Dokumen Peretasan Bocor, China Dituding Intai Banyak Negara termasuk Indonesia

Jum'at, 23 Februari 2024 - 16:01 WIB
loading...
A A A
Baca juga: Israel Akui Terisolasi seperti Korea Utara karena Perang Gaza

Meskipun beberapa catatan obrolan merujuk ke NATO, tidak ada indikasi keberhasilan peretasan di negara NATO mana pun, berdasarkan tinjauan awal data yang dilakukan oleh AP.

Namun hal ini tidak berarti bahwa peretas China yang didukung negara tidak mencoba meretas Amerika Serikat dan sekutunya.

Jika pembocor informasi tersebut berada di China, dan hal ini mungkin terjadi, Cary mengatakan, “membocorkan informasi mengenai peretasan NATO akan sangat, sangat menghasut”, risiko yang cenderung membuat pihak berwenang China lebih bertekad mengidentifikasi peretas tersebut.

Mathieu Tartare, peneliti malware di perusahaan keamanan siber ESET, mengatakan pihaknya telah menghubungkan I-Soon dengan kelompok peretas negara China yang mereka sebut Fishmonger yang secara aktif dilacak dan ditulis pada Januari 2020 setelah kelompok tersebut meretas universitas-universitas Hong Kong selama protes mahasiswa.

Dia mengatakan, sejak tahun 2022, Fishmonger telah menargetkan pemerintah, LSM, dan lembaga think tank di Asia, Eropa, Amerika Tengah, dan Amerika Serikat.

Peneliti keamanan siber Perancis Baptiste Robert juga memeriksa dokumen-dokumen tersebut dan mengatakan sepertinya I-Soon telah menemukan cara untuk meretas akun di X, meskipun akun tersebut memiliki otentikasi dua faktor, serta satu lagi untuk menganalisis kotak masuk email.

Dia mengatakan operator siber AS dan sekutunya termasuk di antara tersangka potensial dalam kebocoran I-Soon karena mereka berkepentingan mengungkap peretasan yang dilakukan negara China.

Juru bicara Komando Siber AS tidak mau berkomentar apakah Badan Keamanan Nasional atau Cybercom terlibat dalam kebocoran tersebut. Satu email ke kantor pers di X menjawab, “Sibuk sekarang, silakan periksa lagi nanti.”

Pemerintah negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, telah mengambil langkah-langkah untuk memblokir pengawasan negara China dan pelecehan terhadap kritikus pemerintah di luar negeri dalam beberapa tahun terakhir.

Laura Harth, direktur kampanye di Safeguard Defenders, kelompok advokasi yang berfokus pada hak asasi manusia di China, mengatakan taktik semacam itu menimbulkan ketakutan terhadap pemerintah China pada warga China dan warga negara asing di luar negeri, membungkam kritik dan mengarah pada sensor mandiri.

“Mereka adalah ancaman yang terus-menerus ada dan sangat sulit dihilangkan,” ujar dia.

Tahun lalu, para pejabat AS mendakwa 40 anggota unit polisi China yang ditugaskan untuk melecehkan anggota keluarga pembangkang China di luar negeri serta menyebarkan konten pro-Beijing secara online.

“Dakwaan tersebut menggambarkan taktik serupa dengan yang dirinci dalam dokumen I-Soon,” papar Harth.

Para pejabat China menuduh Amerika Serikat melakukan aktivitas serupa. Pejabat AS termasuk Direktur FBI Chris Wray baru-baru ini mengeluhkan peretas negara China yang menanam malware yang dapat digunakan untuk merusak infrastruktur sipil.

Pada Senin, Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, mengatakan pemerintah AS telah lama berupaya mengkompromikan infrastruktur penting China.

Dia menuntut AS “berhenti menggunakan masalah keamanan siber untuk mencoreng negara lain.”
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
China Ungguli AS dalam...
China Ungguli AS dalam Popularitas Global, Xi Jinping Dianggap Lebih Positif daripada Trump
Trump Tuduh China Ikut...
Trump Tuduh China Ikut Campur Pemilu AS: Kompromi Data Terbesar dalam Sejarah!
China Investasikan Rp900...
China Investasikan Rp900 Triliun untuk Pelabuhan Afrika, Analis Soroti Risiko Utang
Media China Gambarkan...
Media China Gambarkan Orang Filipina sebagai Monyet, Manila Marah
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
Ramalan Juni Indonesia...
Ramalan Juni Indonesia Kolaps, Prabowo: Ini Udah Juli!
Serangan AS Masuki Hari...
Serangan AS Masuki Hari Kelima, Iran Terus Hantam Pangkalan Militer di Teluk
Trump Tuduh China Pegang...
Trump Tuduh China Pegang 220 Juta Data Pemilih AS, Sebut Skandal Terbesar dalam Sejarah
Rekomendasi
Cita-cita Prabowo 14...
Cita-cita Prabowo 14 Tahun Lalu: Ingin Rakyat Indonesia Punya Taraf Hidup Tak Kalah dari Singapura
Ada Konser Akbar di...
Ada Konser Akbar di Monas, Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos dalam Sepekan saat IHSG Melejit 4,42 Persen
Berita Terkini
Setelah 4 Bulan Tenang...
Setelah 4 Bulan Tenang dan Nyaman, Arab Saudi Kembali Dibombardir Iran
Iran Peringatkan Negara-negara...
Iran Peringatkan Negara-negara Penampung Pasukan AS Bersiap Hadapi Respons Setara
Tentara AS Terluka dalam...
Tentara AS Terluka dalam Serangan Iran di Yordania, Pentagon Belum Mengakui
Memanas, Iran Ancam...
Memanas, Iran Ancam Minta Houthi Blokir Selat Bab al-Mandeb, Perdagangan Global Kian Tercekik
Drone Israel Serang...
Drone Israel Serang Acara Pemakaman di Gaza Tengah, 8 Orang Tewas, 20 Warga Terluka
Iran Hancurkan Depot...
Iran Hancurkan Depot Drone AS dan Pusat Kecerdasan Buatan di Bahrain
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved