Netanyahu: Tidak Menginvasi Rafah Berarti Israel Kalah Perang

Senin, 12 Februari 2024 - 07:44 WIB
loading...
Netanyahu: Tidak Menginvasi...
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyimpulkan bahwa tidak menginvasi Rafah berarti Israel kalah perang. Foto/REUTERS
A A A
TEL AVIV - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan seruan untuk tidak menginvasi Rafah di Jalur Gaza selatan berarti seruan agar Israel kalah perang.

Komentarnya muncul bersamaan dengan pernyataan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant yang menyatakan bahwa memperdalam operasi militer di Gaza akan membawa Israel lebih dekat pada apa yang dia gambarkan sebagai "perjanjian realistis" untuk pertukaran tahanan dengan kelompok perlawanan Palestina.

Dalam sebuah wawancara dengan ABC, yang dilansir Senin (12/2/2024), Netanyahu berkata: “Mereka yang mengatakan bahwa kita tidak boleh memasuki Rafah dalam keadaan apa pun pada dasarnya mengatakan bahwa kita kalah perang. Pertahankan Hamas di sana.”

Baca Juga: Mesir Ancam Israel Jika Nekat Luncurkan Invasi Darat ke Rafah

Dia membenarkan bahwa niat tentara Israel untuk memasuki Rafah masih ada, dengan mengeklaim bahwa tentaranya akan mencapai batalion terakhir Hamas di kota tersebut--yang dia anggap sebagai benteng terakhir pejuang Palestina di Gaza.

Netanyahu telah membuat klaim serupa mengenai kota-kota dan wilayah Palestina lainnya di masa lalu, awalnya mengeklaim bahwa benteng Hamas berada di Gaza utara, dan khususnya di terowongan di bawah Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza.

Kemudian, dia mengeklaim bahwa kota selatan Khan Younis adalah “ibu kota Hamas", sebelum mengalihkan fokus ke Rafah--yang telah dibom berulang kali sejak awal perang, namun tidak diserang melalui invasi darat.

Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Netanyahu mengatakan satu-satunya cara Israel bisa membebaskan para sanderanya di Gaza adalah dengan mengalahkan Hamas.

Meskipun dilaporkan ada lebih dari 100 sandera asal Israel di Gaza, kebanyakan dari mereka adalah pria dan wanita petugas militer, Israel menahan 9.000 tahanan politik Palestina.

Mengomentari masalah yang sama, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant juga mengatakan bahwa semakin dalamnya operasi militer di Jalur Gaza, Tel Aviv semakin dekat dengan kesepakatan realistis untuk memulangkan para sandera dari Gaza.

Hal itu disampaikan dalam pidato Gallant yang disiarkan oleh KAN. Dalam siaran itu, di belakang Gallant terdapat roket dan senjata lain yang diduga milik kelompok perlawanan Palestina.

Sementara itu, stasiun televisi Al-Aqsa yang berafiliasi dengan Hamas mengutip seorang pejabat Hamas yang mengatakan bahwa setiap serangan di kota Rafah menyebabkan gagalnya perundingan pertukaran tahanan.

Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat dilaporkan melakukan upaya untuk mencapai perjanjian pertukaran tawanan yang baru, namun terdapat perbedaan mengenai syarat-syarat perjanjian tersebut--terutama terkait dengan syarat Hamas untuk mengakhiri perang secara permanen.

Israel ingin membebaskan tahanannya dan melanjutkan perang genosida di Jalur Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, 28.176 warga Palestina telah terbunuh, dan 67.784 terluka dalam genosida Israel yang sedang berlangsung di Gaza mulai 7 Oktober 2023.

Selain itu, setidaknya 8.000 orang masih belum ditemukan, diperkirakan tewas di bawah reruntuhan rumah mereka di seluruh Jalur Gaza.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
Trump Bilang Israel...
Trump Bilang Israel Tak Berhak Kritik Deal AS-Iran karena Dulu Ogah Bunuh Jenderal Soleimani
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Swiss Gelar Referendum...
Swiss Gelar Referendum untuk Batasi Populasi hingga 10 Juta Jiwa
Trump Ingin Buru-Buru...
Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran, Tak Menunggu 19 Juni
Rekomendasi
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Monitoring Konsumsi...
Monitoring Konsumsi Listrik Kini Jadi Langkah Awal Efisiensi Energi
Dianggap Mampu, 76 Sekolah...
Dianggap Mampu, 76 Sekolah di Pulau Jawa Dicoret dari Daftar Penerima MBG
Berita Terkini
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Trump Bilang Israel...
Trump Bilang Israel Tak Berhak Kritik Deal AS-Iran karena Dulu Ogah Bunuh Jenderal Soleimani
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved