NILI, Unit Rahasia Bentukan Shin Bet dan Mossad untuk Lacak Pentolan Hamas
Selasa, 31 Oktober 2023 - 08:27 WIB
loading...
A
A
A
“Mereka akan memiliki dua misi utama,” katanya. “Pertama, mencoba menemukan sandera Israel dan, jika mungkin, membebaskan mereka. Kedua, mencoba menemukan teroris Hamas yang membunuh warga Israel pada 7 Oktober dan membunuh mereka.”
Sasaran paling jelas dari para pembunuh warga Israel adalah anggota pasukan Nukhba, korps pejuang elite Brigade Izz ad-Din al-Qassam, kelompok sayap bersenjata Hamas. Pasukan komando Hamas ini diduga sebagai pelaku serangan 7 Oktober.
Otak di balik serangan itu juga ada dalam daftar. Pemimpin Brigade al-Qassam yang sulit ditangkap, Mohammed Deif, dan orang nomor 2 Hamas; Marwan Issa serta pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, semuanya diduga bersembunyi di daerah kantong Palestina tersebut.
Keterlibatan Mossad juga memberikan petunjuk mengenai operasi NILI. Ini berarti pembunuhan tidak hanya terjadi di Jalur Gaza, kata Bregman.
“Fakta bahwa kelompok tersebut termasuk Mossad berarti bahwa Israel juga akan mengejar anggota Hamas yang tidak berada di Jalur Gaza, tetapi juga tinggal di negara-negara seperti Qatar dan Turki,” katanya.
“Saya mengacu pada orang-orang seperti Khaled Meshaal (mantan pemimpin Hamas yang berpengaruh) dan Ismail Haniyeh (ketua biro politik Hamas) yang, saya cukup yakin, akan mengawasi mereka dan untuk alasan yang baik,” imbuh Bregman.
Daftar targetnya kemungkinan akan bertambah seiring dengan berlanjutnya operasi NILI.
“Anggota NILI akan menyusun daftar individu yang akan dijadikan sasaran seiring berjalannya waktu, dan daftar tersebut harus divalidasi di tingkat tertinggi pemerintahan,” jelas Modarres.
"Tapi tidak setinggi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sendiri, sehingga dia bisa mengaku tidak mengetahuinya," ujarnya.
Menurut Bregman, jarak tertentu harus dijaga antara pejabat terpilih dan badan intelijen, karena operasi semacam ini bisa sangat berisiko bagi pemerintah.
“Mossad harus bertindak hati-hati. Terakhir kali mereka mencoba membunuh Khaled [Meshaal] di Amman [pada tahun 1997], mereka gagal, dan kombatan mereka ditangkap oleh pihak Yordania. Hal ini kemudian menyebabkan krisis yang mengerikan dengan Yordania dan Netanyahu," ujarnya.
Tel Aviv kemudian harus setuju untuk membebaskan tahanan, termasuk pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Ismail Hassan Yassin.
Yassin dibunuh oleh tentara Israel di Jalur Gaza tujuh tahun kemudian.
Target NILI
Sasaran paling jelas dari para pembunuh warga Israel adalah anggota pasukan Nukhba, korps pejuang elite Brigade Izz ad-Din al-Qassam, kelompok sayap bersenjata Hamas. Pasukan komando Hamas ini diduga sebagai pelaku serangan 7 Oktober.
Otak di balik serangan itu juga ada dalam daftar. Pemimpin Brigade al-Qassam yang sulit ditangkap, Mohammed Deif, dan orang nomor 2 Hamas; Marwan Issa serta pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, semuanya diduga bersembunyi di daerah kantong Palestina tersebut.
Keterlibatan Mossad juga memberikan petunjuk mengenai operasi NILI. Ini berarti pembunuhan tidak hanya terjadi di Jalur Gaza, kata Bregman.
“Fakta bahwa kelompok tersebut termasuk Mossad berarti bahwa Israel juga akan mengejar anggota Hamas yang tidak berada di Jalur Gaza, tetapi juga tinggal di negara-negara seperti Qatar dan Turki,” katanya.
“Saya mengacu pada orang-orang seperti Khaled Meshaal (mantan pemimpin Hamas yang berpengaruh) dan Ismail Haniyeh (ketua biro politik Hamas) yang, saya cukup yakin, akan mengawasi mereka dan untuk alasan yang baik,” imbuh Bregman.
Daftar targetnya kemungkinan akan bertambah seiring dengan berlanjutnya operasi NILI.
“Anggota NILI akan menyusun daftar individu yang akan dijadikan sasaran seiring berjalannya waktu, dan daftar tersebut harus divalidasi di tingkat tertinggi pemerintahan,” jelas Modarres.
"Tapi tidak setinggi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sendiri, sehingga dia bisa mengaku tidak mengetahuinya," ujarnya.
Menurut Bregman, jarak tertentu harus dijaga antara pejabat terpilih dan badan intelijen, karena operasi semacam ini bisa sangat berisiko bagi pemerintah.
“Mossad harus bertindak hati-hati. Terakhir kali mereka mencoba membunuh Khaled [Meshaal] di Amman [pada tahun 1997], mereka gagal, dan kombatan mereka ditangkap oleh pihak Yordania. Hal ini kemudian menyebabkan krisis yang mengerikan dengan Yordania dan Netanyahu," ujarnya.
Tel Aviv kemudian harus setuju untuk membebaskan tahanan, termasuk pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Ismail Hassan Yassin.
Yassin dibunuh oleh tentara Israel di Jalur Gaza tujuh tahun kemudian.
(mas)
Lihat Juga :