4 Ormas Islam Terbesar di Dunia, Adakah Representasi Indonesia?
Rabu, 13 Maret 2024 - 20:20 WIB
loading...
A
A
A
Upaya pembunuhan terhadap Abdel Nasser pada tahun 1950an menyebabkan dipenjaranya Sayed Qutb, seorang tokoh terkemuka Ikhwanul Muslimin. Tulisan-tulisannya dari penjara menganjurkan perjuangan bersenjata melawan rezim Mesir dan rezim lainnya untuk menyebarkan ideologi Ikhwanul Muslimin. Qutb dieksekusi pada tahun 1966 namun tulisannya digunakan oleh banyak kelompok Islam untuk membenarkan perjuangan bersenjata.
![4 Ormas Islam Terbesar di Dunia, Adakah Representasi Indonesia?]()
Foto/Dok SindoNews
Melansir Indonesia at Melbourne, Organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), mengklaim memiliki anggota sebanyak 40 hingga 45 juta orang, dan telah lama menduduki posisi penting dalam masyarakat dan politik Indonesia.
Salah satu pemimpin paling terkenal (dan presiden keempat Indonesia), Abdurrahman Wahid, tetap menjadi simbol pluralisme, dan dikenang karena perannya dalam perjuangan reformasi demokrasi di bawah Orde Baru.
![4 Ormas Islam Terbesar di Dunia, Adakah Representasi Indonesia?]()
Foto/Reuters
Jama’at-i Islami yang berbasis di Pakistan adalah salah satu gerakan politik Islam paling berpengaruh di Asia Selatan – dengan cabang di India dan Bangladesh – dan di kalangan Muslim Asia Selatan di seluruh dunia. Di Eropa, kelompok ini sangat kuat terutama di Inggris, dimana lebih dari dua pertiga populasi Muslim yang berjumlah sekitar 2,9 juta jiwa berasal dari Asia Selatan.
Kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Jama’at-i Islami memiliki banyak kesamaan dengan kelompok-kelompok yang memiliki ikatan dengan Ikhwanul Muslimin, dan kedua gerakan tersebut mengikuti jalur yang sama dalam hal evolusi mereka di Eropa. Manifestasi formal pertama Jama’at-i Islami di Eropa dimulai pada tahun 1960an, dengan berdirinya Misi Islam Inggris dan afiliasinya, Dawatul Islam. Kelompok-kelompok yang masih eksis hingga kini ini mengedepankan pendidikan Islam dengan penekanan khusus pada para pemikir dan perspektif Jama’at-i Islami.
Melansir Pew Research, generasi tua penganut Jama’at-i Islami di Eropa telah berpegang teguh pada landasan ideologis asli kelompok tersebut, yang menekankan perlunya membangun sistem politik Islam yang terpisah dan jelas. Namun generasi muda, khususnya yang dibesarkan di Inggris, telah mencoba untuk menjauh dari posisi yang lebih doktriner dalam kelompok tersebut, seperti yang ditemukan dalam tulisan pendiri Jama'at-i Islami, Abu Ala Mawdudi, yang bersama dengan Hassan al-Banna mengartikulasikan dasar ideologi Islamisme modern.
3. Nahdlatul Ulama (NU)

Foto/Dok SindoNews
Melansir Indonesia at Melbourne, Organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), mengklaim memiliki anggota sebanyak 40 hingga 45 juta orang, dan telah lama menduduki posisi penting dalam masyarakat dan politik Indonesia.
Salah satu pemimpin paling terkenal (dan presiden keempat Indonesia), Abdurrahman Wahid, tetap menjadi simbol pluralisme, dan dikenang karena perannya dalam perjuangan reformasi demokrasi di bawah Orde Baru.
4. Jama’at-i Islami

Foto/Reuters
Jama’at-i Islami yang berbasis di Pakistan adalah salah satu gerakan politik Islam paling berpengaruh di Asia Selatan – dengan cabang di India dan Bangladesh – dan di kalangan Muslim Asia Selatan di seluruh dunia. Di Eropa, kelompok ini sangat kuat terutama di Inggris, dimana lebih dari dua pertiga populasi Muslim yang berjumlah sekitar 2,9 juta jiwa berasal dari Asia Selatan.
Kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Jama’at-i Islami memiliki banyak kesamaan dengan kelompok-kelompok yang memiliki ikatan dengan Ikhwanul Muslimin, dan kedua gerakan tersebut mengikuti jalur yang sama dalam hal evolusi mereka di Eropa. Manifestasi formal pertama Jama’at-i Islami di Eropa dimulai pada tahun 1960an, dengan berdirinya Misi Islam Inggris dan afiliasinya, Dawatul Islam. Kelompok-kelompok yang masih eksis hingga kini ini mengedepankan pendidikan Islam dengan penekanan khusus pada para pemikir dan perspektif Jama’at-i Islami.
Melansir Pew Research, generasi tua penganut Jama’at-i Islami di Eropa telah berpegang teguh pada landasan ideologis asli kelompok tersebut, yang menekankan perlunya membangun sistem politik Islam yang terpisah dan jelas. Namun generasi muda, khususnya yang dibesarkan di Inggris, telah mencoba untuk menjauh dari posisi yang lebih doktriner dalam kelompok tersebut, seperti yang ditemukan dalam tulisan pendiri Jama'at-i Islami, Abu Ala Mawdudi, yang bersama dengan Hassan al-Banna mengartikulasikan dasar ideologi Islamisme modern.
(ahm)
Lihat Juga :