PBB Duga Korut Kembangkan Hulu Ledak Nuklir untuk Rudal Balistiknya

Selasa, 04 Agustus 2020 - 08:07 WIB
loading...
PBB Duga Korut Kembangkan...
Senjata Korea Utara saat dipamerkan dalam parade militer. Foto/REUTERS/Damir Sagolj
A A A
NEW YORK CITY - Sebuah laporan PBB mengatakan Korea Utara (Korut) terus mengembangkan program senjata nuklirnya. Negara yang dipimpin Kim Jong-un itu juga diduga sudah mengembangkan miniatur nuklir yang cocok sebagai hulu ledak rudal balistiknya.

Laporan disusun oleh para ahli independen yang memantau sanksi-sanksi PBB terhadap negara komunis di semenanjung Korea tersebut. Menurut laporan itu, beberapa negara percaya enam uji coba senjata nuklir Korea Utara kemungkinan telah membantunya mengembangkan perangkat miniatur nuklir.

Pyongyang belum melakukan uji coba senjata nuklir sejak September 2017. Laporan itu telah disampaikan kepada 15 anggota komite sanksi Korea Utara Dewan Keamanan PBB pada hari Senin.

"Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) sedang melanjutkan program nuklirnya, termasuk produksi uranium yang sangat diperkaya dan pembangunan reaktor air ringan eksperimental. Negara anggota menilai bahwa Republik Rakyat Demokratik Korea sedang melanjutkan produksi senjata nuklir," bunyi laporan tersebut yang dikutip Reuters, Selasa (4/8/2020).

DPRK adalah nama resmi Korea Utara. Misi Korea Utara untuk PBB di New York belum bersedia menanggapi permintaan komentar atas laporan tersebut. (Baca: Kim Jong-un: Berkat Senjata Nuklir, Korut Tak Akan Diperangi Musuh )

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengatakan pada pekan lalu bahwa tidak akan ada perang lagi karena senjata nuklir negaranya sudah menjamin keselamatan dan masa depannya meskipun ada tekanan dan ancaman militer dari luar.

Laporan PBB mengatakan satu negara, yang tidak diidentifikasi, menilai bahwa Korea Utara kemungkinan berusaha untuk mengembangkan miniatur untuk memungkinkan penggabungan peningkatan teknologi seperti paket bantuan penetrasi atau berpotensi untuk mengembangkan beberapa sistem hulu ledak.

Korea Utara telah dikenai sanksi PBB sejak 2006 atas program nuklir dan rudal balistiknya. Dewan Keamanan PBB juga terus memperkuat sanksi dalam upaya untuk memotong pendanaan program-program tersebut.

Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah bertemu tiga kali sejak 2018, tetapi gagal membuat kemajuan atas permintaan AS agar Pyongyang menyerahkan senjata nuklirnya . Korut sendiri menuntut sanksi dicabut.

Pada Mei 2018, Korea Utara menindaklanjuti janji untuk meledakkan terowongan di lokasi uji coba nuklir utamanya, Punggye-ri, yang menurut Pyongyang adalah bukti komitmennya untuk mengakhiri pengujian nuklir. Tetapi mereka tidak mengizinkan para ahli untuk menyaksikan pembongkaran situs tersebut. (Baca juga: Kim Jong-un Bagi-bagi Pistol ke Petinggi Militer lalu Berpose Serius )

Laporan PBB mengatakan bahwa karena hanya pintu masuk terowongan yang diketahui telah dihancurkan dan tidak ada indikasi pembongkaran yang komprehensif, satu negara dalam laporan itu telah menilai bahwa Korea Utara dapat membangun kembali dan menginstal ulang infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung uji coba nuklir dalam waktu tiga bulan.

PBB juga mengatakan Korea Utara melanggar sanksi, termasuk melalui ekspor batubara maritim ilegal, meskipun mereka menangguhkan sementara antara akhir Januari hingga awal Maret 2020 karena pandemi virus corona baru.

Tahun lalu, para ahli PBB mengatakan Korea Utara telah menghasilkan sekitar USD2 miliar dengan menggunakan serangan siber yang luas dan canggih untuk mencuri dari bank dan pertukaran mata uang crypto.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Balas Dendam Israel!...
Balas Dendam Israel! Iran Dibombardir Rudal Balistik Pasca Ketegangan
Negosiator Iran dan...
Negosiator Iran dan AS Bertemu di Jenewa untuk Babak Baru Pembicaraan Demi Akhiri Perang
Tok! Senat AS Sahkan...
Tok! Senat AS Sahkan Resolusi Hentikan Perang Lawan Iran
Rekomendasi
Status Pasar Modal RI...
Status Pasar Modal RI Tetap Emerging Market, Kekhawatiran Investor Hilang?
Kapolri Diminta Transformasi...
Kapolri Diminta Transformasi Kultur Internal Bhayangkara
IHSG Dibuka Melemah...
IHSG Dibuka Melemah ke Level 5.873, Asing Net Sell Rp1,17 Triliun
Berita Terkini
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Venezuela Diguncang...
Venezuela Diguncang Gempa M7,2 Berturut-turut, Korban Tewas Diperkirakan Ribuan Orang
Infografis
3 Taktik Cerdas Iran...
3 Taktik Cerdas Iran untuk Kalahkan AS-Israel, Salah Satunya Perang Ala Vietnam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved