI) bernama "Socrates" yang diprogramnya untuk memantau umpan berita dunia dan mencari peristiwa berita fundamental yang berkorelasi di balik tren global.
Armstrong, yang menggunakan Socrates untuk memprediksi jatuhnya harga real estate Jepang tahun 1989 dan krisis keuangan Rusia tahun 1998, kini yakin konflik yang terjadi di Ukraina akan meluas menjadi konflik internasional yang lebih luas, berdasarkan analisis data terbaru.
Baca Juga: 10 Negara Diprediksi Terseret Perang Dunia III, Salah Satunya Tetangga Indonesia
"Saya rasa itu satu-satunya sistem artificial intelligence yang nyata di dunia," kata pemodel ekonomi otodidak yang terkenal tersebut kepada DailyMail.
Armstrong menciptakan program AI karena keinginannya untuk menulis perangkat lunak yang dapat mengotomatiskan perdagangan dana lindung nilai pada tahun 1970-an dan 1980-an.
Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai menyadari bahwa kodenya juga dapat mengantisipasi konflik global.
"Orang-orang selalu tahu kapan perang akan pecah," katanya, seperti yang dia gambarkan dari data "daun teh" yang disaring Socrates secara digital.
"Maka tidak akan ada yang menghentikan Perang Dunia III," paparnya.
Jadi, lanjut Armstrong, selalu ada pergerakan modal yang menandakan sebelum konflik dimulai atau meluas, seperti yang mungkin terjadi pada perang di Ukraina.
Dia kemudian menjelaskan bahwa pada bulan Juni 1998, komputer memproyeksikan bahwa Rusia akan runtuh. Itu berubah menjadi krisis manajemen modal jangka panjang.
"Ini semua tentang aliran modal," ujarnya.
Musim panas ini, Armstrong melihat bukti yang meresahkan di luar model keuangan Socrates-nya, ketika sekutu Rusia; Korea Utara, menjanjikan pasukan mereka sendiri untuk dikerahan ke wilayah Donetsk di Ukraina, yang disebut-sebut untuk membantu Rusia dalam upaya rekonstruksi dengan nilai USD115 juta per tahun.
"Ini membuka pintu bagi Barat untuk mengirim pasukan ke Ukraina dengan premis yang sama," tulis Armstrong pada bulan Juni.
"Semua bidak catur sudah sejajar dan siap."
Namun, penemu Socrates tersebut tidak selalu begitu fokus pada perang.
Lahir di New Jersey, Armstrong didorong oleh ayahnya yang seorang pengacara untuk terlibat dengan komputer pada tahun 1960-an—hobi yang memicu ketertarikannya pada pasar di tengah Keruntuhan 1966.
Dia menjadi sangat terobsesi dengan siklus naik turun, menyadari bahwa jenis osilasi yang sama berulang di berbagai pasar.
Jadi, Armstrong membangun model global pada pertengahan 1970-an dan mulai menerbitkan hasilnya pada tahun 1972, menyebut simulasinya sebagai "Model Kepercayaan Ekonomi".
Lihat Juga :