Setelah 142 Tahun, Militer AS Minta Maaf atas Genosida Suku Asli Alaska

Minggu, 22 September 2024 - 13:06 WIB
loading...
A A A
Hubungan antara AS dan penduduk asli Amerika sering kali penuh gejolak setelah Amerika Serikat membeli Alaska dari Rusia pada tahun 1867.

Sebuah perjanjian antara Rusia dan penduduk asli yang ditandatangani pada awal abad ke-19 menjaga perdamaian di seluruh wilayah, tetapi militer AS mempertahankan kebijakan yang “memaafkan” penggunaan kekuatan mematikan untuk mempertahankan dominasi Amerika.

Kesalahpahaman karena perbedaan bahasa, pandangan dunia, dan sistem hukum sering kali menyebabkan Amerika Serikat merespons melalui pengeboman brutal terhadap pemukiman penduduk asli.

Pada tahun 1869, seorang tentara militer AS membunuh dua orang Lingít yang tidak bersenjata di sebuah kano.

Setelah komandan Amerika AS menolak untuk menawarkan ganti rugi atas tindakan tersebut sesuai dengan adat istiadat penduduk asli, suku Lingít membunuh dua pedagang bulu sebagai respons.

"Selama suku-suku asli... tidak merasakan kekuatan pemerintah dan tidak dihukum karena pelanggaran yang mencolok, mereka akan menjadi semakin berbahaya," tulis pemungut pajak federal Alaska William Morris, yang mencerminkan hubungan permusuhan yang terjadi saat itu.

Amerika Serikat mengirim USS Saginaw untuk menembaki penuduk asli di Kake. Pasukan AS menyerbu desa itu dan meratakannya dengan tanah, membakar rumah, kano, dan toko makanan yang diandalkan penduduk asli untuk bertahan hidup di bulan-bulan musim dingin yang keras.

Banyak orang meninggal dalam beberapa minggu akibat kelaparan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
MoU Ditandatangani,...
MoU Ditandatangani, Iran Nyatakan Kemenangan Atas AS
Trump Ingin Buru-Buru...
Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran, Tak Menunggu 19 Juni
Rekomendasi
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
RCTI Hadirkan Sinetron...
RCTI Hadirkan Sinetron Komedi Komunal Terbaru Tobat Jatuh Cinta, Kisah Empat Janda di Kampung Sindang Barang!
Berita Terkini
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Infografis
Iran-Israel Perang,...
Iran-Israel Perang, Ini Peta Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved