Pemberontak Terkuat Rebut Markas Komando Militer Myanmar, Penjarakan Ratusan Tentara
Selasa, 07 Mei 2024 - 13:42 WIB
loading...
A
A
A
Pertempuran di Rakhine merupakan bagian dari konflik nasional di Myanmar yang dimulai setelah militer menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi pada Februari 2021 dan menekan protes damai yang meluas yang berupaya mengembalikan pemerintahan sipil yang demokratis.
Meskipun mempunyai keunggulan dalam persenjataan dan sumber daya manusia, militer Myanmar telah bersikap defensif sejak Oktober lalu, ketika aliansi tiga kelompok pemberontak etnis melancarkan serangan di timur laut negara tersebut.
Video yang dirilis Arakan Army diklaim dibuat pada hari Sabtu pekan lalu. Video tersebut menunjukkan para milisi Arakan Army menjaga para pria berseragam militer dan pakaian sipil, beberapa di antaranya terluka, saat mereka berjalan melewati lapangan dan menyusuri pinggir jalan ditemani oleh wanita dan anak-anak—diduga keluarga para tentara yang sering kali tinggal di pos.
Sebuah keterangan yang menyertai video tersebut mengatakan bahwa video itu menunjukkan wakil komandan dan pasukannya setelah serangan terakhir di mana mereka menghadapi kekalahan total dan menyerah.
Video itu tidak merinci jumlah total tentara yang ditangkap dan anggota keluarganya, namun dalam satu bagian dari video terlihat sekitar 300 pria duduk berbaris di lapangan terbuka.
Dalam sebuah pernyataan, Arakan Army mengatakan mereka merebut pos komando pada Kamis lalu setelah menyerangnya selama dua minggu.
Mereka mengeklaim pos militer lain direbut keesokan harinya, bersama dengan pos-pos lain yang direbut selama dua bulan terakhir.
Beberapa bagian dari video yang dirilis hari Senin menunjukkan para pemuda yang tampaknya merupakan anggota minoritas Muslim Rohingya.
Meskipun mempunyai keunggulan dalam persenjataan dan sumber daya manusia, militer Myanmar telah bersikap defensif sejak Oktober lalu, ketika aliansi tiga kelompok pemberontak etnis melancarkan serangan di timur laut negara tersebut.
Video yang dirilis Arakan Army diklaim dibuat pada hari Sabtu pekan lalu. Video tersebut menunjukkan para milisi Arakan Army menjaga para pria berseragam militer dan pakaian sipil, beberapa di antaranya terluka, saat mereka berjalan melewati lapangan dan menyusuri pinggir jalan ditemani oleh wanita dan anak-anak—diduga keluarga para tentara yang sering kali tinggal di pos.
Sebuah keterangan yang menyertai video tersebut mengatakan bahwa video itu menunjukkan wakil komandan dan pasukannya setelah serangan terakhir di mana mereka menghadapi kekalahan total dan menyerah.
Video itu tidak merinci jumlah total tentara yang ditangkap dan anggota keluarganya, namun dalam satu bagian dari video terlihat sekitar 300 pria duduk berbaris di lapangan terbuka.
Dalam sebuah pernyataan, Arakan Army mengatakan mereka merebut pos komando pada Kamis lalu setelah menyerangnya selama dua minggu.
Mereka mengeklaim pos militer lain direbut keesokan harinya, bersama dengan pos-pos lain yang direbut selama dua bulan terakhir.
Beberapa bagian dari video yang dirilis hari Senin menunjukkan para pemuda yang tampaknya merupakan anggota minoritas Muslim Rohingya.
Lihat Juga :