Bekas Diplomat Korut: Kim Jong-un Tak Akan Serahkan Senjata Nuklir
Rabu, 20 Februari 2019 - 02:24 WIB
Bekas Diplomat Korut: Kim Jong-un Tak Akan Serahkan Senjata Nuklir
A
A
A
SEOUL - Seorang mantan diplomat Korea Utara (Korut) mengatakan pemimpin negara tersebut, Kim Jong-un , tidak berniat menyerahkan senjata nuklirnya. Menurutnya, pemimpin muda itu melihat pertemuan puncaknya yang kedua dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai kesempatan untuk memperkuat status negaranya sebagai negara bersenjata nuklir .
Mantan diplomat bernama Thae Yong Ho itu telah membelot ke Korea Selatan pada tahun 2016. Dalam sebuah konferensi pers di Seoul pada hari Selasa, sebagaimana dilansir New York Post, Rabu (20/2/2019), dia mengatakan bahwa pertemuan puncak di Vietnam pekan depan akan gagal jika Trump tidak dapat membuat Kim menyatakan dia akan meninggalkan semua fasilitas dan senjata nuklirnya dan mengembalikan Korut ke perjanjian non-proliferasi nuklir.
Thae bekerja di Kedutaan Besar Korea Utara di London sebelum melarikan diri ke Korea Selatan. Dia adalah diplomat Korea Utara tingkat tertinggi yang membelot ke Korea Selatan.
Sementara itu, menjelang pertemuan puncak di Vietnam orang dekat Kim Jong-un Sudah berada di negara Asia Tenggara tersebut. Kim Chang-son, kepala staf negara Korut yang oleh media Korea Selatan disebut sebagai "Kepala pelayan" Kim Jong-un terlihat memeriksa tempat-tempat pertemuan puncak yang potensial di Hanoi.
Meski Kim Chang-son menjabat sebagai kepala negara, tapi ia telah bekerja di keluarga Kim selama bertahun-tahun.
Menurut NK Leadership Watch yang dikutip BBC, ia sebelumnya adalah direktur dan sekretaris Komisi Pertahanan Nasional. Dia juga asisten kepala Kim Jong-un, dan bertanggung jawab atas jadwal dan rencana perjalanannya.
Dia terlihat mengunjungi losmen pemerintah dan hotel Metropole dan Melia, yang terletak di pusat kota. Dia juga kemungkinan akan membahas masalah protokol dan keamanan dengan rekan-rekannya dari AS.
Daniel Walsh, wakil kepala staf untuk operasi dan asisten presiden AS, dan Alex Wong, wakil asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Korea Utara, juga sudah berada di ibu kota Vietnam, Hanoi.
Selama pertemuan puncak di Singapura pada Juni tahun lalu, Kim Chang-son terlihat mencari hotel-hotel berbeda. Jadi tidak mengherankan bahwa ia telah dikirim lagi untuk melakukan hal yang sama di Hanoi. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, itu akan menjadi masalah waktu sebelum venue diumumkan.
Tidak jelas apa tepatnya yang akan menjadi agenda pertemuan jilid kedua Kim Jong-un dan Trump. Namun, para ahli menduga akan ada diskusi seputar pembongkaran fasilitas nuklir Yongbyon Korut.
Vietnam dipilih sebagai lokasi pertemuan karena unik. Negara itu memiliki hubungan diplomatik dengan AS dan Korea Utara, meskipun pernah menjadi musuh AS. Vitenam digunakan oleh AS sebagai contoh dari dua negara yang bekerja bersama dan mengesampingkan masa lalu mereka.
Mantan diplomat bernama Thae Yong Ho itu telah membelot ke Korea Selatan pada tahun 2016. Dalam sebuah konferensi pers di Seoul pada hari Selasa, sebagaimana dilansir New York Post, Rabu (20/2/2019), dia mengatakan bahwa pertemuan puncak di Vietnam pekan depan akan gagal jika Trump tidak dapat membuat Kim menyatakan dia akan meninggalkan semua fasilitas dan senjata nuklirnya dan mengembalikan Korut ke perjanjian non-proliferasi nuklir.
Thae bekerja di Kedutaan Besar Korea Utara di London sebelum melarikan diri ke Korea Selatan. Dia adalah diplomat Korea Utara tingkat tertinggi yang membelot ke Korea Selatan.
Sementara itu, menjelang pertemuan puncak di Vietnam orang dekat Kim Jong-un Sudah berada di negara Asia Tenggara tersebut. Kim Chang-son, kepala staf negara Korut yang oleh media Korea Selatan disebut sebagai "Kepala pelayan" Kim Jong-un terlihat memeriksa tempat-tempat pertemuan puncak yang potensial di Hanoi.
Meski Kim Chang-son menjabat sebagai kepala negara, tapi ia telah bekerja di keluarga Kim selama bertahun-tahun.
Menurut NK Leadership Watch yang dikutip BBC, ia sebelumnya adalah direktur dan sekretaris Komisi Pertahanan Nasional. Dia juga asisten kepala Kim Jong-un, dan bertanggung jawab atas jadwal dan rencana perjalanannya.
Dia terlihat mengunjungi losmen pemerintah dan hotel Metropole dan Melia, yang terletak di pusat kota. Dia juga kemungkinan akan membahas masalah protokol dan keamanan dengan rekan-rekannya dari AS.
Daniel Walsh, wakil kepala staf untuk operasi dan asisten presiden AS, dan Alex Wong, wakil asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Korea Utara, juga sudah berada di ibu kota Vietnam, Hanoi.
Selama pertemuan puncak di Singapura pada Juni tahun lalu, Kim Chang-son terlihat mencari hotel-hotel berbeda. Jadi tidak mengherankan bahwa ia telah dikirim lagi untuk melakukan hal yang sama di Hanoi. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, itu akan menjadi masalah waktu sebelum venue diumumkan.
Tidak jelas apa tepatnya yang akan menjadi agenda pertemuan jilid kedua Kim Jong-un dan Trump. Namun, para ahli menduga akan ada diskusi seputar pembongkaran fasilitas nuklir Yongbyon Korut.
Vietnam dipilih sebagai lokasi pertemuan karena unik. Negara itu memiliki hubungan diplomatik dengan AS dan Korea Utara, meskipun pernah menjadi musuh AS. Vitenam digunakan oleh AS sebagai contoh dari dua negara yang bekerja bersama dan mengesampingkan masa lalu mereka.
(mas)