alexametrics

AS-Iran Memanas, Jerman dan Belanda Tunda Operasi Pelatihan di Irak

loading...
AS-Iran Memanas, Jerman dan Belanda Tunda Operasi Pelatihan di Irak
Jerman dan Belanda menangguhkan operasi pelatihan militer di Irak karena ketegangan antara AS dan Iran. Foto/Istimewa
A+ A-
BERLIN - Jerman dan Belanda menangguhkan operasi pelatihan militer di Irak. Hal itu dilakukan setelah Amerika Serikat (AS) memperingatkan meningkatnya ancaman dari pasukan yang didukung Iran di tengah meningkatnya keteganangan antara Washington dan Teheran.

Seorang juru bicara kementerian pertahanan Jerman mengatakan Berlin tidak memiliki indikasi tentang serangan yang akan datang terhadap kepentingan Barat oleh Iran dan mengatakan program pelatihan dapat dilanjutkan dalam beberapa hari mendatang.

Sedangkan sumber pemerintah Belanda juga mengumumkan penangguhan operasi pelatihan militer, dengan alasan ancaman keamanan yang tidak spesifik seperti dikutip dari Reuters, Kamis (16/5/2019).



Jerman memiliki 160 tentara yang terlibat dalam pelatihan pasukan Irak yang berusaha menahan gerilyawan Negara Islam atau ISIS. Sementara Belanda memiliki 169 personel militer dan sipil di Irak, termasuk sekitar 50 di Erbil, tempat mereka membantu melatih pasukan Kurdi.

Kantor berita Belanda ANP mengatakan pasukan Belanda telah diperintahkan untuk tetap di dalam barak sejak Minggu.

Sebelumnya pada hari Rabu, Departemen Luar Negeri AS memerintahkan penarikan beberapa karyawan dari kedutaan besarnya di Baghdad dan konsulatnya di Erbil.

Baca juga: AS Perintahkan Staf di Irak untuk Segera Hengkang

Perintah itu datang ketika ketegangan meningkat antara Amerika Serikat dan Iran. Washington telah menerapkan tekanan sanksi baru terhadap Teheran dan mengirim pasukan tambahan ke Timur Tengah, dengan mengatakan ada peningkatan ancaman dari Iran untuk kepentingan AS di Timur Tengah.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak