Taliban Rayakan Dua Tahun Kembali Berkuasa di Afghanistan
Selasa, 15 Agustus 2023 - 16:33 WIB
loading...
A
A
A
Bagi banyak wanita, yang menikmati hak dan kebebasan yang luas selama dua dekade pemerintahan oleh pemerintah yang didukung Barat, penderitaan mereka menjadi mengerikan sejak kembalinya Taliban.
"Sudah dua tahun sejak Taliban mengambil alih Afghanistan. Dua tahun yang membalikkan kehidupan perempuan dan anak perempuan Afghanistan, hak dan masa depan mereka," kata Amina Mohammed, wakil sekretaris jenderal PBB, dalam sebuah pernyataan.
Taliban sendiri tidak menyinggung masalah pendidikan bagi perempuan yang diperdebatkan dalam pernyataannya.
Anak perempuan di atas usia 12 tahun sebagian besar dikeluarkan dari kelas sejak Taliban kembali berkuasa. Bagi banyak pemerintah Barat, larangan tersebut merupakan hambatan utama bagi harapan pengakuan resmi pemerintahan Taliban.
Taliban, yang mengatakan bahwa mereka menghormati hak-hak sesuai dengan interpretasi mereka terhadap hukum Islam, juga telah menghentikan sebagian besar staf perempuan Afghanistan untuk bekerja di lembaga bantuan, menutup salon kecantikan, melarang perempuan memasuki taman dan membatasi perjalanan bagi perempuan tanpa adanya wali laki-laki.
Jurnalisme, yang juga berkembang dalam dua dekade pemerintahan oleh pemerintah yang didukung Barat, telah ditekan secara signifikan.
Baca Juga: Taliban Afghanistan Serukan Pelarangan Dasi, Dianggap Simbol Salib Kristen
Penahanan pekerja media dan aktivis masyarakat sipil, termasuk advokat pendidikan terkemuka Matiullah Wesa, telah meningkatkan kewaspadaan kelompok hak asasi manusia.
"Sudah dua tahun sejak Taliban mengambil alih Afghanistan. Dua tahun yang membalikkan kehidupan perempuan dan anak perempuan Afghanistan, hak dan masa depan mereka," kata Amina Mohammed, wakil sekretaris jenderal PBB, dalam sebuah pernyataan.
Taliban sendiri tidak menyinggung masalah pendidikan bagi perempuan yang diperdebatkan dalam pernyataannya.
Anak perempuan di atas usia 12 tahun sebagian besar dikeluarkan dari kelas sejak Taliban kembali berkuasa. Bagi banyak pemerintah Barat, larangan tersebut merupakan hambatan utama bagi harapan pengakuan resmi pemerintahan Taliban.
Taliban, yang mengatakan bahwa mereka menghormati hak-hak sesuai dengan interpretasi mereka terhadap hukum Islam, juga telah menghentikan sebagian besar staf perempuan Afghanistan untuk bekerja di lembaga bantuan, menutup salon kecantikan, melarang perempuan memasuki taman dan membatasi perjalanan bagi perempuan tanpa adanya wali laki-laki.
Jurnalisme, yang juga berkembang dalam dua dekade pemerintahan oleh pemerintah yang didukung Barat, telah ditekan secara signifikan.
Baca Juga: Taliban Afghanistan Serukan Pelarangan Dasi, Dianggap Simbol Salib Kristen
Penahanan pekerja media dan aktivis masyarakat sipil, termasuk advokat pendidikan terkemuka Matiullah Wesa, telah meningkatkan kewaspadaan kelompok hak asasi manusia.
Lihat Juga :