Kim Jong-un Terus Halangi Unifikasi Korea ala Demokrasi Liberal dari Korsel

Rabu, 23 Oktober 2024 - 15:16 WIB
loading...
Kim Jong-un Terus Halangi...
Banyak warga Korea Selatan mengharapkan unifikasi segera terwujud, tapi pemimpin Korea Utara selalu menghalangi. Foto/X/@collinseow
A A A
SEOUL - Dengan berpegang teguh pada semangat konstitusi demokrasi liberal, pendekatan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol memainkan peran penting dalam mengubah krisis yang mengancam di Semenanjung Korea menjadi peluang untuk unifikasi.

Doktrin unifikasi Korea berfungsi sebagai respons strategis terhadap tantangan saat ini, dengan menawarkan visi yang pada akhirnya dapat mengarahkan rakyat Korea menuju masa depan yang bersatu.

Presiden Yoon menyampaikan "Doktrin Unifikasi 15 Agustus" pada kesempatan peringatan 79 tahun Hari Kemerdekaan Korea Selatan. Dalam pidato Hari Kemerdekaannya, Presiden Yoon menekankan, "Tugas yang belum selesai yang tersisa bagi kita adalah unifikasi, dan hanya ketika sebuah negara yang bebas, demokratis, dan bersatu didirikan di mana semua orang di Semenanjung Korea menjadi penguasa sejati, maka kemerdekaan penuh akan tercapai. "

Direktur World Institute for North Korea Studies, Chung Eui-sung, mengungkapkan deklarasi tersebut menggarisbawahi gagasan bahwa kemerdekaan dan pendirian Korea sebagai satu negara adalah proses yang berkelanjutan.

‘’Dan hal ini hanya dapat sepenuhnya terwujud melalui pencapaian unifikasi berdasarkan demokrasi liberal,’’ ungkap Chung Eui-sung dalam keterangannya kepada sindonews di Jakarta.

Selain itu, Presiden Yoon mengumumkan kerangka kerja "3-3-7" untuk visi unifikasi masa depan Korea, yang terdiri dari "Tiga Visi Unifikasi Utama," "Tiga Strategi Unifikasi Utama," dan "Tujuh Rencana Aksi Unifikasi Utama."

Visi unifikasi tersebut adalah sebagai berikut: (1) Bangsa yang bahagia dengan jaminan kebebasan dan keamanan, (2) Bangsa yang kuat dan makmur yang melangkah maju melalui kreativitas dan inovasi, dan (3) Bangsa yang berkontribusi pada perdamaian dan kemakmuran global. Tiga strategi utama tersebut meliputi (1) menumbuhkan nilai-nilai dan kapasitas untuk unifikasi bebas, (2) mendorong keinginan rakyat Korea Utara untuk unifikasi bebas, dan (3) mengamankan dukungan internasional.

Presiden Yoon juga menekankan pentingnya kebebasan, dengan menegaskan bahwa tatanan dan norma harus menjadi landasan. Dalam melakukannya, ia memperingatkan tentang propaganda palsu dan argumen pseudologis dari kekuatan anti-kebebasan dan anti-unifikasi yang berusaha menghalangi unifikasi.

Khususnya, dalam rencana aksi unifikasi, penekanan signifikan diberikan pada peningkatan hak asasi manusia (HAM) di Korea Utara, memastikan hak untuk bertahan hidup, dan memperluas akses terhadap informasi. ‘’Rencana tersebut juga menyoroti upaya untuk mendapatkan dukungan dari komunitas internasional, dengan berfokus pada HAM di Korea Utara,’’ jelas Chung Eui-sung.

Doktrin 15 Agustus yang diinisiasi oleh Presiden Yoon sangat kontras dengan pendekatan yang diambil oleh pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Pada bulan Desember tahun lalu, Kim menyatakan bahwa Korea Selatan bukanlah rekan senegara, melainkan 'negara musuh' selama sesi pleno Partai, serta mengandalkan kekuatan militer sebagai bagian dari strateginya terhadap Korea Selatan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Korea Utara Marah AS...
Korea Utara Marah AS Jual Rudal Canggih ke Korea Selatan, Menyebutnya Ekspor Perang
Menjaga Persahabatan...
Menjaga Persahabatan atau Menebar Pengaruh, 6 Alasan Xi Jinping Berkunjung ke Korut
Hubungan China dan Korut...
Hubungan China dan Korut Masuki Tahap Awal yang Baru
AS Serukan Korut Denuklirisasi,...
AS Serukan Korut Denuklirisasi, Adik Kim Jong-un: Mimpi Usang!
Siapa Han Seong-sook?...
Siapa Han Seong-sook? PM Korea Selatan Perempuan Pimpin Transformasi AI
Bandung Disulap Jadi...
Bandung Disulap Jadi Korea Mini, Ribuan Pengunjung Serbu Festival K-Food Halal dan K-Culture
WNI Dikeroyok dan Dianiaya...
WNI Dikeroyok dan Dianiaya di Malaysia, Polisi Amankan 4 Orang yang Terlibat
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Ben Gvir Batal ke AS, Dipersulit Dapat Visa?
Rekomendasi
Ajukan Jadi JC, Mantan...
Ajukan Jadi JC, Mantan Waka BNN Sony Sonjaya Diperiksa di Kejagung Besok
7 Fakta Menarik Inggris...
7 Fakta Menarik Inggris Hancurkan Kroasia di Piala Dunia 2026
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
Berita Terkini
Serangan Israel ke Lebanon...
Serangan Israel ke Lebanon Bisa Gagalkan Perdamaian AS dan Iran, Ini 3 Alasannya
4 Alasan Iran Mampu...
4 Alasan Iran Mampu Memberikan Pukulan Telak ke Amerika Serikat dan Israel
Mengapa Kekejaman Israel...
Mengapa Kekejaman Israel di Lebanon Bisa Picu Pembalasan dari Iran?
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Infografis
Korut Gelar Latihan...
Korut Gelar Latihan Serangan Balik Nuklir Dipantau Kim Jong-un
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved