Kim Jong-un Terus Halangi Unifikasi Korea ala Demokrasi Liberal dari Korsel

Rabu, 23 Oktober 2024 - 15:16 WIB
loading...
A A A
Menurut Chung Eui-sung, Kim Jong-un telah mencabut proses unifikasi damai versi Korea Utara yang sebelumnya menekankan slogan-slogan seperti revolusi Korea Selatan, pembangunan kubu unifikasi, dan unifikasi damai melalui negosiasi, yang bertujuan membangun sistem federal selama 70 tahun terakhir di bawah rezim keluarga Kim, yang terdiri dari tiga generasi.

‘’Ia juga menghapus istilah-istilah seperti 'unifikasi independen,' 'unifikasi damai,' 'persatuan nasional yang hebat,' dan 'bangsa kita yang utama’,'’ paparnya.

Lebih jauh, lanjut dia, Kim Jong-un secara eksplisit telah mengungkapkan kebijakan unifikasi melalui kekuatan militer, dengan menegaskan bahwa jika terjadi perang, Korea Utara akan sepenuhnya menduduki, menenangkan, dan merampas Korea Selatan.

‘’Kim menyatakan bahwa hubungan antara kedua Korea bukan lagi hubungan kekerabatan, melainkan hubungan 'dua negara' yang bermusuhan—'kondisi perang total' atau keadaan perang,’’ ungkapnya.

Hal ini jelas menandai penolakan total terhadap Perjanjian Dasar Antar-Korea (1991), yang bertujuan untuk rekonsiliasi, non-agresi, dan kerja sama antar-Korea. Menurut Chung Eui-sung, sikap Kim Jong-un, yang memanfaatkan kemampuan nuklir Korea Utara, dapat dilihat sebagai upaya oportunistik untuk mengeksploitasi sinyal dinamika Perang Dingin baru yang muncul di Asia Timur Laut dan ketidakstabilan tatanan internasional liberal, yang pada akhirnya bertujuan merusak perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.

Salah satu aspek yang paling mencolok dari kebijakan kontras antara kedua Korea adalah penekanan pada 'hak untuk tahu' bagi warga Korea Utara. Presiden Yoon menyoroti pentingnya memperluas akses informasi dengan menyatakan, 'Banyak pembelot Korea Utara telah menyadari kebohongan dan propaganda rezim Korea Utara melalui siaran radio dan TV kita, dan sangat penting untuk menyadarkan warga Korea Utara tentang nilai-nilai kebebasan.'

Baca Juga: Korea Selatan Butuh Senjata Nuklir, Berikut 4 Alasannya

Fokus pada perluasan akses informasi ini tampaknya didasarkan pada analisis kesaksian dari banyak diplomat Korea Utara yang baru membelot serta warga Korea Utara di luar negeri, yang mengklaim bahwa 'hak untuk tahu' bagi warga Korea Utara memainkan peran penting dalam melemahkan kelangsungan hidup rezim tersebut.

Penekanan Presiden Yoon pada isu ini menunjukkan bahwa akses terhadap informasi yang akurat dapat membantu membongkar propaganda rezim tersebut, serta menumbuhkan kesadaran yang lebih besar di antara warga Korea Utara tentang realitas pemerintahan mereka dan kebebasan yang dinikmati di belahan dunia lain.

‘’Sebagai tanggapan, Kim Jong-un semakin khawatir bahwa kekaguman terhadap Korea Selatan di kalangan warga Korea Utara, termasuk elitnya, dapat menyebabkan unifikasi yang dipimpin oleh Korea Selatan,’’ ungkap Chung Eui-sung yang merupaka salah satu pembelot dari Korea Utara. Ketakutan ini telah mendorongnya untuk mengintensifkan upaya memblokir penyebaran 'Gelombang Korea' (Hallyu).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gunakan Semut Jadi Hiasan...
Gunakan Semut Jadi Hiasan Makanan, Pemilik Restoran Berbintang Michelin Ini Dipenjara
Langka, Sekutu AS Minta...
Langka, Sekutu AS Minta Tolong Korut Cari Tentara Seoul yang Hilang di Perbatasan
Setelah Bikin Marah...
Setelah Bikin Marah Kim Jong-un, Korut Sukes Tembakkan Rudal dari Kapal Perang 5.000 Ton
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
5 Fakta Kim Jong-un...
5 Fakta Kim Jong-un Enggan Berbicara tentang Ibunya, Dijuluki Anak Haram dari Seorang Selir
10 Negara Paling Cocok...
10 Negara Paling Cocok untuk Solo Traveling, Aman dan Ramah Wisatawan
AS Resmi Jalin Kerja...
AS Resmi Jalin Kerja Sama Nuklir dengan Arab Saudi di Tengah Konflik Iran
Terungkap! AS Beri Syarat...
Terungkap! AS Beri Syarat Saudi Berdamai dengan Israel untuk Lanjutkan Perjanjian Nuklir
Rekomendasi
Ditransfer Ruben Onsu...
Ditransfer Ruben Onsu Rp75 Juta, Sarwendah Dikabarkan Protes
HWB Serang Resmi Diluncurkan...
HWB Serang Resmi Diluncurkan Besok , Harga Mulai dari Rp101 Juta
Kendalikan Konsumsi...
Kendalikan Konsumsi BBM Subsidi saat Harga Minyak Dunia Mendidih, Purbaya Sebut Kuota Tetap
Berita Terkini
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
Ini Sosok Pangeran Arab...
Ini Sosok Pangeran Arab Saudi yang Tewas di Hotel Mewah usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
Menteri Israel Gabung...
Menteri Israel Gabung 4.000 Massa Yahudi Serbu Kompleks Masjid Al-Aqsa
Jenderal Tertinggi Ukraina...
Jenderal Tertinggi Ukraina Sebut Rusia Tidak Berhak untuk Eksis, Moskow Marah
Infografis
Kim Jong-un Janji Perbanyak...
Kim Jong-un Janji Perbanyak Bom Nuklir saat Trump Ingin Lucuti Senjata Korut
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved