Khamenei Perintahkan Iran Serang Israel, Balas Dendam Pembunuhan Ismail Haniyeh
Kamis, 01 Agustus 2024 - 08:40 WIB
loading...
A
A
A
Selama hampir 10 bulan perang di Gaza, Iran telah mencoba untuk mencapai keseimbangan, memberikan tekanan pada Israel dengan serangan yang meningkat tajam oleh sekutunya dan pasukan proksi di wilayah tersebut, sambil menghindari perang habis-habisan antara kedua negara.
Dalam serangan terbesar dan paling terbuka terhadap Israel, Iran meluncurkan ratusan rudal dan pesawat nirawak pada bulan April sebagai balasan atas serangan Israel di kompleks kedutaan Iran yang menewaskan beberapa komandan militer Iran di Ibu Kota Suriah, Damaskus.
"Sekarang tidak jelas seberapa kuat Iran akan merespons, dan apakah akan sekali lagi mengkalibrasi serangannya untuk menghindari eskalasi. Komandan militer Iran sedang mempertimbangkan serangan kombinasi lain dari pesawat nirawak dan rudal terhadap target militer di sekitar Tel Aviv dan Haifa, tetapi akan berusaha menghindari serangan terhadap target sipil," kata pejabat Iran.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah serangan terkoordinasi dari Iran dan negara-negara lain tempat Iran bersekutu dengan pasukannya, termasuk Yaman, Suriah, dan Irak, untuk mendapatkan efek yang maksimal, imbuh para pejabat Iran.
Khamenei, yang memegang keputusan akhir atas semua masalah negara dan juga panglima tertinggi angkatan bersenjata, menginstruksikan komandan militer dari IRGC dan Angkatan Darat untuk menyiapkan rencana serangan dan pertahanan jika perang meluas dan Israel atau AS menyerang Iran, lanjut para pejabat tersebut.
Dalam pernyataan publiknya tentang kematian Haniyeh, Khamenei mengisyaratkan bahwa Iran akan membalas dendam secara langsung, dengan mengatakan: "Kami melihat pembalasan atas darahnya sebagai tugas kami," karena itu terjadi di wilayah Republik Islam Iran.
Dia mengatakan Israel telah menyiapkan panggung untuk menerima "hukuman berat".
Pejabat Iran lainnya, termasuk presiden yang baru terpilih, Masoud Pezeshkian, Kementerian Luar Negeri, IRGC, dan misi Iran di PBB, juga mengatakan secara terbuka bahwa Iran akan membalas dendam terhadap Israel dan bahwa negara itu berhak membela diri terhadap pelanggaran kedaulatannya.
Dalam serangan terbesar dan paling terbuka terhadap Israel, Iran meluncurkan ratusan rudal dan pesawat nirawak pada bulan April sebagai balasan atas serangan Israel di kompleks kedutaan Iran yang menewaskan beberapa komandan militer Iran di Ibu Kota Suriah, Damaskus.
"Sekarang tidak jelas seberapa kuat Iran akan merespons, dan apakah akan sekali lagi mengkalibrasi serangannya untuk menghindari eskalasi. Komandan militer Iran sedang mempertimbangkan serangan kombinasi lain dari pesawat nirawak dan rudal terhadap target militer di sekitar Tel Aviv dan Haifa, tetapi akan berusaha menghindari serangan terhadap target sipil," kata pejabat Iran.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah serangan terkoordinasi dari Iran dan negara-negara lain tempat Iran bersekutu dengan pasukannya, termasuk Yaman, Suriah, dan Irak, untuk mendapatkan efek yang maksimal, imbuh para pejabat Iran.
Khamenei, yang memegang keputusan akhir atas semua masalah negara dan juga panglima tertinggi angkatan bersenjata, menginstruksikan komandan militer dari IRGC dan Angkatan Darat untuk menyiapkan rencana serangan dan pertahanan jika perang meluas dan Israel atau AS menyerang Iran, lanjut para pejabat tersebut.
Dalam pernyataan publiknya tentang kematian Haniyeh, Khamenei mengisyaratkan bahwa Iran akan membalas dendam secara langsung, dengan mengatakan: "Kami melihat pembalasan atas darahnya sebagai tugas kami," karena itu terjadi di wilayah Republik Islam Iran.
Dia mengatakan Israel telah menyiapkan panggung untuk menerima "hukuman berat".
Pejabat Iran lainnya, termasuk presiden yang baru terpilih, Masoud Pezeshkian, Kementerian Luar Negeri, IRGC, dan misi Iran di PBB, juga mengatakan secara terbuka bahwa Iran akan membalas dendam terhadap Israel dan bahwa negara itu berhak membela diri terhadap pelanggaran kedaulatannya.
Lihat Juga :