Pasukan PBB di Lebanon Waspada Militer Israel Bangun Pangkalan di Dekatnya
Rabu, 09 Oktober 2024 - 07:45 WIB
loading...
A
A
A
Dia menekankan, "Namun, penarikan pasukan ini dapat mendorong Israel untuk lebih meningkatkan operasi mereka karena tidak akan ada pengawasan."
Gambar yang diperoleh penyiar negara Irlandia RTE, yang menurut militer Irlandia tidak dapat dipublikasikan karena alasan keamanan, menunjukkan sekitar 20 buah peralatan militer Israel, termasuk tank dan kendaraan lapis baja, yang ditempatkan tepat di sebelah pos PBB.
Pasukan Irlandia yang ditempatkan di 6-52 ditempatkan di pangkalan yang lebih besar, Kamp Shamrock, sekitar tujuh kilometer jauhnya, yang juga mengawasi kamp 6-50, yang diawaki kontingen Polandia.
Pada Minggu, Israel menggempur desa Yaroun, dekat Bint Jbeil. Rekaman menunjukkan area tersebut, yang menurut Israel berisi infrastruktur pejuang, sebagian besar hancur menjadi puing-puing, termasuk Masjid Al-Imam Ali ibn Abi Taleb.
Yaroun terletak hanya dua kilometer dari kamp 6-50, yang berada di satu bukit di sepanjang Garis Biru, kuasi-perbatasan yang memisahkan Lebanon dari Israel, dan memiliki garis pandang ke barat, selatan, dan timur kota, menurut RTE.
"Akan menjadi perkembangan yang sangat berbahaya bagi Unifil untuk dipaksa keluar dari Lebanon selatan," papar David Wood, analis Lebanon di International Crisis Group.
Dia menjelaskan, "Meskipun sebagian besar penduduk telah dievakuasi, kehadiran Unifil yang berkelanjutan berpotensi memiliki pengaruh yang menenangkan bagi kedua belah pihak, membantu mengurangi kekerasan dan kehancuran di area tersebut."
Hizbullah pada Senin mengatakan para pejuangnya telah diperintahkan tidak terlibat dengan pasukan Israel di area tersebut untuk "melestarikan nyawa para prajurit pasukan internasional", dan menuduh Israel menggunakan pasukan penjaga perdamaian PBB sebagai "perisai manusia" yang efektif untuk memungkinkan kemajuan mereka ke utara.
Rizk mengatakan Hizbullah ingin tampil sebagai "aktor rasional" dalam konflik saat ini dan terlihat menghormati lembaga PBB, berbeda dengan Israel, yang menuduh banyak dari mereka menahan "militan" atau memiliki agenda anti-Israel.
"Hizbullah telah lama berusaha menunjukkan Lebanon selatan adalah lingkungan yang ramah bagi pasukan Unifil dan janjinya untuk tidak membahayakan pasukan ini sejalan dengan ideologinya sendiri yang sangat berbeda dari kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda yang sebelumnya telah menyerang pasukan PBB," jelas dia.
Middle East Eye menghubungi Unifil untuk meminta komentar tetapi tidak menerima komentar hingga saat berita ini diterbitkan.
Pangkalan Israel
Gambar yang diperoleh penyiar negara Irlandia RTE, yang menurut militer Irlandia tidak dapat dipublikasikan karena alasan keamanan, menunjukkan sekitar 20 buah peralatan militer Israel, termasuk tank dan kendaraan lapis baja, yang ditempatkan tepat di sebelah pos PBB.
Pasukan Irlandia yang ditempatkan di 6-52 ditempatkan di pangkalan yang lebih besar, Kamp Shamrock, sekitar tujuh kilometer jauhnya, yang juga mengawasi kamp 6-50, yang diawaki kontingen Polandia.
Pada Minggu, Israel menggempur desa Yaroun, dekat Bint Jbeil. Rekaman menunjukkan area tersebut, yang menurut Israel berisi infrastruktur pejuang, sebagian besar hancur menjadi puing-puing, termasuk Masjid Al-Imam Ali ibn Abi Taleb.
Yaroun terletak hanya dua kilometer dari kamp 6-50, yang berada di satu bukit di sepanjang Garis Biru, kuasi-perbatasan yang memisahkan Lebanon dari Israel, dan memiliki garis pandang ke barat, selatan, dan timur kota, menurut RTE.
"Akan menjadi perkembangan yang sangat berbahaya bagi Unifil untuk dipaksa keluar dari Lebanon selatan," papar David Wood, analis Lebanon di International Crisis Group.
Dia menjelaskan, "Meskipun sebagian besar penduduk telah dievakuasi, kehadiran Unifil yang berkelanjutan berpotensi memiliki pengaruh yang menenangkan bagi kedua belah pihak, membantu mengurangi kekerasan dan kehancuran di area tersebut."
Hizbullah pada Senin mengatakan para pejuangnya telah diperintahkan tidak terlibat dengan pasukan Israel di area tersebut untuk "melestarikan nyawa para prajurit pasukan internasional", dan menuduh Israel menggunakan pasukan penjaga perdamaian PBB sebagai "perisai manusia" yang efektif untuk memungkinkan kemajuan mereka ke utara.
Rizk mengatakan Hizbullah ingin tampil sebagai "aktor rasional" dalam konflik saat ini dan terlihat menghormati lembaga PBB, berbeda dengan Israel, yang menuduh banyak dari mereka menahan "militan" atau memiliki agenda anti-Israel.
"Hizbullah telah lama berusaha menunjukkan Lebanon selatan adalah lingkungan yang ramah bagi pasukan Unifil dan janjinya untuk tidak membahayakan pasukan ini sejalan dengan ideologinya sendiri yang sangat berbeda dari kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda yang sebelumnya telah menyerang pasukan PBB," jelas dia.
Middle East Eye menghubungi Unifil untuk meminta komentar tetapi tidak menerima komentar hingga saat berita ini diterbitkan.
Lihat Juga :