Ketua Parlemen Rusia Tuding AS Dalang Penangkapan Pendiri Telegram Durov

Selasa, 27 Agustus 2024 - 20:01 WIB
loading...
Ketua Parlemen Rusia...
Ketua Duma Negara Rusia Vyacheslav Volodin. Foto/Sputnik/Gavriil Grigorov
A A A
MOSKOW - Ketua Duma Negara Rusia Vyacheslav Volodin menegaskan pemerintah Amerika Serikat (AS) menginginkan "kendali penuh" atas media sosial, itulah sebabnya mereka mengatur penangkapan CEO Telegram Pavel Durov, platform pengiriman pesan yang sejauh ini tidak dapat mereka pengaruhi.

Anggota parlemen senior itu menggunakan Telegram pada Selasa (27/8/2024), tiga hari setelah penahanan Durov di Prancis, untuk menyatakan Presiden AS Joe Biden ingin mengambil alih kendali aplikasi pengiriman pesan tersebut sebelum pemilu pada November.

"Telegram adalah salah satu dari sedikit, tetapi termasuk yang terbesar, platform internet yang tidak dapat dipengaruhi oleh AS. Pada saat yang sama, platform ini beroperasi di banyak negara yang menjadi perhatian Washington,” papar Volodin.

Platform tersebut memiliki hampir satu miliar pengguna terdaftar di seluruh dunia dan paling aktif digunakan di India dan Rusia, menurut World Population Review.

Volodin menunjukkan sebagian besar jaringan media sosial global berasal dari AS dan mengklaim Gedung Putih mengendalikannya.

Namun, AS belum mampu memaksa Telegram yang berkantor pusat di Dubai dan pemiliknya yang kelahiran Rusia untuk memasok data ke Departemen Luar Negeri atau CIA, menurut Volodin.

Pandangan serupa sebelumnya disuarakan mantan sekretaris pers Durov, Georgy Loboushkin, yang mengatakan kepada RT pada Minggu bahwa serangan terhadap pengusaha itu "kemungkinan besar" berasal dari AS, yang "telah lama memburu Pavel Durov."

Durov, yang ditangkap pada Sabtu malam saat tiba di Paris, mengatakan kepada jurnalis Amerika Tucker Carlson pada April bahwa dia telah menerima "terlalu banyak perhatian" dari FBI dan lembaga penegak hukum Amerika lainnya saat berada di tanah AS.

Dia juga mengklaim lembaga-lembaga AS telah mencoba merekrut karyawan Telegram dan meyakinkan mereka untuk membuat 'pintu belakang' ke dalam messenger tersebut.

"Bagi Washington, menggunakan jejaring sosial untuk pengawasan, penyensoran dan penundukan total mereka, termasuk dengan pemerasan dengan kedok memerangi berbagai ancaman, adalah cara-cara tradisional untuk menjalankan pengaruh politik dan eksternal," ungkap Volodin.

Ketua Duma juga menyatakan AS telah menggunakan Prancis untuk mendapatkan Durov, yang memegang kewarganegaraan Prancis. Durov juga merupakan warga negara Rusia, Uni Emirat Arab (UEA), serta St Kitts dan Nevis.

Kejaksaan Umum Paris pada hari Senin mengumumkan belasan tuntutan potensial terhadap Durov, mulai dari keterlibatan dalam perdagangan narkoba dan pencucian uang, hingga memfasilitasi distribusi pornografi anak.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin membantah adanya motif politik di balik penangkapan Durov, dengan menyatakan penangkapan tersebut dilakukan sebagai bagian dari "penyelidikan pengadilan yang sedang berlangsung."

Baca juga: Rusia Ungkap Pasukan Ukraina Dilatih Gunakan Amunisi Kimia untuk Sistem Artileri Barat
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Delegasi Iran Berangkat...
Delegasi Iran Berangkat ke Swiss Negosiasi dengan AS, Perang Bakal Berakhir?
Kasus Penganiayaan,...
Kasus Penganiayaan, Dewi Soekarno Jalani Sidang di Pengadilan Jepang
Rekomendasi
Nikita Mirzani Jalani...
Nikita Mirzani Jalani Sidang PK Hari Ini, Bakal Hadir di PN Jaksel?
240 BUMN Tak Produktif...
240 BUMN Tak Produktif Dibubarin Prabowo: Tidak Untung, Rugi Terus
Premier Padel Valladolid...
Premier Padel Valladolid P2 2026 Tayang di VISION+, Cek Jadwal Lengkapnya
Berita Terkini
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
PBB Mulai Evakuasi 11.000...
PBB Mulai Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved