Mengapa Bendungan Sungai Nil yang Dibangun Ethiopia Bisa Memicu Perang Baru dengan Mesir?

Rabu, 13 September 2023 - 05:45 WIB
loading...
Mengapa Bendungan Sungai...
Bendungan Ethiopia bisa menjadi pemicu konflik dengan Mesir. Foto/Reuters
A A A
KAIRO - Ethiopia telah mengkonfirmasi bahwa mereka telah selesai mengisi waduk di bendungan raksasa barunya, yang menggunakan air dari Sungai Nil. Bendungan Renaisans Besar Ethiopia (Gerd) bisa menjadi pemicu perang antara Ethiopia dengan Mesir.

Maklum, Sungai Nil dianggap sebagai sumber kehidupan rakyat Mesir. Ketika pasokan air Sungai Nil berkurang karena bendungan tersebut, maka Mesir akan sangat marah.

Berikut adalah 4 alasan kenapa bendungan Ethiopia bisa memicu perang baru di Afrika.

1. Seluas Kota London

Mengapa Bendungan Sungai Nil yang Dibangun Ethiopia Bisa Memicu Perang Baru dengan Mesir?

Foto/Reuters

Bendungan Renaisans Besar Ethiopia (Gerd) berada di anak sungai Nil Biru di dataran tinggi Etiopia utara, tempat 85% air Sungai Nil mengalir.

Gerd terletak 19 mil (30 km) selatan perbatasan dengan Sudan dan merupakan proyek bendungan pembangkit listrik tenaga air terbesar di Afrika. Panjangnya lebih dari satu mil dan tinggi 145m.

Memang belum rampung, tapi pembangunannya sudah memakan waktu 12 tahun.

Waduk di belakang bendungan senilai USD4,2 miliar ini memiliki luas permukaan sebesar London Raya.

Baca Juga: 5 Pertimbangan BRICS Menerima Anggota Baru Argentina, Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi dan UEA

2. Menjadi Sumber Listrik Bagi Ethiopia

Mengapa Bendungan Sungai Nil yang Dibangun Ethiopia Bisa Memicu Perang Baru dengan Mesir?

Foto/Reuters

Ethiopia ingin bendungan itu dapat menghasilkan listrik bagi 60% penduduknya yang saat ini tidak mempunyai pasokan listrik.

Diharapkan hal ini pada akhirnya akan melipatgandakan produksi listrik Ethiopia, menyediakan pasokan listrik yang konstan bagi dunia usaha dan meningkatkan pembangunan.

Proyek ini juga dapat menyediakan listrik untuk negara-negara tetangga termasuk Sudan, Sudan Selatan, Kenya, Djibouti dan Eritrea.

3. Mesir Khawatir Bendungan Akan Mengurangi Debit Air Sungai Nil

Mengapa Bendungan Sungai Nil yang Dibangun Ethiopia Bisa Memicu Perang Baru dengan Mesir?

Foto/Reuters

Mesir, dengan populasi sekitar 107 juta orang, bergantung pada Sungai Nil untuk hampir seluruh air tawarnya.

Dibutuhkan untuk rumah tangga dan pertanian - terutama untuk menanam kapas, yang membutuhkan banyak air.

Air Nil juga digunakan untuk mengisi Danau Nasser, reservoir pembangkit listrik tenaga air milik Mesir, Bendungan Tinggi Aswan.

Sudan, dengan populasi 48 juta jiwa, juga sangat bergantung pada air dari Sungai Nil.

Kedua negara mempertanyakan apakah Ethiopia akan membiarkan cukup air mengalir ke wilayah mereka di masa depan.

“Langkah-langkah sepihak Ethiopia dianggap mengabaikan kepentingan dan hak negara-negara hilir dan keamanan air mereka,” kata Kementerian Luar Negeri Mesir.

Mereka berpendapat bahwa pengurangan air Sungai Nil sebesar 2% dapat mengakibatkan hilangnya 200.000 hektar lahan irigasi.

Rendahnya permukaan sungai juga dapat mempengaruhi transportasi di Sungai Nil.

“Kekhawatiran utama Mesir adalah operasi Gerd dalam jangka panjang setelah tahap pengisian awal,” kata Mohammed Basheer, dari Universitas Toronto, dilansir BBC.

“Tidak ada kesepakatan mengenai bagaimana Gerd harus dikelola selama dan setelah periode kekeringan. Ethiopia mungkin akan mengadopsi pendekatan yang memaksimalkan pembangkitan listrik setelah kekeringan, yang akan berdampak buruk bagi Mesir.”

Ethiopia mengisi bendungan tersebut dalam jangka waktu tiga tahun, menolak argumen Mesir yang mengatakan bahwa hal tersebut harus memakan waktu 12 hingga 21 tahun sebagai hal yang tidak dapat diterima.

Meskipun Sudan terkena dampak ketinggian air di Sungai Nil seperti halnya Mesir, respons negara tersebut terhadap bendungan dibatasi oleh konflik di negara tersebut.

4. Memicu Konflik sejak 2011

Mengapa Bendungan Sungai Nil yang Dibangun Ethiopia Bisa Memicu Perang Baru dengan Mesir?

Foto/Reuters

Bendungan tersebut telah menjadi sumber perselisihan antar negara sejak pembangunannya dimulai pada tahun 2011.

Sebuah perjanjian tahun 1929 (serta perjanjian lain tahun 1959) memberi Mesir dan Sudan hak atas hampir seluruh perairan Sungai Nil.

Hal ini juga memberi mereka hak untuk memveto proyek-proyek yang dilakukan oleh negara-negara hulu (seperti Ethiopia) yang akan menghilangkan bagian mereka atas air.

Ethiopia mengatakan pihaknya tidak boleh terikat oleh perjanjian lama ini, dan memutuskan untuk mulai membangun bendungan selama Musim Semi Arab, ketika terjadi kekacauan politik di Mesir.

Mesir, Sudan dan Ethiopia menandatangani perjanjian baru pada tahun 2015, namun pembicaraan mengenai bagaimana Ethiopia menggunakan air Nil untuk mengisi bendungan berulang kali gagal.

Pada tahun 2019, International Crisis Group – sebuah organisasi yang bekerja untuk mencegah perang – memperingatkan bahwa konflik bersenjata mungkin terjadi.

AS melakukan intervensi pada tahun 2019, untuk mencoba mencapai kesepakatan antara Mesir dan Ethiopia, tetapi tidak berhasil.

Pembicaraan baru dimulai kembali tiga minggu sebelum Ethiopia mengumumkan telah selesai mengisi bendungan tersebut.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Siapa Pihak yang Berpotensi...
Siapa Pihak yang Berpotensi Menggagalkan Kesepakatan Perdamaian Iran dan AS?
Posisi Iran Jadi Pemenang,...
Posisi Iran Jadi Pemenang, Israel Tetap Berstatus Pecundang
Kesepakatan Damai AS...
Kesepakatan Damai AS dan Iran Simbol Kekalahan Fatal PM Netanyahu, Ini 3 Alasannya
Permainan Lincah Pakistan...
Permainan Lincah Pakistan dalam Mendamaikan AS dan Iran, Ini 4 Rahasianya
4 Keuntungan Besar Iran...
4 Keuntungan Besar Iran dalam Perjanjian Damai dengan AS, dari Kompensasi hingga Program Nuklir
Presiden Iran Klaim...
Presiden Iran Klaim Teheran Keluar sebagai Pemenang, Ini Alasan Utamanya
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Pembom B-52 Stratofortress...
Pembom B-52 Stratofortress AS Jatuh di Pangkalan Gurun Mojave, Tewaskan 8 Orang
Spesifikasi Pesawat...
Spesifikasi Pesawat Pengebom B-52 AS yang Jatuh Tak Berbekas, Dijuluki Bongsor Jelek dan Gendut
Rekomendasi
Wali Kota Agustina Tegaskan...
Wali Kota Agustina Tegaskan Kerukunan Jadi Kekuatan Utama Membangun Kota Semarang
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Gunung Merapi Erupsi,...
Gunung Merapi Erupsi, Guguran Lava Meluncur 2 Kilometer ke Arah Barat
Berita Terkini
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
7 Fakta Unik Cape Verde,...
7 Fakta Unik Cape Verde, Negara Kecil yang Bikin Spanyol Frustrasi di Piala Dunia 2026
Infografis
Siap Hadapi Perang Baru...
Siap Hadapi Perang Baru dengan Israel, Iran Pamer Kota Rudal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved