Presiden Lebanon: Penyelidikan Internasional Soal Ledakan Beirut Buang-buang Waktu
Senin, 10 Agustus 2020 - 13:30 WIB
loading...
Presiden Lebanon, Michel Aoun mengatakan, penyelidikan internasional atas ledakan pelabuhan Beirut adalah tindakan buang-buang waktu. Foto/REUTERS
A
A
A
BEIRUT - Presiden Lebanon , Michel Aoun mengatakan, penyelidikan internasional atas ledakan pelabuhan Beirut adalah tindakan buang-buang waktu. Ledakan yang menciptakan kawah sedalam 43 meter itu menewaskan hampir 200 orang.
“Tujuan dari seruan untuk penyelidikan internasional dalam kasus pelabuhan adalah untuk membuang waktu. Pengadilan harus bergerak cepat untuk mengidentifikasi pelaku," kata Aoun, seperti dilansir Al Arabiya pada Senin (10/8/2020).
( Baca juga: Pakar Militer: Beirut Lenyap Jika Benar 2.750 Ton Amonium Nitrat Meledak )
Sementara itu, pakar militer Rusia, Viktor Murakhovsky mengatakan jumlah amonium nitrat yang menyebabkan ledakan mematikan di Beirut pasti jauh lebih sedikit dari persediaan aslinya. Jika seluruhnya meledak, Ibu Kota Lebanon itu benar-benar akan "terhapus dari peta" atau lenyap.
Murakhovsky menduga sebagian besar dari muatan amonium nitrat sitaan yang disimpan di sebuah gudang di Pelabuhan Beirut telah dicuri sebelumnya. Bahan kimia itu disita tahun 2013 dari kapal MV Rhosus milik pengusaha Rusia.
“Tujuan dari seruan untuk penyelidikan internasional dalam kasus pelabuhan adalah untuk membuang waktu. Pengadilan harus bergerak cepat untuk mengidentifikasi pelaku," kata Aoun, seperti dilansir Al Arabiya pada Senin (10/8/2020).
( Baca juga: Pakar Militer: Beirut Lenyap Jika Benar 2.750 Ton Amonium Nitrat Meledak )
Sementara itu, pakar militer Rusia, Viktor Murakhovsky mengatakan jumlah amonium nitrat yang menyebabkan ledakan mematikan di Beirut pasti jauh lebih sedikit dari persediaan aslinya. Jika seluruhnya meledak, Ibu Kota Lebanon itu benar-benar akan "terhapus dari peta" atau lenyap.
Murakhovsky menduga sebagian besar dari muatan amonium nitrat sitaan yang disimpan di sebuah gudang di Pelabuhan Beirut telah dicuri sebelumnya. Bahan kimia itu disita tahun 2013 dari kapal MV Rhosus milik pengusaha Rusia.
Lihat Juga :