Zelensky Klaim Militernya Hentikan Kemajuan Rusia di Ukraina Timur

Selasa, 12 Maret 2024 - 09:15 WIB
loading...
Zelensky Klaim Militernya...
Presiden Volodymyr Zelensky (kiri) klaim militernya telah menghentikan kemajuan pasukan Rusia di Ukraina timur. Klaim ini muncul setelah Paus Fransiskus sarankan Ukraina kibarkan bendera putih. Foto/REUTERS
A A A
PARIS - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengeklaim bahwa situasi pasukannya membaik setelah menghentikan kemajuan yang dicapai pasukan Rusia di garis depan wilayah timur.

Klaim itu muncul ketika Kyiv menolak saran Paus Fransiskus untuk "mengibarkan bendera putih" dan bernegosiasi dengan Moskow.

Lebih dari dua tahun sejak Rusia melancarkan invasi, Kyiv menghadapi tekanan yang semakin besar di garis depan dalam beberapa bulan terakhir, kalah bersaing dengan Moskow di tengah terhambatnya bantuan Barat dari sekutu terbesarnya, Washington.

Baca Juga: Paus Fransiskus Serukan Ukraina Kibarkan Bendera Putih, Ini Respons Kyiv

Namun pada hari Senin, Zelensky mengatakan kepada stasiun televisi BFM TV: “Kemajuan Rusia telah terhenti.”

“Komando kami, militer kami telah menghentikan kemajuan Rusia di Ukraina timur,” katanya, seperti dikutip AFP, Selasa (12/3/2024).

Komentarnya menyusul kemarahan Ukraina atas saran Paus Fransiskus pada akhir pekan yang mengatakan: “Yang terkuat adalah mereka yang melihat situasi, memikirkan rakyatnya dan memiliki keberanian untuk mengibarkan bendera putih dan bernegosiasi."

Komentar Paus Fransiskus kepada stasiun televisi RTS tersebut memicu kehebohan dan mendapat kritik tajam dari negara-negara Barat pendukung Ukraina, termasuk Jerman.

Pada hari Senin, Kementerian Luar Negeri Ukraina memanggil utusan Vatikan, Visvaldas Kulbodas, untuk menyampaikan bahwa Kyiv “kecewa dengan kata-kata Paus Fransiskus."

Kementerian tersebut mengatakan kata-kata pemimpin Katolik itu mendorong Rusia untuk lebih mengabaikan hukum internasional.

Zelensky juga mengatakan bahwa pasukannya sedang dalam proses membangun benteng sepanjang lebih dari 1.000 km.

“Ketika kita berbicara tentang benteng, kita berbicara tentang proses yang sedang berlangsung,” kata Zelensky.

“Kami tidak berbicara tentang beberapa kilometer, atau ratusan kilometer, tetapi pembangunan lebih dari 1.000 km," ujarnya.

Dia menyebutnya sebagai "tugas yang rumit".

“Mereka harus kokoh dan tahan terhadap perubahan iklim, namun juga tahan terhadap perangkat keras militer apa pun yang digunakan untuk melawan garis pertahanan ini,” katanya.

Berbeda dengan seruan Paus Fransiskus, Polandia mengajukan permohonan kepada sekutu NATO untuk meningkatkan belanja pertahanan mereka sebagai tanggapan terhadap agresi Rusia.

"Saya ingin mengusulkan dalam waktu dekat...agar anggota NATO memutuskan bersama bahwa persyaratan aliansi adalah membelanjakan bukan 2 persen, tapi 3 persen PDB untuk pertahanan," kata Presiden Polandia Andrzej Duda kepada wartawan pada hari Senin.

Polandia sudah membelanjakan sekitar 4 persen.

Duda mengatakan NATO harus memberikan respons yang jelas dan berani terhadap agresi Rusia.

“Tanggapan ini berupa peningkatan kapasitas militer Aliansi Atlantik Utara,” imbuh dia.

Penundaan bantuan Barat—terutama paket penting senilai USD60 miliar dari Amerika Serikat—telah membuat pasukan Ukraina berada dalam posisi rentan, terpaksa menjatah amunisi dan tidak mampu melakukan serangan skala besar.

Meskipun demikian, Zelensky mengatakan pada hari Senin: "Saya dapat memberi Anda informasi baru ini: Situasi sekarang jauh lebih baik dibandingkan tiga bulan terakhir ini."

Mengacu pada komentar Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang bulan lalu mengatakan bahwa pengiriman pasukan NATO ke Ukraina tidak menutup kemungkinan, Zelensky mengatakan: "Selama Ukraina bertahan, tentara Prancis dapat tetap berada di wilayah Prancis."

Ketika ketegangan masih tinggi mengenai bantuan ke Kyiv, Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban mengatakan bahwa mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepadanya dalam pertemuan bahwa dia tidak akan memberikan satu sen pun untuk perang di Ukraina.

Orban—satu-satunya pemimpin Uni Eropa yang mempertahankan hubungan dengan Kremlin sejak Rusia menginvasi Ukraina—melakukan perjalanan ke Florida pada hari Jumat untuk bertemu Trump yang dia sebut “teman baiknya”. Dia sering menyatakan harapannya agar Partai Republik kembali berkuasa di AS.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Malaysia Tuntut Kompensasi...
Malaysia Tuntut Kompensasi Rp4,6 Triliun setelah Batal Dapatkan Rudal Canggih NSM Norwegia
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Kerja Sama Yunani-China...
Kerja Sama Yunani-China Diperdebatkan, Legislator Tolak Status 'Mitra Lemah'
Negara NATO Ini Bakal...
Negara NATO Ini Bakal Melarang Kumandang Azan
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Sengaja Targetkan Anak-Anak...
Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina, Penyelidik PBB Nyatakan Israel Lakukan Genosida di Gaza
Nah, Menteri Israel...
Nah, Menteri Israel Ini Sebut Perdamaian AS-Iran Tak Tahan Lama
Rekomendasi
PLN EPI Dorong Zero...
PLN EPI Dorong Zero Waste lewat Pengelolaan Sampah Terpilah dan Daur Ulang
UATAS dan AFPI Ajak...
UATAS dan AFPI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
Berita Terkini
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved